berita masjid masjid raya masjid unik masjid bersejarah surau ceramah profil

Jumat, 19 Agustus 2011

Bayadho, Imam Muda Pencari Bibit Qori Andal



Gaya imam dalam memimpin shalat, ternyata berpengaruh terhadap suasana hati dan minat jamaah untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid ataupun musholla. Imam yang mampu berkreasi dengan keahliannya, misalnya melantunkan bacaan shalat wajib dengan megah dan atau menyelipkan senandung shalawat dan zikir ketika jeda Shalat Tarawih, tak bisa dipungkiri buat jamaah senang dan betah. Dan ini  berhasil ditunjukkan Ahmad Bayadho.

Banyak orang yang memiliki keahlihan namun tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari atau tidak dikreasikan untuk hal lain. Skill yang dimilikinya hanya untuk dinikmatinya sendiri. Keahlihannya terasa hambar, kurang bermanfaat buat banyak orang. Alhasil prestasi dan namanya yang pernah cemerlang pun meredup.

Beda dengan sosok lelaki asli Betawi kelahiran Jakarta, 20 Mei 1978 ini. Dia termasuk orang yang pandai memanfaatkan kecakapannya yakni di bidang Qur’an untuk hal-hal positif lain, misalnya menjadi imam, guru mengaji untuk mencari bibit-bibit qori andal, dan membentuk kesenian Hadrah.

Setiapkali memimpin shalat di masjid maupun musholla misalnya, bacaan shalatnya dia senandungkan dengan cara mengaji gaya qori. Maklum saja, ayah dua anak  ini memang cakap membaca Qur’an, terbukti pernah mengikuti MTQ tingkat nasional di Jambi tahun 1997 dan beberapa kali menjadi semifinalis MTQ di TVRI.

Bukan cuma itu, setiap lepas 4 rakaat shalat tarawih, jeda waktu yang ada dia isi dengan  senandung shalat dan zikir yang menggugah. Jamaah pun ikut bershalawat dan berzikir mengikuti suaranya yang indah dan megah itu.

Gaya ini katanya terinpirasi dari kata tarawih yang bersifat santai, tidak terburu-buru, atau tidak tergesa-gesa. Shalawat dan zikir yang disenandungkannya bertujuan untuk mengambil perhatian jamaah agar mengingat Rosul. Tujuan lainya, katanya agar jamaah tidak mengantuk dan tidak membosankan.

Berkat gaya khasnya dalam memimpin shalat wajib maupun tarawih itulah, nama alumnus Al-Falah yang kini juga berstatus PNS Kementerian Agama RI ini cepat terangkat dan menjadi perhatian masyarakat setempat.

Namanya cepat melesat dibanding imam muda lain yang terjun sebagai imam lapis kedua di sejumlah masjid dan musholla sekitar Kelurahan Sukabumi Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat antara lain Masjid Jami Al Falah, Al Makmur, Jami Assyiroth, dan Masjid Attohiri  serta Musholla Al Husna.

Gayanya itu mendapat respon positif  dari jamaah masjid dan musholla tersebut. Setiap kali memimpin shalat tarawih, dia diminta pengurusnya untuk melantunkan shalawat.

Apa yang dilakukan Bayadho ini patut dicontoh imam muda lain. Dia berani keluar dari pakem yang ada, mengkreasikan sesuatu seusai keahliannya menjadi lebih indah hingga jamaah tertarik bahkan rajin sholat berjamaah di masjid ataupun musholla. 

Gayanya melantunkan bacaan shalat dan juga menyelipkan shalawat dan zikir itu berhasil membangunkan semangat masyarakat untuk selalu meramaikan malam Ramadhan dengan senandung  shalawat dan zikir yang khidmat.

Pesantren Penghafal Qur'an
Kreativitas Bayadho tak berhenti sampai disini. Guru mengaji yang punya sekitar 120 anak didik ini berupaya keras mencari bibit-bibit qori yang andal sesulit apapun.

Selepas mengikuti MTQ tingkat nasional, belum ada qori baru yang muncul menggantikannya dari Kampung Baru khususnya. Penyebab utamanya, sulit mencari bibit-bibit baru ditambah faktor lingkungan dan teknologi terutama internet yang menjadi tantangan berat selain faktor dukungan kelurga dan kemauan yang kuat dari anak tersebut.

Menurutnya banyak anak berbakat mengaji sejak usia dini kemudian putus asa setelah suaranya berubah saat memasuki usia akil baliqh. Padahal itu bisa diatasi dengan terus tekun belajar mengaji. Tentunya belajar dengan guru mengaji yang berkompeten dibidangnya sehingga selain mengerti cara membaca Qur’an yang baik juga tahu lagu, tipe-tipe suara, dan tajwid serta lafaznya.

Untuk mewujudkan keinginannya itu, pria berbadan gempal dengan sedikit brewok sehingga nampak lebih tua dibanding usianya yang sebenarnya ini, juga berencana membuat pesantren qiraat Quran atau pesantren penghafal Qu’ran di wilayah Kampung Baru, Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini.

Rencananya pesantrennya itu tidak berdiri sendiri melainkan berkolaborasi dengan Ponpes Al-Falah yang kini masih dalam tahap perampungan. Dia berharap pesantrennya itu kelak dapat mencetak anak-anak Al-Falah yang bukan hanya cakap membaca kitab-kitab kuning tapi juga pintar membaca dan menghafal Qur’an. Karena kedua ilmu itu menurutnya benar-benar mumpuni.

Keinginannya itu merupakan titipan gurunya yakni Kyai Abdul Hadi yang mengharuskan para alumni Al Falah meramaikan Ponpes Al Falah dengan kemampuan yang dimilikinya.

Kebetulan Bayadho berkeahlihan di bidang Qur’an. Dia pun berjanji akan mengerahkan segala kemampuannya untuk pembinaan Qur’an di Ponpes Al-Falah tersebut, Insya Allah.

Ya sebuah cita mulia yang kian jarang dimiliki anak muda diera serba digital dan jejaring sosial ini. Kondisi ini memang sungguh menghawatirkan. Dan Bayadho adalah jawaban dari kekhawatiran itu, yang patut didukung lapisan masyarakat demi terciptanya generasi Qur’ani.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (siarmasjid@yahoo.com)

Rabu, 17 Agustus 2011

Gaya Musholla Al Husna Rayakan Nuzulul Qur’an


Masih terngiang merdunya tim Hadroh Al-Falah melagukan rangkaian salawat yang diikuti bocah-bocah secara koor hingga menerbitkan geli bercampur kagum.  Masih terekam suara qori-qoriah cilik melantunkan ayat-ayat suci hingga membuncah bangga. Mata berkaca-kaca, jiwa pun gerimis.  Meski keduanya sudah berakhir, atmosfir perayaan Nuzulul Qur’an dan Haflah Tilawatil Qur’an di Musholla Al Husna, Jalan Panjang, Kampung Baru, Jakarta Barat, Selasa malam (16/8/2011), hingga kini membekas.

