berita masjid masjid raya masjid unik masjid bersejarah surau ceramah profil

Jumat, 19 Agustus 2011

Bayadho, Imam Muda Pencari Bibit Qori Andal



Gaya imam dalam memimpin shalat, ternyata berpengaruh terhadap suasana hati dan minat jamaah untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid ataupun musholla. Imam yang mampu berkreasi dengan keahliannya, misalnya melantunkan bacaan shalat wajib dengan megah dan atau menyelipkan senandung shalawat dan zikir ketika jeda Shalat Tarawih, tak bisa dipungkiri buat jamaah senang dan betah. Dan ini  berhasil ditunjukkan Ahmad Bayadho.

Banyak orang yang memiliki keahlihan namun tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari atau tidak dikreasikan untuk hal lain. Skill yang dimilikinya hanya untuk dinikmatinya sendiri. Keahlihannya terasa hambar, kurang bermanfaat buat banyak orang. Alhasil prestasi dan namanya yang pernah cemerlang pun meredup.

Beda dengan sosok lelaki asli Betawi kelahiran Jakarta, 20 Mei 1978 ini. Dia termasuk orang yang pandai memanfaatkan kecakapannya yakni di bidang Qur’an untuk hal-hal positif lain, misalnya menjadi imam, guru mengaji untuk mencari bibit-bibit qori andal, dan membentuk kesenian Hadrah.

Setiapkali memimpin shalat di masjid maupun musholla misalnya, bacaan shalatnya dia senandungkan dengan cara mengaji gaya qori. Maklum saja, ayah dua anak  ini memang cakap membaca Qur’an, terbukti pernah mengikuti MTQ tingkat nasional di Jambi tahun 1997 dan beberapa kali menjadi semifinalis MTQ di TVRI.

Bukan cuma itu, setiap lepas 4 rakaat shalat tarawih, jeda waktu yang ada dia isi dengan  senandung shalat dan zikir yang menggugah. Jamaah pun ikut bershalawat dan berzikir mengikuti suaranya yang indah dan megah itu.

Gaya ini katanya terinpirasi dari kata tarawih yang bersifat santai, tidak terburu-buru, atau tidak tergesa-gesa. Shalawat dan zikir yang disenandungkannya bertujuan untuk mengambil perhatian jamaah agar mengingat Rosul. Tujuan lainya, katanya agar jamaah tidak mengantuk dan tidak membosankan.

Berkat gaya khasnya dalam memimpin shalat wajib maupun tarawih itulah, nama alumnus Al-Falah yang kini juga berstatus PNS Kementerian Agama RI ini cepat terangkat dan menjadi perhatian masyarakat setempat.

Namanya cepat melesat dibanding imam muda lain yang terjun sebagai imam lapis kedua di sejumlah masjid dan musholla sekitar Kelurahan Sukabumi Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat antara lain Masjid Jami Al Falah, Al Makmur, Jami Assyiroth, dan Masjid Attohiri  serta Musholla Al Husna.

Gayanya itu mendapat respon positif  dari jamaah masjid dan musholla tersebut. Setiap kali memimpin shalat tarawih, dia diminta pengurusnya untuk melantunkan shalawat.

Apa yang dilakukan Bayadho ini patut dicontoh imam muda lain. Dia berani keluar dari pakem yang ada, mengkreasikan sesuatu seusai keahliannya menjadi lebih indah hingga jamaah tertarik bahkan rajin sholat berjamaah di masjid ataupun musholla. 

Gayanya melantunkan bacaan shalat dan juga menyelipkan shalawat dan zikir itu berhasil membangunkan semangat masyarakat untuk selalu meramaikan malam Ramadhan dengan senandung  shalawat dan zikir yang khidmat.

Pesantren Penghafal Qur'an
Kreativitas Bayadho tak berhenti sampai disini. Guru mengaji yang punya sekitar 120 anak didik ini berupaya keras mencari bibit-bibit qori yang andal sesulit apapun.

Selepas mengikuti MTQ tingkat nasional, belum ada qori baru yang muncul menggantikannya dari Kampung Baru khususnya. Penyebab utamanya, sulit mencari bibit-bibit baru ditambah faktor lingkungan dan teknologi terutama internet yang menjadi tantangan berat selain faktor dukungan kelurga dan kemauan yang kuat dari anak tersebut.

Menurutnya banyak anak berbakat mengaji sejak usia dini kemudian putus asa setelah suaranya berubah saat memasuki usia akil baliqh. Padahal itu bisa diatasi dengan terus tekun belajar mengaji. Tentunya belajar dengan guru mengaji yang berkompeten dibidangnya sehingga selain mengerti cara membaca Qur’an yang baik juga tahu lagu, tipe-tipe suara, dan tajwid serta lafaznya.

Untuk mewujudkan keinginannya itu, pria berbadan gempal dengan sedikit brewok sehingga nampak lebih tua dibanding usianya yang sebenarnya ini, juga berencana membuat pesantren qiraat Quran atau pesantren penghafal Qu’ran di wilayah Kampung Baru, Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini.

Rencananya pesantrennya itu tidak berdiri sendiri melainkan berkolaborasi dengan Ponpes Al-Falah yang kini masih dalam tahap perampungan. Dia berharap pesantrennya itu kelak dapat mencetak anak-anak Al-Falah yang bukan hanya cakap membaca kitab-kitab kuning tapi juga pintar membaca dan menghafal Qur’an. Karena kedua ilmu itu menurutnya benar-benar mumpuni.

Keinginannya itu merupakan titipan gurunya yakni Kyai Abdul Hadi yang mengharuskan para alumni Al Falah meramaikan Ponpes Al Falah dengan kemampuan yang dimilikinya.

Kebetulan Bayadho berkeahlihan di bidang Qur’an. Dia pun berjanji akan mengerahkan segala kemampuannya untuk pembinaan Qur’an di Ponpes Al-Falah tersebut, Insya Allah.

Ya sebuah cita mulia yang kian jarang dimiliki anak muda diera serba digital dan jejaring sosial ini. Kondisi ini memang sungguh menghawatirkan. Dan Bayadho adalah jawaban dari kekhawatiran itu, yang patut didukung lapisan masyarakat demi terciptanya generasi Qur’ani.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (siarmasjid@yahoo.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar