berita masjid masjid raya masjid unik masjid bersejarah surau ceramah profil

Rabu, 31 Januari 2018

Gerhana Bulan Total Momen untuk Kembali ke Jalan Allah SWT

Fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) tahun ini merupakan salah satu dari sekian tanda kebesaran dan kekuasaan sang Maha Pencipta, Allah Subhanahu wa Taala (SWT). Hendaknya disadari dan dijadikan momen untuk kembali ke jalan Allah SWT.

“Jangan justru dibuat guyonan melalui media sosial (medsos) yang sekarang ini banyak terjadi dilakukan umat Islam,” begitu salah satu isi ceramah sekaligus imbauan dari Ustadz Ahmad Sofi selaku khotib Shalat Sunah Gerhana Bulan atau Khusuf berjamaah di Masjid Jami Al-Falah, Kampung Baru, Sukabumi Selatan, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, Rabu (31/1/2018) malam.

Mungkin yang dimaksud Ustadz Ahmad Sofi yang mengenakan baju koko Pakistan, peci, dan sorban serba putih ini, kini banyak bermunculan meme (baca: mim, bukan me-me) gerhana bulan berupa foto maupun kata-kata dan lainnya yang bernada guyonan/melucu/mengejek di medsos.

Menurutnya Allah SWT menunjukkan tanda-tanda kekuasaannya bukan hanya lewat gerhana namun juga segala macam bentuk tanda-tanda kekuasan Allah SWT yang menjadi kenyataan agar membuat manusia takut.

Malam ini, lanjut Ustadz Ahmad Sofi benar terjadi gerhana bulan, maka sunah muakad hukumnya bagi umat Islam untuk melaksanakan Shalat Sunah Gerhana Bulan, walaupun Rosulullah SAW tidak pernah melaksanakan Shalat Gerhana Bulan secara berjamaah.

“Tapi saat terjadi gerhana matahari, Rosulullah melaksanakan Shalat Sunah Gerhana Matahari berjamaah,” terang Ustadz Ahmad Sofi sebagaimana dikutip dari Imam Malik dalam kitab Syarof Shohih Bukhari.

Shalat Khusuf itu adalah salah satu amalan saat terjadi gerhana sebagaimana sabda Nabi Shallahu ‘Alahi Wasallam sebagaimana HR. Bukhari No. 1044:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di anatara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana itu tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakan shalat, dan bersedekahlah”.

Pantauan SiarMasjid, pelaksanaan Shalat Khusuf di masjid yang bersebelahan dengan gedung Sekolah Dasar Islam (SDI) Al-Falah ini berjalan lancar dan khidmat.

Semula salah seorang anggota pengurus masjid ini mengumumkan shalat sunah tersebut akan dilaksanakan ba’da (setelah) Shalat Maghrib berjamaah. Namun akhirnya dilaksanakan setelah Shalat Isya berjamaah.

Keputusan itu diambil setelah beberapa pengurus masjid memantau langit seusai Maghrib namun belum juga nampak gerhana bulan. Namun menjelang Isya, akhirnya baru terlihat gerhana bulan itu.

Sebelum menunaikan Shalat Isya, Ketua Pengurus Masjid Jami Al-Falah KH. Kahmasy Shiddiq sekaligus salah satu imam senior di masjid ini memberikan pencerahan seputar tata cara Shalat Khusuf.

“Niatnya Usholli Sunatan Khusuf Rak'ataini Ma’muman Lillahi Ta’ala. Niat itu salah satu rukun shalat,” jelas KH. Kahmasy Shiddiq.

Setelah itu, baru dilaksanakan Shalat Isya dan Shalat Khusuf berjamaah yang diimami oleh Ustadz Ahmad Haromain yang bersuara empuk.

Penampilan Masjid Jami Al-Falah sebagai tempat penyelenggaraan Shalat Khusuf tidak mengalami perubahan berarti. Hanya jumlah jamaahnya saja yang bertambah berkali-kali lipat.

Suasananya nyaris seperti hari-hari pertama Shalat Tarawih di Bulan Suci Ramadhan. Penuh, semarak, dan banyak anak-anak.

Biasanya kalau Shalat Maghrib berjamaah di masjid ini, jamaah paling banyak setengah ruang utama saja. Tapi kali ini ruangan shalat utamanya yang lantainya ditutupi permadani hijau dan berkapasitas 300 jamaah terdiri atas 15 shaf dimana per shaf-nya bisa memuat 20 orang, penuh.

Bahkan jamaah laki-lakinya mulai anak-anak, remaja, orang dewasa sampai para orang tua sampai memenuhi ruang bagian belakang dan juga ruang sayap sebelah kanan, tepat di belakang sebuah bedug besar.