Ba’da Shalat Tarawih, satu persatu jamaah pria memenuhi lantai satu Musholla Al Husna. Di lantai basement khusus jamaah perempuan pun serupa suasananya. Hingga akhirnya musholla berkapasitas 250 jamaah ini penuh, bahkan ada beberapa jamaah pria yang duduk-duduk di depan masjid karena tak kebagian tempat.

Seperti siarmasjid, tujuan mereka satu, merayakan malam Nuzulul Qur’an di musholla yang kini tampil cantik sekaligus megah setelah direnovasi total per Januari 2010 lalu.  Kali ini siarmasjid datang ke musholla berarsitektur ketimurtengahan ini sekaligus untuk memenuhi undangan H Syarif Usman selaku Ketua Pengurus Musholla Al Husna yang disampaikannya lewat pesan singkat.

Dekorasi di lantai satu nampak berbeda. Ada panggung kecil di depan ruang khusus imam. Pangung pendek itu dilapisi karpet dan di depannya ada beberapa pot aneka tanaman hias plastik. Di atas dinding  ruang iman ada backdrop berwarna hijau yang bertuliskan “Peringatan Malam Nuzulul  Qur’an dan Haflah Tilawatil Qur’an: Kita Jadikan Nuzulul Qur’an sebagai Momentum Menambah Kecintaan terhadap Al-Qur’an sehingga Melahirkan Generasi Qur’an”. Hmmm…sebuah tema yang apik dan bermakna besar sekaligus berat.

Ketika Tim Hadroh yang dipimpin Ahmad Bayadho tampil, suasana berat itu seketika cair. Tim kesenian Islami yang digawangi 7 pemuda, terdiri atas 5 penabuh rebana dan 2 vokalis ini bukan hanya mampu mencairkan suasana, pun berhasil menghidupkan sekaligus menghangatkannya.

Lantunan shalawat yang didendangkan dengan iringan tepukan rabana bermacam ukuran ini, menghadirkan simfoni Islami yang indah dan menggugah. Yang menarik, sejumlah bocah laki-laki fasih mengikut lantunan yang mereka bawakan. Kepolosan bocah dengan segala tingkah lakunya, tak urung menjadi pusat perhatian orang tua, termasuk siarmasjid.

Keputusan panitia acara memperbolehkan para bocah mengikuti acara ini dan duduk bersama dengan jamaah dewasa di lantai satu adalah keputusan yang tepat. Ini sangat sesuai dengan tema acara  ini yang ingin melahirkan generasi Qur’ani lewat acara ini.

Apa jadinya kalau acara yang malam itu dihadiri sejumlah ulama seperti Ustad Balya Isa, Ustad Ahmad Fauzi, Ustad Haitami, dan lainnya, tak ada bocah-bocah tersebut? Hmmm.. pasti terasa janggal. Terasa ada yang kurang. Kehadiran mereka dengan segala sifat kebocahannya, riuh dan apa adanya itu justru memberi warna tersendiri. Toh, kalau mereka diatur dan diberi tahu dengan baik, pasti akan tertib juga.

Sesuai judul acara Hafalah Tilatil Qur’an, acara ini pun diramaikan beberapa qori dewasa dan anak-anak. Ahmad Bayadho dan Ahmad Faisal mewakili qori dewasa yang tampil malam itu.

Sebelumnya tampil qori dan qoriah cilik antara lain Waffa Fauziah, Mawaddah Rahmi, dan Ilham yang mendapat sambutan hangat dan tentu saja rasa bangga dengan prestasi yang telah diraih masing-masing. Qoriah Waffa Fauzia yang masih duduk di kelas 4 SDI Al Falah misalnya, sudah 3 kali juara MTQ tingkat SD se-DKI.

Kehadiran qori-qoriah cilik dalam acara ini yang ditonton oleh para bocah dan juga orang tua tentunya bermanfaat baik bagi buat qori-qoriah cilik yang tampil maupun buat para bocah dan orang tua.     

Buat para qori dan qoriah  cilik, ini menjadi wadah uji coba atau latihan untuk mengasah teknik, penampilan, dan suara agar lebih berkualitas sehingga menjadi qori-qoriah nasional bahkan internasional kelak dikemudian hari.

Sementara buat para bocah dapat memahami arti penting perayaan Nuzulul Qur’an, dengan harapan mereka mau belajar Al-Qur’an lebih tekun lagi,  lalu mengajak teman-teman sebayanya melakukan hal serupa. Dan  buat orangtua,  memberi inspirasi positif  untuk mengarahkan putra-putrinya terus belajar mengaji hingga berprestasi seperti para qori dan qoriah cilik tersebut. 

Seperti yang ditegaskan KH Kahmasy Siddiq selaku guru tetap di Musholla Al Husna dalam ceramahnya malam itu. Dia mengatakan acara perayaan Nuzulul Qur’an dan Haflah Tilawatil Qur’an  ini hendaknya menjadi monivator bagi jamaah Al Husna untul lebih bersemangat lagi mempelajari Al-Qur’an dengan baik dan benar serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. “Mudah-mudahan dengan adanya acara ini tidak ada jamaah di musholla ini yang tidak mampu membaca Al-Qur’an,” jelasnya.

Kendati ada beberapa gangguan teknis sedikit seperti listrik turun dan sound system yang kurang perfect. Namun secara keseluruhan, acara malam itu berlangsung sukses dan membanggakan. Maklum seperti penjelasan H Syarif Usman, pembangunan musholla ini belum seutuhnya selesai. “Baru 90 %, tinggal 10 % lagi. Karena itu masih perlu bantuan dana dari masyarakat untuk merampungkan pembangunannya,” terangnya.

Libatkan Anak Muda
Berdasarkan pengamatan siarmasjid,  keberhasilan acara ini,  tak lepas dari peran H. Syarif Usman yang memberi keleluasan panitia yang terdiri atas sejumlah anak muda untuk terlibat penuh dalam acara ini sesuai dengan skill-nya. Ada yang menjadi  penerima tamu, bagian dekorasi, dokumentasi dan lainnya. Acara ini, kata H Syarif Usman  menjadi pijakan pertama atau sebagai percobaan. “Semoga ke depan kemasannya lebih semarak dan meriah lagi,” harapnya.

Memang sudah sepatutnya pengurus musholla maupun masjid memberi kesempatan kepada anak muda untuk terjun dalam kegiatan yang ada di musholla ataupun masjid.

Biasanya daya kreativitas anak muda lebih ‘berani’ dan kekinian. Mereka punya ide-ide segar untuk membuat acara keislamam seperti perayaan Nuzulul Qur’an dan lainnya yang semula terkesan kuno, cuma buat orangtua, itu-itu saja, dan terkesan berjarak dengan anak-anak maupun remaja, menjadi acara yang jauh lebih menarik dan tidak membosankan sehingga disukai anak-anak maupun remaja.

Dan ini sudah dibuktikan oleh beberapa remaja masjid ternama seperti Remaja Islam Masjid Sunda Kelapa (RISKA) dan Remaja Islam Masjid Cut Mutia (RICMA) sehingga takmir di kedua masjid yang di kawasan Menteng, Jakarta Pusat itu begitu hidup dan namanya kian tersohor.

Nah, kini giliran pengurus Musholla Al Husna yang membuktikan itu dengan berhasil membuat perayaan malam Nuzulul Qur’an dan Haflah Tilawatil Qur’an dengan cukup menarik dan mengesankan. Sekalipun masih ada kekurangan, karena seperti H. Syarif Usman bilang, ini masih dalam tahap percobaan.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (siarmasjid@yahoo.com)

Selasa, 16 Agustus 2011

Al Husna, Mushalla Cantik Senilai 2 Milyar


Melihat besar dan indah bangunannya, banyak orang mengira bangunan ini masjid. Saya pun semula mengira demikian. Terlebih belum ada plang namanya. Yang benar, bangunan berwarna kecoklatan ini adalah mushalla.  Al Husna begitu nama mushalla cantik ini, hasil renovasi total senilai 2 milyar rupiah.

Sebelum menjadi mushalla secantik ini, Al Husna hanyalah langgar kecil amat sederhana. Kapasitasnya hanya sekitar 80 jamaah. Bahkan bangunan lamanya itu hanya laku dijual Rp 2 juta. Namun pascarenovasi total sejak Januari 2010, mushalla yang terletak di Jalan Panjang, Sukabumi Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini bertransformasi menjadi mushalla gagah dan megah yang mampu menampung sekitar 250 jamaah.

“Biaya renovasi totalnya memang sebesar dua milyar rupiah, terdiri atas Rp 1,6 milyar berupa uang dan Rp400juta berupa bahan material. Semua dari swadaya masyarakat, hamba Allah, dan musyafir,” jelas H. Syarif Usman selaku Ketua Pengurus Mushalla Al Husna yang juga pendiri Yayasan Al Husna.

Kendati sudah berubah wujud, nama musholla ini tetap Al Husna. ”Yang memberi nama mushalla ini adalah ulama di sini, artinya kebaikan atau yang terbaik,” jelasnya.


Bangunan Mushalla Al Husna terdiri atas tiga lantai. Lantai pertama semula diperuntukkan untuk parkir kemudian menjadi tempat shalat. Pada saat Ramadhan, basement ini digunakan untuk kaum ibu shalat taraweh. Lantai kedua dan ketiga untuk jamaah pria. Ruang wudhunya ada di lantai dasar di sebelah kanan. Pilar-pilar masjidnya dilapisi marmer hingga memebri kesan mewah.

Dari atapnya, terpampang pemandangan seantero kawasan kecamatan Kebon Jeruk, Kebayoran Lama dan sekitarnya, termasuk beberapa masjid besar yang berada di sekitar mushalla ini.

Arsitektur mushalla ini paling menonjol di antara bangunan dan rumah di sepanjang di kiri-kanannya. Bentuknya persegi empat menjulang. Di atapnya ada dua kubah kecil berwana hijau dan satu kubah berukuran lebih besar dengan warna senada.

Sepintas gaya arsiterkutnya seperti masjid-masjid di Timur Tengah. Arsitekturnya, Aceng Sumantri mengatakan konsep arsitktur mushalla ini dibuat bersama beberapa rekan. “Memang terinspirasi dari masjid-masjid di kawasan Timur Ttengah, termasuk di Turki dan Maroko,” terangnya.

Mushalla Al Husna tak memiliki halaman atau taman. Pengunjung yang datang dengan kendaraan terpaksa harus memarkir kendaraannya di tepi jalan, kecuali sepeda motor itu pun hanya muat beberapa sepeda motor. Untuk menghijaukan mushalla yang tak bertaman ini, ada 6 pot besar berwarna coklat senada warna bangunan dengan tanaman Pucuk Merah, dan beberapa tanaman hias di tepi kiri-kanannya.

Setelah fisiknya berubah, diharapkan kegiatan di mushalla yang terbuka 24 jam untuk shalat, kecuali shalat Jum’at ini semakin makmur. “Harapannya masyarakat dapat mengisi mushalla ini dengan shalat jamaah, pengajian, dan kegiatan keagamaan serta kegiatan sosial lainnya hingga benar-benar makmur,” imbau H Syarif Usman.

Sebenarnya renovasi mushalla ini belum sepenuhnya rampung. Masih ada beberapa bagian lagi yang harus diselesaikan seperti  pendingin ruangan (AC), kaligrafi,  plafon untuk bagian basement atau lantai dasar, plang nama mushalla serta membeli lahan di sebelahnya untuk parkir kendaraan jamaah. “Kira-kira masih butuh dana sekitar Rp 200 juta lagi,” ungkap H. Syarif Usman.

Rencana kedepan, lewat yayasan Al Husna mushalla ini akan dilengapi dengan perpustakaan dan pendidikan gratis untuk usia dini serta memiliki mobil ambulans dengan keranda mayat atau kurung batang untuk mengakut jenazah warga sekitar.


Tetap Mushalla
Kendati fisiknya sudah mengalami perubahan yang sangat besar, namun bangunan ini tetap berstatus mushalla. Padahal banyak orang menilai mushalla ini sudah pantas naik status menjadi masjid.  

Menurut H Syarif Usman untuk menjadi masjid harus mendapat rujukan dari para ulama. “Masjid-masjid besar di sekitar sini cukup banyak. Salah satu syarat mendirikan masjid, kalau masjid yang ada sudah tak sanggup lagi menampung jamaahnya untuk Jum’atan dan lainnya,” terangnya.

Apapun statusnya, yang jelas Mushalla Al Husna boleh dibilang salah satu surau termegah di Jakarta. Akankah statusnya nanti juga berubah, waktu pula yang menentukan. “Yang terpenting kalau mushallanya sudah bagus, takmir-nya juga harus bagus,” harap H Syarif Usman.


Tak sulit menjangkau mushalla cantik ini. Jamaah yang tidak membawa kendaraan pribadi, dapat menggunakan kendaraan umum Mikrolet 09A jurusan Tanah Abang-Kebayoran Lama yang melewati Jalan Panjang, Kampung Baru. Bangunannya sangat mudah terlihat karena berada di tepi jalan, tak jauh dari mini market Alfa Mart.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (siarmasjid@yahoo.com)


Selasa, 09 Agustus 2011

Lima Masjid Lima Pesona Lima Cinta


Pekan pertama Ramadhan 2011 baru saja usai. Kini umat muslim seantero dunia menjalani puasa Ramadhan pekan kedua. Selama pekan pertama kemarin,  siarmasjid melakukan taraweh keliling (tarling) ke 5 masjid yang ada di Jakarta. Masing-masing masjid memiliki pesona tersendiri hingga menerbitkan cinta. Masjid apa saja & apa pesonanya?

Masjid pertama yang dikunjungi siarmasjid adalah Masjid Jami Al-Falah yang berada di Kampung Baru, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Masjid ini berlokasi di pemukiman penduduk dan dekat dengan Madrasah Al-Falah.

Secara arsitektur, masjid ini biasa-biasa saja. Hampir sama dengan masjid yang lainnya. Yang menonjol kubahnya besar berwarna putih. Tetapi setelah memasuki bagian dalamnya, ada yang cukup menarik terutama hiasan pada kubah bagian dalam dan tentu saja kicauan burung gereja yang menghuni bagian atap dalam masjid ini. Lantainya bagian dalamnya dilapisi karpet baru berwarna hijau kebiru-biruan.

Menurut ketua pengurus Masjid Al-Falah KH Kahmasy Shiddiq selama Ramadhan tahun ini ada banyak kegiatan atau takmir yang diadakan pengurus masjid antara lain buka puasa berasa, tadarus Al-Quran sebelum azan Magrib dan setelah Shalat Taraweh, tafsir dan pelajaran tajwid setiap Rabu dan Sabtu ba’da Zuhur,  kajian puasa dalam Bahasa Inggris pada Ahad pukul 10.00 WIB dan  Rabu ba’da Ashar,  pengajian Al-Quran jelang Subuh, kajian kitab fiqih setiap Selasa dan Sabtu ba’da Subuh, dan membentuk amal zakat yang disalurkan kepada yang berhak menerimanya.

“Biaya yang dibutuhkan  untuk pelaksanaan takmir Ramadhan tahun ini hampir mencapai duapuluh satu juta rupiah,” KH Kahmasy Shiddiq.

Masjid Jami Al-Falah memiliki beberapa imam antara lain Ustad KH Kahmasy Shiddiq, Ustad Balya Isa, Ustad Ahmad Fauzi, dan Ustad A.Bayadho. Mereka bertugas secara bergantian memimpin jamaah shalat lima waktu dan Shalat Taraweh sebanyak 23 rakaat yakni 20  rakaat shalat taraweh yang dilakukan 2 rakaat salam, dan 3 rakaat shalat witir. Pada hari-hari tertentu sebelum shalat witir diselingi dengan ceramah Ramadhan sekitar 10 menit oleh imam atau ustad lainnya.

Masing-masing imam tersebut memiliki karakter tersendiri saat memimpin jamaah shalat, terutama dalam hal tempo membaca bacaan shalatnya. Imam Balya Isa misalnya terkenal dengan temponya yang lamban dan pelan,  imam Ahmad Fauzi justru sebaliknya cepat dan singkat. Sedangkan imam KH Kahmasy Shiddiq berada di antara keduanya, tidak cepat tidak pula lamban tapi volume suaranya besar.

Sementara imam Bayadho tempo membacanya terbilang sedang namun kelebihannya terletak pada kualitas suaranya yang megah. Maklumlah imam berbadan agak besar ini usianya paling muda dibanding ketiga iman lainnya, dan pernah mengikuti MTQ tingkat nasional.

Saat memimpin shalat taraweh, imam Bayadho yang merupakan imam lapis kedua di masjid ini juga punya cara tersendiri, yakni membacakan shalawat nabi selepas 4 rakaat yang diikuti para jamaah secara koor. Suaranya yang megah, merdu, dan enak didengar membuat jamaah terpesona. Alhasil bikin Shalat Taraweh jadi lebih nikmat, tidak membosankan, dan tidak bikin kantuk.

Kendaraan umum yang melintasi masjid ini antara lain Mikrolet 09A jurusan Pasar Tanah Abang-Pasar Kebayoran Lama, turun di pertigaan Al-Falah, Kampung Baru.


Masjid BI
Masjid kedua yang siarmajid sambangi adalah Masjid Bank Indonesia (BI) yang berada di komplek gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat. Masjid BI boleh dibilang masjid termegah di antara masjid yang berada di lingkungan gedung pemerintahan.

Mungkin karena berada di kawasan pengelola bank, keamanan masjid ini agak terbilang ketat. Petugas kemanannya sedikit galak. Setiap pengunjung yang ingin mengbadikan masjid ini harus terlebih dahulu meminta izin, apalagi kalau pengunjungnya menggunakan kamera SLR berukuran agak besar, langsung ditegur.

Namun masjid ini punya pesona tersendiri. Arsitkturnya megah, bersih, dan nampak berkelas. Termasuk di ruang wudhu-nya. Bagian dalam masjid ini terbuat dari marmer. Kendati miskin kaligrafi dan boleh di bilang tidak ada sama sekali. Tidak seperti masjid lain yang biasanya dipenuhi kaligrafi bertuliskan Almaul Husna ataupun kalimat syahadat dan lainnya, namun kesan megah justru begitu terasa.

Shalat Taraweh di masjid ini sebanyak 11 rakaat yakni 8 rakaat Shalat Taraweh yang dilakukan 2 rakaat salam ditambah 3 rakaat Shalat Witir. Sebelum taraweh ada ceramah Ramadhan selama sekitar 15 menit.

Pengurus masjid BI selama Ramadhan memberikan pelayanan yang cukup menarik antara lain waqaf Al-qur’an. Jama’ah bisa mewaqafkan uangnya ke masjid ini berapapun kemudian dana yang terkumpul akan disalurkan untuk membeli perlengkapan ibadah yang disalurkan ke masjid-masjid lain, seperti untuk pembelian karpet, Al-Qur’an dan lainnya.

Meskipun berada di kawasan gedung yang dijaga ketat keamanannya, masjid ini tetap terbuka untuk umum. Berdasarkan pantauan siarmasjid, justru jumlah warga setempat yang Shalat Taraweh di masjid ini lebih banyak dibanding karyawan BI.

Tak sulit menjangkau masjid ini. Kalau dari arah Blok M ataua dari Kota tinggal naik bus Transjakarta busway turun di halte Bank Indonesia, lalu jalan kaki ke arah gedung Indosat. Masjidnya berada di seberang gedung Indosat. Kalau dari Tanah Abang naik mikrolet 08 jurusan Stasiun Tanah Abang-Kota turun di lampu merah  arah Indosat.


