berita masjid masjid raya masjid unik masjid bersejarah surau ceramah profil

Selasa, 19 Juni 2018

Wow, Masjid Ini pun Gelar Buka Puasa Sunnah Syawal Gratis


Umumnya masjid di Indonesia, cuma menggelar buka puasa selama Ramadhan saja. Tapi berbeda dengan masjid satu ini, namanya Masjid Jogokariyan. Selepas lebaran Idul Fitri, masjid yang berada di Yogyakarta ini juga menggadakan buka bersama puasa sunnah Syawal selama enam hari.
Informasi buka puasa sunnah Syawal itu, SiarMasjid peroleh dari akun Instagram (IG) @masjidjogokariyan yang di-posting Selasa (19/6/2018).
Dalam postingan itu dijelaskan buka puasa sunnah Syawal tahun ini berlangsung sejak tanggal 18 s/d 23 Juni 2018 atau enam hari.
Acaranya dimulai pukul 16.45 WIB, didahului dengan ceramah oleh ustadz secara bergantian setiap harinya. Dilanjutkan dengan berbuka puasa dan shalat maghrib berjamaah.
Buka puasa Syawal tersebut gratis dan terbuka untuk umum, tentunya bagi yang berpuasa sunnah Syawal.

“Yuk yang sedang menjalankan ibadah puasa sunnah Syawal bisa merapat,” ajak akun tersebut.

“Yang sendirian buka puasanya, bakal banyak yang nemenin kok kalau buka puasanya di Masjid Jogokariyaaan…GRATISSSS..!!!”, lanjut akun itu.

Sejumlah warganet pun berkomentar positif bahkan  kagum atas kegiatan tersebut.

Pemilik akun @nur_kholis_mabrur berkomentar: “keren abis @masjidjogokariyan”.

Sementara @riskyayaya mengatakan: “Masya Allah, Mwantaaap”.

Lain lagi dengan si empunya akun @eninovianty. Dia bilang: “Mantab…kalo deket tiap hari bakal kesana,’’ tulisnya.

Hal senada juga diungkapkan pemilik akun @kang.aprizal. Dia  berkomentar: “Luar biasa, semoga bisa jadi contoh masjid-masjid lainnya yang di Bandung”.

Untuk lebih meyakinkan terkait informasi tersebut, SiarMasjid langsung menghubungi salah satu pengurus Masjid Jogokariyan lewat pesan WA.

Ternyata jawabannya memang benar, pengurus Masjid Jogokariyan menggelar buka puasa sunnah Syawal tahun ini.

Bahkan menurut pengurus tersebut, kegiatan buka puasa sunnah Syawal selalu diadakan Masjid Jogokariyan setiap tahun, selama satu minggu, tepatnya selepas Lebaran.

Sebelumnya, masjid yang berada di Jalan Jogokariyan No 36, Mantrijeron, Kota Jogja, Yogyakarta ini sukses menggelar Festival Kampoeng Ramadhan Jogokariyan 1439 H selama sebulan.

Acara bukan hanya buka puasa bersama setiap hari, pun masih banyak lagi antara lain sahur bareng, tabligh akbar bersama Tengku Zulkarnain, Ustadz Bachtiar Nasir, dan Ustadz Ridwan Hamidi, Taraweh Ala Madinah 1 juz dan Subuh Syahdu bersama  Abdul Azizi Maarif (al-hafidz).

Selain itu ada  pengajian jelang Ramadhan, berbagi sembako sahur, pembukaan pasar sore, taraweh dengan imam dari negeri Syam, kajian  obrolan dan lagu (kolag), ngobrol inspirasi (ngopi), kajian muslimah “parenting”, qur’an camp, Ramadhan kids corner, dan  i’tikaf 10 hari full serta Syiar Takbir bertema “Bersatulah Negeri, Merdekalah Palestina” yang diisi dengan takbir keliling, display, dan pentas seni.

Menariknya, semua acaranya itu berikut suasana Masjid Jogokariyan dipublikasikan lewat media sosial terutama IG sehingga tersiar luas dan membuat namanya menasional bahkan mendunia.

Melihat begitu kreatif dan inovatif para pengurus Masjid Jogokariyan, rasanya tak berlebihan bila masjid yang berdiri tahun 1966 ini pernah dianugerahi penghargaan juara 1 sebagai masjid besar percontohan se-Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2016 dan penghargaan sebagai  masjid besar percontohan idarah Nasional oleh Kemenag RI pada tahun yang sama.Terkait puasa sunnah Syawal, Ustadz Abdul Somad (UAS) menjelaskan inilah dalil dari jumhur atau mayoritas ulama yang menunjukkan sunnahnya puasa Syawal.
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).

Menurut UAS, puasa sunnah syawal itu  6 hari. Pelaksanaannya boleh dilakukan sekaligus atau 6 hari berturut-turut, boleh juga tidak berturut-turut atau dicicil, yang penting hingga akhir Syawal jumlahnya 6 hari.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo, ig: @adjitropis)
Foto: @masjidjogokariyan

Captions:
1.  Suasana luar Masjid Jogokariyan.
2.   Info Buka Puasa Sunnah Syawal di Masjid Jogokariyan.
3.  Interior Masjid Jogokariyan.
4. Jamaah Shalat Subuh terakhir Ramadhan 1439 H sampai di luar Masjid Jogokariyan.

Kamis, 14 Juni 2018

Para Dai Kondang Bakal Jadi Khatib Shalat Idul Fitri 1439 H di Masjid dan Lapangan Ini


Sejumlah ustadz ternama dipastikan akan menjadi khotib shalat Idul Fitri  I Syawal 1439 H atau besok, Jumat (15/6/2018) di masjid ataupun lapangan diberbagai kota di Tanah Air.


Ustadz Abdul Somad (UAS) misalnya akan berkutbah Idul Fitri 2018 di  Lapangan Taman Bukit Gelanggang, Kota Dumai, Riau.


Kepastian UAS super kondang tersebut disebarluaskan di akun Instargram (IG)-nya @ustadzabdulsomad hari ini, Kamis (14/6/2018) malam.


Dai yang kerap wara-wiri di layar kaca Ustadz Subki Al-Bughury akan berkhutbah di Selasar Medco Ampera. Pelaksanaan shalatnya pukul 06.45 sampai 8 pagi.


Informasi tersebut disampaikan Ustad Subki langsung dari akun IG-nya @subkialbughuri.

Prof. Dr. KH. Didin Hafidhuddin, MS dipastikan akan berkhutbah di halaman Rektorat Universitas Ibn Khaldun di Jalan Sholeh Iskandar Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Ustadz yang menjadi imamnya Ripki Mulia Rahman. Informasi shalat Idul Fitri yag akan berlangsung pukul 6.30 pagi sampai selesai itu tersiarkan dari  akun IG @masjidalhijri2.


Sementara ustadz tersohor lainnya Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) ditunjuk sebagai Khatib shalat Idul Fitri 1439 H di Masjid Istiqlal, Jakarta, mulai pukul 7 pagi sampai selesai.

Informasinya disebarluaskan via akun IG @sahabatistiqlal.


Sementara Ustadz Hanan Attaki bukan hanya menjadi Khatib tapi juga  Imam shalat Idul Fitri 1439 H  di halaman Masjid Al-Lathiif Jalan Saninten No 2 Bandung. Informasi tersebut tertuang di  akun IG @masjidallathiif.


Begitupun dengan Ustadz Salafuddin AS yang juga founder dan penulis buku Ngaji Metal (metodel talkin), akan menjadi Khatib sekaligus Imam Shalat Idul Fitri 2018 di Masjid RNI yang berlokasi di Mega Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan  pukul 6 pagi s/d selesai.

Kabar itu tersiarkan lewat akun IG-nya sendiri @salaf_as.


Lain lagi dengan Ustadz Al Habib Muhammad Syahab, pimpinan Majelis Ta’lim & Tadzikir Al-Anwar Jakarta yang akan menjadi Khatib shalat Idul Fitri besok di Masjid Agung Palembang.

Sementara yang menjadi Imamnya adalah Imam Besar Masjid Agung Palembang KH. Kgs. A. Nawawi Dencik, Al Hafizh. Pelaksanaan shalat tersebut dimulai pukul 7 pagi.

Informasinya disampaikan melalui akun IG @irmapalembang.

Ustadz Aziz Situmorang akan menjadi Khatib di Lapangan Sekolah Islam Al Azhar Summarecon Bekasi. Sedangkan yang bertugas sebagai Imamnya Ustadz Taufik Darul K Al-Hafidz.

Ustad Muh. Paidi akan menjadi Khatib sekaligus Imam Shlat Idul Fitri 1439 di Lapangan Parkir Timur De Tjolomadoe, Karanganyar, Jawa Tengah. Pelaksanaannya mulai pukul 7 pagi. Informasinya dari akun IG @de_tjolomadoe.

Sementara Dr. Muhammad Luthfi Zuhdi selaku Direktur Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI akan berkhutbah shakat Idusl Fitri besok di Masjid Ukuwah Islamiyah (UI), Depok.

Ustadz yang bertindak sebagai imamnya adalah Ahmad Yasin  seorang imam rawatiub Masjid UI Depok.

Informasi tersebut disebarlkuaskan lewat akun IG @infokajiandepok.

Ketua umum YPI Al Azhar H Sobirin, HS akan berkhutbah Shalat Idul Fitri besok di Lapangan Hijau  Masjid Agung Al-Azhar, Jalan Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Selaku imamnya H. Mukhtar Ibnu.

Pelaksanaan shalatnya mulai pukul 7 pagi sampai selesai. Informasi tersebut langsung disampaikan di akun IG @masjidagungalazhar.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:

1.   Masjid Agung Palembang (foto: simas.kemenag.go.id

2.   Masjid Istiqlal Jakarta. (foto: adji k.)

3.   Masjid Agung Al-Azhar Jakarta. (foto. adji k.)

Minggu, 10 Juni 2018

Puasa Sejatinya Membentuk Kesalehan Ritual dan Sosial (pun) Selepas Ramadhan


Untuk menilai berkualitas atau tidaknya, diterima atau tidaknya ibadah puasa wajib seorang Muslim, salah satu indikasinya ya pasca-Ramadhan.

Hal itu disampaikan KH. Dadang Muliawan kepada SiarMasjid lewat pesan WA sebelum dai jebolan TPI/MNC TV ini berceramah dalam acara Wisata Berkah Ramadhan di Desa Tinggar, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Minggu (10/6/2018).

 “Apakah orang itu mampu merawat tradisi-tradisi baik tesebut, seperti intens tadarrus alquran, shalat berjamaah di masjid, qiyamullail, semangat ikut ta'lim atau kajian-kajian ilmu, bersedekah, dan lainnya. Atau justru tidak sama sekali,” ujarnya.

Menurut ustadz asal Kabupaten Ciamis, Jawa Barat ini puasa sejatinya juga membentuk kesalehan ritual dan kesalehan sosial selepas Ramadhan.

Kesalehan ritual itu, lanjutnya seseorang berpuasa semata-mata melaksanakan perintah Allah SWT.

Dalam QS Al Baqoroh 183 yang diseru adalah Yaa ayyuhalladziina aamanuu atau wahai orang-orang yang beriman...

“Maksudnya, orang yang mempunyai keyaqinan yang teramat dalam akan keesaan, keagungan, kemuliaan, dan kebesaran Dzat Yang Serba Maha yaitu Allah SWT,” terangnya.

Puasa itu, sambungnya menumbuhkan kesadaran vertikal dan membentuk kecerdasan spiritual.

Hal itu terefleksi lewat kesabaran, jujur, amanah, tanggungjawab, disiplin, dan  mampu menahan diri dari godaan hawa nafsu.

Contoh kongkritnya seseorang yang berpuasa sanggup menahan diri untuk tidak makan, minum, melakukan hubungan suami istri pada waktu siang, meski makanan, minuman, istri halal milik sendiri. Tapi dia bisa menjaga.

“Yang halal saja bisa dijaga, apalagi yang haram. Pasti dia hindari, jauhi atau tinggalkan,” tegasnya.

Intinya kesalehan ritual itu, lanjutnya mempunyai keyakinan yang mendalam bahwa Allah SWT Maha Melihat.

“Merasakan kehadiran Allah, merasa ditatap, diawasi oleh Allah atau Muroqobah. Itulah dampak puasa yang  luar biasa,” tambahnya.

Sementara  kesalehan sosial, orang yang berpuasa merasakan lapar dan dahaga.

“Padahal itu hanya siangnya saja, pas waktu buka, segala makanan dan minuman tersedia. Tapi coba lihat orang-orang disekitar kita, yang kurang beruntung, yang berada dibawah garis kemiskinan. Mereka tiap hari akrab dengan kelaparan. Maka puasa menumbuhkan kepekaan dan kepedulian,” jelas da’i berwajah awet muda ini.

Jadi lewat puasa, diharapkan juga menumbuhkan semangat berbagi, mengulurkan tangan memberikan bantuan kepada kaum dhu'afa, bukan hanya saat Ramadhan melainkan pula di luar Ramadhan.
“Tumbuh kesadaran horizontal, tercipta kesalehan sosial. Maka tujuan saum akan tercapai yaitu "la'allakum tattaquun/menjadi pribadi yang bertaqwa, yang mulia dalam pandangan Allah SWT,” ungkapnya.

Ketika disinggung mengapa 10 hari terakhir Ramadhan banyak masjid kehilangan jamaahnya alias jauh berkurang?

KH. Dadang Muliawan menjawab itulah ujian bagi yang berpuasa, apakah dia bisa istiqomah tidak.

“Karena 10 hari akhir itu godaannya luar biasa, sejumlah mall menawarkan diskon gede-gedean, bikin kue-kue lebaran yang jadi tradisi yang lumayan cukup menyita waktu dan tenaga, sehingga konsentrasi masa berpindah dari masjid ke mall dan pasar,” bebernya.

Menurutnya dibutuhkan komitmen kuat untuk senantiasa konsisten/istiqomah dalam melakukan berbagai amal saleh atau kebaikan dibulan Ramadhan termasuk shalat tarawih.

Selain tausyiah KH. Dadang Muliawan yang bertema “Puasa Membentuk Kesalehan Ritual dan Kesalehan Sosial”, acara Wisata Berkah Ramadhan yang diselenggarakan Madrosah Asysyakur Kuningan ini juga disemarakkan dengan berbagai acara pentas seni seperti marawis, hadroh, dan bela diri pencak silat, serta satunan 200 yatim dan buka bersama 1000 jamaah.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok. kh. dadang muliawan & madrosah asysyakur

Captions:
1. KH. Dadang Muliawan, dai jebolan TPI/MNC TV.
2. Jamaah yang hadir.
3. Ustadz asal Ciamis, Jabar.
4. Tak hanya tausyiah.

Selasa, 05 Juni 2018

Eco Iftar di Masjid Raya Pondok Indah, Tanda Dimulainya Kampanye #PantangPlastik


Ada yang berbeda dengan acara buka puasa bersama (iftar) yang berlangsung  di Masjid Raya Pondok Indah pada Senin (4/6/2018). Semua makanan dan minuman yang dihidangkan untuk jamaah menggunakan piring dan gelas beling, bukan mika atau plastik. Namanya Eco Iftar, buka puasa ramah lingkungan tanpa plastik.

Hal tersebut dilakukan sebagai upaya mengurangi sampah plastik khususnya selama Ramadhan 1439 H.

Acara buka puasa berkonsep Eco Iftar di Masjid Raya Pondok Indah (MRPI), Jakarta Selatan yang digagas Greenpeace Indonesia, organisasi kampanye global yang mempromosikan pelestarian lingkungan hidup, bekerjasama dengan Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (Lembaga PLH & SDA MUI) tersebut, sekaligus menjadi tanda dimulainya kampanye #PantangPlastik.

“Masjid Raya Pondok Indah adalah salah satu masjid yang bekerja sama dengan kami untuk melakukan buka puasa tanpa plastik atau Eco Iftar. Momen bulan puasa adalah momen yang tepat untuk mengawali kampanye #PantangPlastik dimana masjid adalah tempat yang tepat untuk mempengaruhi jamaahnya dalam mengurangi penggunaan plastik,” kata Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi.

Diharapkan lewat kegiatan dapat membuahkan perubahan sikap masyarakat Indonesia khususnya di perkotaan untuk mengurangi ketergantungan penggunaan plastik.

Menurut Atha  penggunaan single-use plastic (SUP) yang paling sering digunakan di Indonesia dan di seluruh dunia adalah botol plastik, kantong plastik, sedotan plastik dan wadah makanan yang terbuat dari plastik.

“Indonesia adalah negara ke-2 setelah Cina dan merupakan satu di antara lima negara Asia Tenggara penyumbang sampah plastik terbesar di lautan dunia,” tegasnya.

Diperkirakan, konsumsi plastik setiap penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 250 juta ini dapat mencapai 17 kg per tahunnya.  

Kekhawatiran ini teramplifikasi dengan fakta bahwa elemen plastik tidak dapat terurai dengan mudah oleh alam dan lautan bahkan dalam kurun waktu ratusan tahun.

“Untuk itu, selain giat mengedukasi masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik, kami juga mendorong Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk reduksi sampah, dan tentunya mendorong implementasi kebijakan yang sudah ada,” tambah Atha.

Ketua Lembaga PLH & SDA MUI Dr. Hayu S. Prabowo menilai pemanfaatan momen Ramadhan dengan membangkitkan kesadaran umat Muslim bahwa pelestarian lingkungan dan pemeliharaan alam sebagai bagian dari iman dan tanggungjawab sosial, merupakan langkah strategis.

Menurut Dr. Hayu hal tersebut selaras dengan firman Allah SWT dengan mengutip Al Quran Surah Al-Qashah ayat 77, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Dr. Hayu mengacu pada laporan yang dikeluarkan oleh Greenpeace tahun 2006, Plastic Debris in the World’s Oceans, yang menyatakan bahwa setidaknya terdapat 267 spesies binatang yang terancam akibat terkena jeratan atau menelan sampah plastik dan merupakan salah satu penyebab kematian mamalia laut dan burung serta ikan setiap tahunnya.

“Krisis lingkungan hidup dengan berbagai manifestasinya sejatinya adalah krisis moral, karena manusia memandang alam sebagai obyek bukan subyek dalam kehidupan semesta. Maka, penanggulangan terhadap masalah ini haruslah dengan pendekatan moral. Pada titik inilah agama harus tampil berperan”, imbuhnya.

Permasalahan sampah telah menjadi permasalahan nasional yang berdampak buruk bagi kehidupan sosial, ekonomi, kesehatan dan lingkungan.

Oleh karena itu, MUI telah menetapkan Fatwa Nomor 47 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan. Salah satu ketentuan hukumnya adalah “Setiap muslim wajib menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan barang-barang gunaan untuk kemaslahatan serta menghindarkan diri dari berbagai penyakit serta perbuatan tabdzir (berbuat sia-sia) dan israf (berbuat berlebih-lebihan)”.

“Salah satu bentuk penerapan fatwa ini adalah melalui program Eco Masjid yang diinisiasi oleh MUI dan Dewan Masjid Indonesia (DMI). Kegiatan Eco Iftar bersama Greenpeace kali ini juga merupakan salah satu upaya ke arah sana”, tukas Dr. Hayu.

Selain di MRPI, rencananya kampanye #PantangPlastik ini akan diteruskan ke masjid-masjid lain di Jakarta dan Bandung dalam acara serupa eco iftar dengan menggunakan kembali gelas keramik, piring kaca, bungkus daun pisang, atau wadah rotan, bukan plastik.

“Jika Pemerintah menegakkan peraturan bagi pemeliharaan lingkungan hidup yang lestari melalui hukum positif, maka kami dari kelompok agama dan masyarakat sipil berjuang dari sisi pembangunan kesadaran serta sikap moral. Salah satunya adalah seperti yang kita lakukan hari ini, mengurangi penggunaan plastik yang dimulai dari diri sendiri,” pungkas Dr. Hayu.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Foto: adji & dok. Greenpeace Indonesia

Captions:
1. Masjid Raya Pondok Indah di Jakarta Selatan jadi venue pertama Eco Iftar.
2. Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi.
3. Ketua Lembaga PLH & SDA MUI Dr. Hayu S. Prabowo



Sabtu, 02 Juni 2018

Ke Natuna, Jangan Lupa Shalat di Masjid Agungnya yang Berlatar Gunung Ranai


Berkunjung ke Natuna untuk urusan liburan memang tepat, karena banyak pilihan aktivitas wisatanya. Muslim Traveller bisa menikmati pesona pantai-pantainya, keindahan bawah lautnya, pulau-pulau asrinya, bermacam kulinernya, seni budaya melayunya, dan bermacam tourism event-nya. Tapi selama di sana,  jangan lupa luangkan  waktu ke Masjid Agungnya yang berlatar belakang Gunung Ranai untuk menunaikan shalat wajib dan sunah agar kunjungan paripurna.

Kenapa harus ke Masjid Agung Natuna atau yang juga dikenal dengan Masjid Raya Natuna? Ya karena masjid yang dibangun pada tahun 2007 ini punya banyak keistimewaan.

Dari sisi arsitekturnya, cukup unik. Perpaduan gaya   masjid di Cordoba (Spanyol), Masjid Nabawi (Arab Saudi), Taj Mahal (India) terutama kubahnya, dan ukiran khas Turki.

Begitupun dengan sejumlah ornamen interiornya yang mengambil inspirasi dari Al-Quran.