Istiqlal
Berikutnya Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Kebetulan saat siarmasjid Shalat taraweh di masjid ini pada malam keenam Ramadhan, ceramahnya diisi oleh ketua pengurus Mmasjid Istiqlal sendiri yakni H. Mubarok yang menyampaikan mengenai pengelolaan masjid secara modern.

Menurut H Mubarok selama Ramadhan tahun ini ada 17 program kegiatan yang digelar pengurus masjid, yakni  shalat rawatib 5 waktu, i’tikaf 24 jam, mauzia hasanah-zikir 7 doa jalan buka bersama, Tilawatil Qur’an oleh qori/qoriah  nasional/internasional jelang taraweh dan jum’atan, taraweh 2 gelombang, siraman rohani jelang taraweh, tadarus qur’an ba’da taraweh, renungan fajar ba’da subuh, dialog zuhur interaktif  bedah kitab aqidah, syariah dan aklak, zakat-infak-shadaqah dan Zakat Fitra, peringatan Nuzulul Quran, Qiyamullail 10 hari  terakhir, pesantren kilat remaja putra dan putri, santunan 1.000 anak yatim, takbir akbar nasional, dan Shalat Idul Fitri bersama Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

Sebagai masjid terbesar dan bersejarah  di Jakarta ini, pesona Istiqlal tetap memikat jamaah dari berbagai penjuru wilayah Jakarta dan sekitarnya. Setiap malam ramai orang bertaraweh di masjid ini.

Yang menarik, masjid ini menggelar taraweh 2 gelombang. Gelombang pertama Shalat Taraweh 8 rakaat. Shalat Witir 3 rakaat dilakukan sendiri. Kemudian dilanjutkan gelombang kedua bagi yang ingin melaksanakan taraweh 23 rakaat.

Sebelum taraweh ada pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran yang dibacakan oleh qori atau qoriah  nasional ataupun internasional. 

Kehadiran petugas shaf dengan mengenakan selendang  juga cukup menarik perhatian. Mereka bertugas mengatur shaf jamaah agar rapi dan mengisi bagian kosong terlebih dahulu yang ada di bagian depan. Pengunjung yang membawa tas besar, diharuskan menitipkan di bagian penitipan.

Ruang interior Istiqlal yang besar dan lapang ditambang ventilasi udara yang banyak membuat suasana bagian dalamnya begitu sejuk. Apalagi karpetnya  jenis karpet berkualitas dan terbaik dibanding masjid lain yang ada di Jakarta. Karpetnya tebal dan empuk dengan warnah merah ranum. Kondisi seperti itu membuat jamaah tak kuasa untuk duduk, tidur-tiduran, dan  atau mengabadian kemegahan masjid berpilar-pilar besar dengan kamera beragam jenis.

Amat mudah menjangkau Masjid Istiqlal. Bisa naik bus Transjakarta turun di Halte Juanda  masuk lewat pintu gerbang Ass-Salam atau turun di Halte Istiqlal masuk lwat pintu gerbang Ar-Razaq. Bus lainnya lewat pintu Ar-Razaq adalah Kopaja 20 jurusan Lebak Bulus-Senen dan Metromini 17.



MASK
Masjid berikutnya yang siarmasjid datangi untuk Shalat Taraweh adalah Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK). Lokasinya di Jalan Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.

Masjidnya sendiri tidak begitu besar dan megah. Pesona masjid ini justru terletak pada pengelolaannya yang modern. Aktivitasnya penuh dan beragam. Belum lagi Remaja Islam Masjid Sunda Kelapa (RISKA) yang turut membuat harum masjid ini dengan rangkaian kegiatannya.

Lokasinya yang strategis di kawasan elit Menteng, ditambah kegiatannya yang sudah tersohor membuat citra masjid ini terkesan mentereng.

Setiap  malam Ramadhan, jelang buka puasa jamaah dari berbagai tempat di Jakarta berdatangan untuk berbuka puasa bersama. Ada yang mendapatkan jatah berbuka dari masjid, banyak pula yang membeli di pedagang kaki lima di depan kawasan masjid ini.

Jelang berbuka, pengurus masjid mengajak jamaah tadarusan dan atau membaca shalawat nabi bersama. Mendekati Magrib, staf pengurus lainnya membagikan kurma dan air mineral kepada jamaah untuk berbuka. Kurma ditempatkan di wadah nampan lalu dibagikan ke jamaah satu per satu.

Selepas buka bersama dengan takjil kemudian shalat magrib berjamaah. Shalat di masjid ini terasa nyaman, karena di bagian dalam masjid dilengkapi alat pendingin udara atau AC. Selain itu ada 2 layar besar yang menayangkan gambar imam, doa sebelum dan setelah taraweh dengan terjemahan, dan lainnya. Semua itu membuat kesan modern, kendati gedungnya tak megah.

Shalat taraweh di masjid ini 23 rakaat. Jamaah yang hanya ingn sampai 8 rakaat dipersilahkan melakukan Shalat Witir sendiri. Bilangan rakaatnya 2 rakaat diakhiri salam. Imamnya senantiasa memberikan penjelasan jumlah salam berikutnya.

Tak sulit menjangkau masjid ini. Ada beberapa kendaraan umum yang lewat depan Jalan Sunda Kelapa antara lain bus PPD 213 jurusan Grogol-Kampung Melayu dan bus AC 67 jurusan Blok M-Senen. Turun di Halte Taman Surapati lalu menyeberang ke Jalan Sunda Kelapa.


Jami An-Nur
Dan terakhir Masjid  Jami An-Nur di Petamburan, Jakarta Pusat. Letaknya sangat strategis, di tepi Jalan KS Tubun Raya No.29 yang padat lalu lintasnya. Masjid ini berada dekat pertokoan, hotel, dan pemukiman penduduk sekitar 200 meter dari kawasan Pasar Tanah Abang.

Yang menarik, jamaah masjid ini bukan cuma warga sekitar dan juga jamaah yang singgah dari berbagai tempat usai beraktivitas, pun warga Afrika. Kebanyakan mereka menjadi pedagang tekstil dan pakaian jadi di sekitar Kota Bambu, Tanah Abang tak jauh dari masjid ini.

Saat siarmasjid taraweh di masjid ini, ada beberpa jamaah asal Afrika yang taraweh. Kendati jumlahnya tak sebanyak bila dibanding saat shalat wajib dan jumatan, tetap saja  memberi warna berbeda dibanding masjid lain di Jakarta dan cukup menarik perhatian bagi jamaah yang baru pertama kali shalat di masjid ini. Namun bagi warga setempat,  itu bukan lagi sesuatu yang aneh.

Jamaah dari negara-negara benua hitam itu agak berbeda. Dari postur tubuhnya saja lebih tinggi dibanding orang Indonesia. Dan yang sangat mencolok jelas dari warna kulitnya yang hitam legam keungu-unguan dan rambut keriting halus.

Mudah sekali menyambangi masjid ini. Ada beberapa kendaraan umum yang lewat di depannya, antara lain miskrolet 09 dan 09A jurusan Kebayoran Lama-Tanah Abang, Kopaja 16 jurusan Ciledug-Tanah Abang, dan mikrolet 11 jurusan Kebon Jeruk-Tanah Abang.

Pekan kedua Ramadhan tahun ini, siarmasjid berencana tarling tahap kedua. Ada beberapa masjid yang akan disambangi antara lain Masjid Jami Al-Ma’mur, Tanah Abang, Masjid Jami Kebon Jeruk di kawasan Gajah Mada, Masjid Pondok Indah Jakarta Selatan, dan Masjid Kota Bandar Baru Kemayoran. Seperti apa pesona masjid-masjid tersebut? Tunggu ceritanya di siarmasjid berikutnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (siarmasjid@yahoo.com) 

Sabtu, 06 Agustus 2011

Masjid Jami Al Falah Disambangi Bang Foke Saat Subuh



Masjid  Jami Al Falah di Kampung Baru, Jakarta Barat disambangi Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Wibowo beserta jajarannya, Sabtu Subuh, (6/8/2011). Orang nomor satu di Jakarta ini bukan sekadar bersilaturahmi, pun menyerahkan sejumlah bantuan dan santunan. Bahkan menyumbang buat pembanguan Ponpes Al-Falah. Tapi kenapa datangnya Subuh?

Kehadiran Fauzi Wibowo ke Masjid Jami Al-Falah jelas menarik perhatian banyak orang dan tentunya punya arti penting. Bagaimana tidak, dia rela meluangkan waktu Subuh untuk memenuhi undangan ke masjid ini dari 200 undangan yang diterimanya pada Ramadhan tahun ini. Kendati tak diliput banyak media, paling tidak kemunculannya menarik perhatian warga sekitar masjid ini.

Dalam sambutannya, Fauzi Wibowo yang akrab disapa Bang Foke menjelaskan tujuan utama kedatangannya ke Masjid Jami Al-Falah untuk bersilaturhami dengan pengurus dan jamaah masjid Jami Al-Falah.  Selain  itu mengajak para staf-nya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan melakukan ibadah di tengah masyarakat. 

“Dengan beribadah di tengah masyarakat otomatis, pemerintah dalam hal ini  saya dan jajaran saya akan lebih dekat dengan rakyat,” akunya.

Dalam kesempatan itu, Fauzi Wibowo mengajak warga Jakarta untuk berpartisipasi menjaga ketertiban dan keamanan masing-masing wilayahnya meskipun Polda Metrojaya sudah menyiapkan 20ribu polisi untuk mengamankan Jakarta selama Ramadhan ini.

“Mulai dari keluarga, ketua RT, RW, lurah, dan camat harus aktif menciptakan keamanan dan ketertiban wilayahnya. Jangan sampai ada yang tawuran, biar ibadah puasa berjalan tenang dan nyaman,” imbaunya.

Selain bersilatuhramni yang disebutnya sebagai silaturahmi paket hemat karena bertepatan dengan puasa, kedatangan pria berkumis tebal ini pun sekaligus menyerahkan sejumlah bantuan kepada pengurus Masjid Jami Al-Falah.

Bantuan yang diberikannya antara lain sumbangan dana pembinaan Masjid Jami Al-Falah, mushaf Al-Qur’an, kain sarung untuk pengurus Masjid Jami Al-Falah, dan lampu yang diserahkan langsung kepada ketua pengurus Masjid Jami Al-Falah KH Kahmasy Shiddiq.

“Semoga langkah saya ini juga diikuti yang lain, baik Walikota Jakarta Barat,  Camat Kebon Jeruk, dan lainnya. Ya kalau gubernur umpanya ngasih 100 ribu, yang lainnya bisa ngasih dibawah itu yang penting iklhas,” imbaunya seraya disambut tawa beberapa jamaah.


Pada kesempatan itu, Fauzi Wibowo juga menyerahkan santunan secara langsung kepada 35 anak yatim di lingkungan Masjid Jami Al-Falah yang diwakili 5 anak yatim setempat.

Sebelum Bang Foke memberi sambutan, terlebih dulu KH Kahmas Shiddiq memberitahukan seputar program takmir Ramadhan di Masjid Jami Al-Falah serta proses pembangun Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Falah oleh Yayasan Tarbiyah Islamiyah Al-Falah yang menelan biaya sekitar  Rp 7 miliar. “Pembangunan ponpes tersebut baru  berjalan sekitar 50 persen sehingga masih membutuhkan uluran tangan sejumlah pihak untuk membantu menyelesaikan pembangunan ponpes tersebut,” kata KH Kahmasy Siddiq.

Mendengar penjelasan KH Kahmasy Shiddiq, Bang Foke pun dalam sambutannya mengatakan akan membantu membiayai pembanguan Ponpes Al-Falah. Namun dia tidak menyebutkan berapa besar sumbangan dan kapan akan diberikan.

“Untung saja sambutan KH Kahmasy Siddiq singkat. Coba kalau panjang, saya takutkan list permintaannya juga panjang,” guyon Bang Foke dalam sambutannya yang disambut tawa jamaah lagi.

Berdasarkan info dari salah seorang warga setempat, Bang Foke menyumbang Rp 100juta untuk pembangunan Ponpes Al-Falah. “Itu dari uang pribadi Fauzi Wibowo sendiri,” kata warga yang mengaku alumni Al-Falah.

Setelah Siarmasjid mengkonfirmasi hal tersebut langsung ke KH Kahmasy Shiddiq ternyata dia membenarkannya. “Ya betul beliau (Fauzi Wibowo_red) memberi bantuan sebesar seratus juta rupiah untuk pembanguan Ponpes Al-Falah,” jelasnya.

Kontsruksi ponpesnya, lanjut KH Kahmasy Shiddiq, sudah hampir rampung, dan  ada beberapa kelas yang sudah dapat dimanfaatkan. “Rencananya tahun ini juga pembangunan Ponpes ini dapat diselesaikan,” ungkapnya.


Mendadak Membludak
Jamaah Masjid Jami Al-Falah, Sabtu Subuh itu nampak berbeda. Selain dihadiri semua imam masjid ini antara lain Ustad Balya Isa, Ustad Ahmad Fauzi, dan Ustad Bayadho yang menjadi iman Shalat Subuh hari itu, juga sejumlah warga setempat yang jumlahnya jelas jauh lebih besar daripada hari-hari sebelumnya. 

Kali ini yang ikut Shalat Subuh berjamaah, mendadak membludak sampai memenuhi ruangan dalam masjid dan beberapa shaf lagi di bagian sayap kanan masjid. Jamaah yang datang juga nampak kompak, mengenakan baju koko warna putih.