Bagian tengahnya seperti diterangi cahaya alami yang bersumber dari kubah berlukiskan kaligrafi dan bermotif bunga.

Jumlah kubahnya 20 buah yang disusun dalam 3 tingkatan. Kubah utamanya menyimbolkan sifat ihsan yang merupakan tingkatan keimanan yang tertinggi dalam agama Islam.

Di bawahnya  6 buah kubah berukuran lebih kecil yang melambangkan rukun iman dalam agama Islam.

Di tingkatan terbawah adat 12 kubah yang menyimbolkan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Bangunan utamanya dikelilingi 4 menara dengan tiap sisinya terdapat  6 kubah berwarna hijau dan kuning terang.

Ruang utamanya tersebut ditopang dengan enam pilar.

Mihrabnya setinggi 10 meter dilapisi kayu jati dan ukiran kaligrafi dua kalimat syahadat.

Dua mimbar berbahan kayu berada di samping tempat imam memimpin shalat.

Masjid yang menjadi ikon wisata religi di salah satu pulau terluar di Indonesia ini mampu menampung sekitar 200 ribu jamaah. Setiap baris atau shaf-nya bisa memuat 180 jamaah.

Plaza masjidnya sangat luas, sangat memungkinkan untuk  tempat kegiatanbesar seperti MTQ, manasik haji, Shalat Ied, Shalat Idul Adha, dan acara-acara besar Islam lainnya.

Melihat daya tampung dan kemegahan bangunannya, tak berlebihan rasanya kalau  masjid yang dibangun  di atas lahan seluas sekitar satu hektare sebagai bagian dari Kompleks Gerbang Utaraku yang difungsikan sebagai pusat pemerintahan dan bisnis di Ranai atau Ibukota Kabupten Natuna ini disebut-sebut terbesar dan termegah di Kepulauan Riau (Kepri).

Keistimewaan lain masjid ini, berpemandangan menawan dengan latar belakang Gunung Ranai.

Kalau gemar mendaki, bisa juga mendaki puncak gunungnya yang tak berapi dan berketinggian 1.035 meter di atas permukaan laut (Mdpl) ini.

Tak sulit menjangkau Masjid Agung Natuna. Dari Bandara Lanud Ranai membutuhkan sekitar 10 menit berkendara mobil melalui Jalan Datuk Kaya Wan Mohammad Benteng dari arah Kota Ranai menuju Pantai Tanjung.

Inapnya antara lain bisa di Hotel Elmas. Sedangkan bersantap kuliner khasnya antara lain di Restoran Natuna Food.

Cicipi pula Ikan Asap-nya yang lezat dan panganan khasnya yakni Kernas yang nikmat di Sedanau dan Pantai Tanjung.

Kalau Muslim Traveller ke Natuna ingin melihat tourism event-ya, datang saja pas penyelenggaran Festival Wisata Bahari yang akan digelar 6-12 Juni 2018 di Pantai Tanjung/Teluk Selahang dan Festival Layang-Layang 26-29 Juli 2018 di Runway Lanud Raden Sadjad.

Jika ingin menikmati suguhan seni budaya melayu khas Natuna datanglah saat penyelenggaraan Parade Tari Daerah Tingkat Provinsi tanggal 12 Juni 2018 di Ranai.

Kalau datangnya di luar even, bisa menghubungi/mengunjungi  Langkadura, salah satu sanggar seni budaya Natuna ternama di Ranai.

Tapi sekali, jangan lupa shalat sunah tahiyatul masjid, sunah qobliyah, dan ba’daniyah serta shalat wajib lima waktunya di Masjid Agung Natuna saja.
Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Foto: @qqfirdaoes, @natuna_tourism & @sanggar_langkadura

Captions:
1.  Masjid Agung Natuna diambil dengan drone.
2.  Disebut-sebut masjid terbesar dan termegah se-Kepri.
3. Para seniman Melayu Natuna Sanggar Langkadura.


Jumat, 01 Juni 2018

Ini Rahasia Kemakmuran Masjid Jogokariyan Sampai Bergaung ke Mancanegara


Meskipun bangunannya tak sebesar dan semegah Masjid Istiqlal di Jakarta, Masjid Kubah Emas di Depok, Masjid Al Akbar di Surabaya, Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang, Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh, ataupun Masjid Agung Natuna di Ranai, Kabupaten Natuna dan sejumlah masjid lain, namun Masjid Jogokariyan di Jogja terbilang makmur, tersohor namanya, dan sukses menjadi salah satu masjid yang berhasil menarik kunjungan wisatawan baik saat maupun diluar Ramadhan.