“Jamaah yang datang sebagian besar masih warga sekitar masjid ini,” terang KH Kahmasy Shiddiq.

Menurut salah seorang warga setempat, biasanya paling banyak yang Shalat Subuh di masjid ini  cuma 5-7 shaf jamaahnya. Satu shaf di bagian dalam masjid ini mampu dapat diisi sekitar 20 orang.

Di samping jamaah pria dewasa, juga banyak para pelajar Al-Falah yang hadir Sabtu Subuh itu sambil membawa buku tulis entah untuk mencatat isi ceramah atau meminta paraf pengurus masjid sebagai tanda siswa tersebut mengikuti subuhan kali ini. Bahkan beberapa jamaah perempuan turut Shalat Subuh berjamaah di bagian lantai dua masjid ini. 


Kehadiran jamaah yang tak seperti biasanya itu bisa jadi karena ingin melihat Bang Foke secara langsung, atau juga karena mendapat tugas dari guru ataupun himbauan dari pengurus masjid ini.

Salah seorang warga lainnya mengaku pengurus masjid memang sudah memberitahukan rencana kedatangan Gubernur Fauzi Wibowo ke masjid ini beberapa hari sebelumnya, lewat speker atau alat pengeras suara di masjid. Selain itu juga ada himbauan dari pengurus masjid.

Akankah, jumlah jamaah yang hadir di Masjid Jami Al-Falah Sabtu Subuh itu bisa terus terjaga pada hari-hari selanjutnya? Semoga.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (siarmasjid@yahoo.com)

Sabtu, 30 Juli 2011

Masjid-Masjid di Kawasan Pasar Tanah Abang


Sepekan jelang Ramadhan ini, pasar Tanah Abang, Jakarta  Pusat dibanjiri pembeli dari berbagai daerah di Indonesia.  Padat, macet, dan riuh begitu suasana grosir tekstil dan pakaian jadi terbesar di Asia Tenggara ini. Alhamdulillah, ada beberapa masjid di seputar pasar ini sehingga memudahkan pengunjung menunaikan kewajiban shalat sebagai muslim. Masjid-masjid apa saja?

Pengunjung pusat perbelanjaan Blok A Tanah Abang yang ingin shalat bisa ke  Masjid Pasar Tanah Abang (MPTA) yang terletak di bagian paling atas, lantai 14. Untuk menjangkaunya bisa naik tangga berjalan (eskalator) dan lift.

Masjid yang berdiri sejak tahun 2004 ini berarsitektur paduan berbagai gaya. Pilar-pilarnya mirip deretan pilar Kerajaan Cordova, Spanyol. Relief kaca patri jendelanya bernuansa arsitektur Persia. Keramik dan mimbarnya beraksen Turki. Keseluruhannya persis masjid-masjid di Madinah, Arab Saudi.
Warna cokelat muda mendominasi bangunan depan masjid ini di tambah warna hijau yang mencuatkan kesan teduh. Ruang dalamnya didominasi kaligrafi arab dengan warna-warni cerah.
Fasilitas yang tersedia di masjid yang berkapisitas 3.000an jamaah ini antara lain penitipkan alas kaki, wudhu dan toilet yang bersih untuk pria dan wanita, terpisah. Di sekitar masjid juga tersedia ruang rapat, ruang untuk imam, ruang officeboy, dan sekretariat.


Masjid ini dibuka pagi hingga petang, sesuai aktivitas Pasar Blok A. Untuk Ramadhan tahun ini, panitia masjid selain menyelenggarakan kultum setiap ba’da Zhuhur dan menyediakan ta’jil untuk pengunjung yang ingin berbuka puasa, juga akan mengadakan  shalat taraweh.
Kegiatan lainnya, program Taman Pendidikan al-Qu’ran gratis khusus buat anak-anak kurang mampu yang digelar setiap Senin dan Kamis serta pengajian setiap  Minggu.
Masjid  Jami Al- Ma’mur
Masih di Tanag Abang tepatnya di Jalan KH Mas Mansyur No. 6 Jakarta Pusat, ada Masjid Jami Al Ma’mur, tepatnya sekitar 100 meter dari Blok A Tanah Abang.


Masjid yang dibangun tahun 1704 ini ramai dikunjungi para pedagang Pasar Tanah Abang dan pengunjung serta warga sekitar.

Kalau interior Masjid Blok A Tanah Abang dihiasi kaligrafi, sebaliknya bagian depan Masjid Jami Al Ma’mur yang didominasi kaligrafi.

Interiornya justru polos. Yang menarik ada banyak lampu neon yang digantung Di mihrabnya adat tempat khutbah dengan tiga tangga, disamping mihrab bagian kanan ada pintu keluar masuk imam dan khatib.


Kendati masjid ini dikepung para pedagang di luar pagarnya, namun ketika berada di dalamnya cukup nyaman. Ruangannya begitu lapang. Karpetnya baru 3 hari lalu diganti. Kualitas karpetnya pun bagus, berwarna merah.

Selain dua masjid di atas, masih ada beberapa masjid lagi. Di Blok G ada Masjid Al-Ikhlas tepatnya di lantai 4. Sementara di Blok B, masjidnya sedang dalam proses pembangunan, letaknya di bagian atap.

Di luar blok, ada Masjid Al-Abraar di Jalan Jati Baru X, di seberang Stasiun Kereta Tanah Abang. Masjid ini berada di gang yang juga dipenuhi kios pedagang pakaian jadi terutama pakaian muslim seperti gamis, baju koko, peci, jilbab, dan lainnya.

Kehadiran masjid-masjid di atas, jelas mempermudah pengunjung yang ingin beribadah. Nah, selamat  berbelanja, berdagang tanpa meninggalkan ibadah shalat di  Pasar Tanah Abang.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (siarmasjid@yahoo.com)

Rabu, 27 Juli 2011

Musholla-Musholla Cantik di Mall-Mall Mewah Jakarta


Jakarta punya ratusan mall yang tersebar di lima wilayah. Alhamdulillah  semuanya dilengkapi musholla cantik kendati tidak di setiap lantainya. Keberadaannya jelas sangat membantu pengunjung yang sedang menikmati kemewahannya untuk urusan belanja, makan, dan lainnya.  

Kendati jumlah mall mewah di Jakarta banyak, namun yang memiliki musholla cantik dalam artian bersih, nyaman, terawat, mudah dijangkau, dan atau  berfasilitas lumayan lengkap hanya ada di beberapa mall.

 Di Jakarta Selatan misalnya mall mewah yang memiliki musholla cantik tersebut antara lain di Pondok Indah Mall (PIM) 1 dan 2. Mall di kawasan pemukian elite ini dilengkapi 3 musholla. Dua musholla berada di lantai 1 dan 2 sebelah Utara (north) dan satu lagi berukuran lebih kecil di gang deretan restaurant di lantai paling atas. Musholla lantai 1 dan 2, masing-masing mampu menampung sekitar 40 jamaah.

 Di Mall Pejaten Village di Jalan Warung Buncit dilengkapi satu musholla di sudut lantai dasar. Mushollahnya cukup besar dengan 3 ruangan.

Di Cilandak Town Square (Citos), Cilandak memiliki sebuah musholla ini  di dekat ruang parkir basement. Meski letaknya agak jauh tapi ruangannya ber-AC  dengan karpet kualitas hotel.

Sedangkan Jakarta Pusat antara lain di Plaza Senayan  yang memiliki musholla dengan desain minimalis yang lumayan bagus. Lokasinya di dekat pintu masuk parkiran P3. Musholla pria dan wanita terpisah.

Selain itu di fX lifestyle X’nter, bilangan Sudirman, mempunyai 2 musholla di lantai dasar dan lantai 4. Musholla lantai dasar memiliki 2 ruangan masing-masing untuk pria dan  wanita. Musholla di lantai 4 hanya satu ruangan.

Di Pacific Place SCBD, belakang Bursa Efek Jakarta (BEJ) juga dilengkapi sebuah musholla bagus di lantai 2 sebelah toko buku Times.  Sementara di Plaza Semanggi (Plangi) mushollahnya berada di lantai 5. Interiornya sederhana namun terawat bersih.

Dan di Plasa Indonesia, mushollahnya di lantai 3 yang mudah dicapai dan sangat terawat. Ruang unuk pria dan wanita terpisah. Di musholla pria tersedia gantungan jaket dan topi dari besi bewrna silver.  Tersedia pula tempat duduk untuk membuka sepatu yang empuk dari kulit berwarna coklat tua. Interiornya elegant berwarna krem keemasan.  Terkesan lapang dan tenang sehingga memberi kenyamanan pengunjung yang shalat.

Masih di Jakarta Pusat, Senayan City (Sency) di Jalan Asia Afrika, Senayan memiliki musholla yang paling baik dibanding musholla bagus lain di mall-mall mewah Jakarta. Letaknya di lantai Lower Ground (LG), di deretan restoran. Musholla pria dan wanita terpisah dan keduanya cukup besar berkapasitas sekitar 40 jemaah.

Satu musholla lagi Sency ada di  lantai P6, tempat salatnya lebih besar sehingga kerap dipakai untuk Shalat Jumat.

Nah, sekarang Anda tak perlu cemas shalat dimana, jika nanti mau berbelanja memenuhi kebutuhan puasa dan lebaran di mall-mall mewah di atas.

Selamat berbelanja di mall-mall mewah di Jakarta tapi tetap tunaikan shalat dengan nyaman.

Naskah & foto: Adji Kurniawan (email & FB: siarmasjid@yahoo.com)
Grup FB: Siar Masjid Musholla Indonesia [SiMMI]

Selasa, 19 Juli 2011

Masjid Agung Kendari Berkubah Kaligrafi Asm’aul Husna


Masjid Agung Al Kautsar Kendari jadi salah satu kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra), khususnya warga Kota Kendari. Maklum, selain menjadi masjid termegah di bumi anoa ini, pun sebagai pusat kegiatan dakwah dan budaya Islam Sultra. Apa keistimewaannya?

Masjid Agung Al Kautsar berdiri di alun-alun Kota Kendari, di atas bukit  dengan luas lahan 2,5 hektar. Arsitekturnya bergaya rumah tradisional Sultra dengan sentuhan modern. Yang menarik di samping masjid  ini terdapat Menara Persatuan Kendari yang  dibangun khusus untuk penyelengaraan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-21 tahun 2006. Menara ini menjadi salah satu landmark kota bermoto bertakwa ini.

Lokasi Masjid Agung Al Kautsar dulunya bekas sebuah masjid kecil bernma Masjid Korem atau juga dikenal dengan nama Masjid Tentara yang berdiri tahun 1962. Selanjutnya pada 1976, dibuat pondasi dasar Masjid Agung Al Kautsar era pemerintahan Gubernur H Alala.

Yang menarik, kubah masjid agung ini berhias kaligrafi 99 Asma’ul Husna, berupa lukisan-lukisan indah huruf Arab yang bertuliskan sederet nama-nama agung Allah SWT. Kaligrafinya berwarna-warni indah dan meneduhkan hati. Di setiap dindingnya  juga terlukis lafadz zikir, mengagungkan Allah SWT.

Nah, selepas berwisata di Museum Provinsi Sultra atau di Teluk Kendari yang menjadi lokasi Festival Teluk Kendari (Festek) setiap tahun, tak ada ruginya luangkan waktu singgah dan shalat di masjid yang berada di Jalan Abdullah Silondae, Kota Kendari ini.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Minggu, 17 Juli 2011

Sentuhan Kontemporer Masjid Sahid Nurul Iman


Kendati termasuk masjid berukuran kecil, Masjid Sahid Nurul Iman punya pesona sendiri. Arsitikturnya bergaya kontemporer dengan desain modern minimalis. Alhasil banyak yang mengaguminya. Tak heran kalau Diva Pop Indonesia Krisdayanti jatuh hati dan melangsungkan pernikahan dengan Raul di masjid ini,  Maret 2011 lalu.

Arsitektur masjid yang berada di Jalan Jend Sudirman Kav. 86, tepatnya di belakang Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta ini beda dengan kebanyakan masjid lain. Ada keistemewaan tersendiri meski ukurannya tidak besar.

Bangunan masjid berlantai dua ini didominasi kaca sebagai dindingnya sehingga memberi kesan lapang dan terang pencahayaannya. Banyak ruang terbuka di setiap sisinya sehingga sirkulasi udaranya lebih sempurna.

Di lantai dasar pada bagian depan (kiblat) terdapat kolam yang dilengkapi dengan air mancur. Yang menarik posisi mimbarnya terbuka dan menjorok ke kolam tersebut. Lantainya membentuk letter U. Kubahnya berada di bagian tengah dengan ornamen kaligrafi berwarna-warni.

Sementara lantai dua yang dicapai dengan tangga di sisi belakang selain menjadi tempat solat juga sebagai perpustakaan.


Setiap hari masjid ini ramai jamaahnya, terutama tamu dan karyawan Hotel Grand Sahid Jaya dan perkantoran di sekitarnya. Tadaruss Al-Qur’an berjamaah setiap Rabu, ba’da zuhur menjadi salah satu aktivitas di masjid yang diresmikan 14 Maret 2010 lalu ini.

Nah, kalau Anda kebetulan sedang melintasi jalan utama di Jakarta ini dan sudah tiba waktu masuk solat, singgah saja ke masjid yang letaknya di samping Hotel Davinci. Anda pasti menemukan sentuhan lain dari arsitektur kontemporer modernnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)