Sampai akhirnya timbul pertanyaan kenapa Masjid Jogokariyan yang berdiri di tengah kampung di pinggiran Selatan Kota Jogja ini bisa makmur dan tersohor keberadaannya sampai ke mancanegara?

Masjid Jogokariyan beralamat lengkap di Jalan Jogokariyan 36, Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, Kota Jogja, Provinsi Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta.

Masjid yang dibangun tahun 1966, dan setahun kemudian digunakan ini diberi nama sesuai nama kampung tempat masjid ini berdiri yakni Jogokariyan.

Kabarnya ini mengikuti kebiasaan Nabi Muhammad SAW yang memberi nama masjid yang didirikannya sesuai dengan di mana masjid itu berada.

Pembangunan masjid ini berawal dari wakaf seorang pedagang batik dari Karangkajen, Yogyakarta.

Posisi awalnya di sebelah selatan kampung Jogokariyan, kemudian pindah ke tengah kampung, dan sekarang dengan segala perkembangannya,  masjid ini berdiri di sudut perempatan kampung.

Semula masjid ini hanya terdiri atas bangunan inti sebesar mushola.

Setelah tahun 2006, pengurus masjid mendirikan Islamic Center di bagian Timur bangunan utama.

Segala aktivitas pelayanan jamaan kerap ditempatkan di Islamic Center Masjid Jogokariyan.

Berdasarkan pengamatan SiarMasjid, kemakmuran dan ketersohoran Masjid Jogokariyan dipicu beberapa faktor pendukung.

Pertama pengurus masjid ini punya visi dan misi yang kuat. Visinya ingin mewujudkan masyarakat sejahtera lahir bathin yang diridhoi Allah melalui kegiatan kemasyarakatan yang berpusat di masjid.

Misinya antara lain menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan masyarakat, pusat kegiatan masyarakat, tempat rekreasi rohani jama’ah, dan sebagai pesantren dan kampus masyarakat.

Kedua pengurus dan remaja masjidnya aktif, kompak, dan kreatif.

Tahun ini saja remaja masjidnya menggelar even Muslim Art Competition berskala Nasional 17-18 Maret lalu dan Lomba Mural Tingkat Nasional 20 Februari-9 Maret lalu.

Selama Ramadhan 1439 H, pengurusnya menyelenggarakan Kampoeng Ramadhan Jogokariyan dengan berbagai kegiatan seperti pengajian jelang ramadhan, berbagi sembako sahur, pembukaan pasar sore, taraweh dengan imam dari negeri Syam, kajian  obrolan dan lagu (kolag), ngobrol inspirasi (ngopi), kajian muslimah “parenting”, tabligh akbar, sahur bareng, qur’an camp, Ramadhan kids corner, tarawih ala Madinah 1 juz, Hamas Activity, dan  i’tikaf 10 hari full.

Khusus i’tikaf akan dimulai Senin, 4 Juni 2018 dengan agenda check in dan  pembukaan dilaksanakan pada pukul 16.00 (setelah sholat Ashr) di masjid Jogokariyan dengan biaya pendaftaran Rp 300 ribu.

Peserta i’tikaf yang sudah mendaftar bukan hanya dari Yogyakarta dan sekitarnya tapi juga dari Semarang, Purwokerto, Purwakerta,  Bekasi, Tangerang,  Lampung, Palembang, dan Palu, bahkan dari Aceh.

Fakor pendukung ketiga, masjid yang logonya terdiri dari tiga bahasa yakni Arab, Indonesia, dan Jawa ini pun memiliki  sarana promosi segala kegiatannya lewat beragam akun media sosial (medsos) yang lengkap mulai dari Facebook, Twitter, dan Instagram bahkan memiliki Website sendiri yang dikelola secara aktif, kreatif, dan menarik.

Kontaknya pun lengkap mulai dari email, nomor telp, sampai nomor WA sekretariat, penginapannya, dan  pengurus donasi/baitul maal-nya.

Melihat semua itu wajar jika masjid ini mendapat juara 1 hingga juara harapan 2 masjid besar percontohan DIY tahun 2016.

Pada tahun yang sama, masjid ini mendapat penghargaan sebagai  masjid besar percontohan idarah Nasional oleh Kemenag RI.

Masjid ini pun kerap dikunjungi para pengurus masjid lainnya untuk melakukan studi banding.

Bukti kalau masjid ini juga kerap dikunjungi wisatawan, di masjid ini dilengkapi dengan penginapan.

Kamar regulernya ada 10 kamar dengan tarif Rp 150 ribu per malam, sudah dilengkapi dengan fasilitas AC, air panas, TV, dan kamar mandi di dalam.

Ada juga family room 1 kamar Rp 250 ribu per malam dengan fasilitas AC, air panas, TV, kulkas, dan bathup.

Menurut pengurusnya penginapan tersebut milik Masjid Jogokariyan yang dibuat untuk menunjang gerakan masjid mandiri.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: @masjidjogokariyan

Captions:

1.  Masjid Jogokariyan, bukan hanya sekadar masjid.

2.  Lokasi Masjid Jogokariyan di Kota Jogja.

3.  Suasana jelang berbuka puasa di Masjid Jogokariyan.

Selasa, 29 Mei 2018

Masjid Semakin Dimakmurkan, Semakin Memakmurkan


Judul tulisan di atas itu adalah ungkapan yang terlontar dari mulut Menteri Pariwisata  (Menpar) Arief Yahya beberapa waktu lalu. Terkait omongannya itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang dipimpin menteri Muslim asal Banyuwangi itu akan menentukan masjid-masjid yang bakal dikelola secara profesional, baik secara ekonomi maupun spiritual, bersama dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI).

“Target destinasi religi berbasis masjid itu, bisa berkontribusi sebesar 10 persen bagi jumlah wisatawan musim atau family friendly,” terang Arief Yahya.

Menurutnya masjid merupakan Destinasi Wisata Religi yang mengandung spiritual value dan economic value. Oleh karena itu harus dikelola secara modern dengan ekosistem pariwisata halal.

“Misalnya masalah kebersihan harus diperhatikan, pengelolaan menggunakan teknologi informasi dan lain-lain,” pesannya.

Dia pun mengimbau Pemerintah Daerah agar berkomitmen dalam mengembangkan Destinasi Wisata Religi berbasis masjid tersebut. 

"Atraksi bisa dikembangkan karena bernilai sejarah, keunikan serta aktivitas yang ada pada masjid atau destinasi yang dipilih," tambahnya.

Ketua Tim Percepatan Wisata Halal Kemenpar Riyanto Sofyan mengatakan masjid yang dipilih harus dikaitkan dengan kaidah pengembangan Destinasi.

“Artinya terpenuhi unsur Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas atau 3A-nya dan populer namanya serta memang sudah banyak dikunjungi wisatawan misalnya seperti Masjid Sang Cipta Rasa di Keraton Kasepuhan Cirebon,” terangnya.

Menurut Riyanto selain Cirebon, destinasi wisata religi berbasisi masjid lainnya yang dikembangkan antara lain Pondok Pesantren Tebuireng, Masjid dan Makam Sunan Ampel, Masjid Demak, Makam Sunan Gunung Muria, Makam Kesultanan Banten, Makam Kesultanan Siak, Makam Syekh Makhmud Barus, dan Makam Syekh Yusuf.

"Pondok Pesantren Tebuireng (Makam KH Abdurrahman Wahid), Jombang, Jawa Timur di luar bulan Ramadhan biasanya dihadiri 2000  peziarah perhari, dari segala juru Nusantara. Menjelang Ramadan dapat meningkat sampai 2 kali lipat," jelasnya.

Sementara, Makam Syekh Makhmud Barus di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara merupakan Titik Nol Penyebaran Islam di Nusantara pada tahun lalu.

"Ada juga Makam Syekh Yusuf di Makassar dimana Syekh Yusuf merupakan penyebar agama Islam di Afrika Selatan oleh karena itu banyak dikunjungi Wisatawan Muslim Mancanegara dari Afrika Selatan," tambahnya.

Belum lagi sejumlah masjid berikut makam yang kerap dikunjungi peziarah seperti Masjid dan Makam Sunan Ampel di Surabaya, Jawa Timur, Masjid Demak di Jawa Tengah, Makam Sunan Gunung Muria di Kudus, Makam Habib Husein, Masjid Luar Batang di Jakarta Utara dan Makam Haji Sekumpul di Martapura, Kalimantan Selatan.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Captions:
1. Masjid Istiqlal Jakarta, salah satu masjid yang makmur karena banyak kegiatan syiar Islamnya diminati umat Muslim.