Sementara ruang di sayap sebelah kiri dipenuhi jamaah perempuan terutama para ibu. Jadi total jumlahnya kira-kira seribuan jamaah. Sedangkan di lantai satu kosong.

Lampu gantung kristal utama berukuran paling besar dan menggantung tepat dari atap kubah yang biasanya dimatikan, kali ini sengaja dinyalakan sehingga ruangan utama masjid yang seluruh dinding dan lantainya dilapisi marmer ini terlihat lebih berkilau dan semakin elegan.

Apalagi ditambah dengan sebuah mimbar berserta kursi yang semuanya terbuat dari kayu berwarna coklat.

Mimbar itu, tempat khotib menyampaikan ceramah terkait fenomena GBT dari kaca mata ajaran Islam. Khotib itu berdiri sambil memegang tongkat juga dari kayu berwarna coklat.

Selepas khotib menyampaikan ceramahnya, acara ditutup dengan bersalam-salaman, sebagaimana biasa dilakukan oleh jamaah setiap kali usai shalat lima waktu di masjid ini.

Sejumlah siswa Al-Falah kemudian menodong Ustadz Ahmad Sofi untuk dimintai tanda-tangan. Dan ustadz berperawakan tinggi kurus yang juga mantan pelajar/jebolan Al-Falah itu pun melayaninya dengan sabar.

SiarMasjid pun menemui Ustadz Ahmad Sofi untuk meminta bahan ceramahnya tadi.

Dia pun memberikan 3 lembar kertas tulis itu. “Ini bahannya tapi tulisan tangan saya jelek, pasti susah dibacanya,” ujarnya.

Sementara di luar masjid, tepatnya di langit, gerhana bulan yang semula berwarna putih, kini sudah berubah kemerahan atau disebut bloodmoon.

MasyaAllah…, kagum…, itu semua terjadi atas kehendak-Nya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Suasana ketika khotib Ustad Ahmad Sofi menyampaikan ceramah Shalat Gerhana Bulan (Khusuf) di ruang shalat utama Masjid Jami Al-Falah, Kampung Baru, Kebon Jeruk, Jakbar, Rabu (31/1/2018)
alam.
2. Jamaah pria memenuhi ruang shalat utama, belakang dan ruang sayap kanan.
3. Gerhana bulan akhir muncul jelang Isya.
4. Suasana Shalat Khusuf di ruang utama Masjid Jami Al-Falah.
5. Ustadz Ahmad Sofi ditodong tandatangan oleh sejumlah siswa Al-Falah
6. Tiga lembar kertas berisi materi ceramah Ustadz Ahmad Sofi yang ditulis tangan.

Selasa, 30 Januari 2018

Masjid-Masjid Ternama Ini Gelar Sholat Gerhana Bulan

Sejumlah pengelola masjid ternama di Tanah Air menggelar Shalat Sunah Gerhana Bulan atau Khusuf pada Rabu, 31 Januari 2018 malam, ba’da Shalat Isya berjamaah.

Di Jakarta misalnya ada Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) yang berlokasi di Jalan Taman Sunda Kelapa Nomor 16, Menteng, Jakarta Pusat.

Kepala Bidang Dakwah dan Peribadatan MASK, KH Nur Alam Bakhtir menjelaskan pelaksanaan Shalat Gerhana Bulan akan diisi tausyiah yang temanya terkait tanda-tanda kebesaran Allah.

MASK yang menempati area 9.920 m² ini tak memiliki kubah, bedug, bintang-bulan, dan sederet simbol yang biasa terdapat dalam sebuah masjid.

Menaranya pun terbilang unik karena bentuknya menyeruoai perahu, sebagai simbol Pelabuhan Sunda Kelapa tempat saudagar muslim berdagang dan menyebarkan syariat Islam pada masa lalu.

MASK mampu menampung 4.424 jamaah. Ini ditunjang dengan Ruang Ibadah Utama MASK, Aula Sakinah, dan Serambi Jayakarta.

Selain itu ada Masjid Cut Meutia, masih di kawasan Menteng, tepatnya di Jalan Cut Meutia, Nomor 1, Jakarta Pusat.

Pengelola Masjid Cut Meutia, Erwin menerangkan setiap ada fenomena seperti gerhana bulan maupun matahari, shalat sunat selalu diadakan di masjid ini.

Masjid yang pelatarannya kerap digunakan untuk acara Ramadhan Jazz Festival setiap Bulan Suci Ramadhan ini merupakan salah satu peninggalan sejarah dari zaman penjajahan kolonial Belanda.

Keunikan masjid ini, mihrab-nya diletakkan di samping kiri dari saf salat (tidak di tengah seperti lazimnya). Posisi saff-nya juga agak miring karena bangunan masjid tidak tepat mengarah kiblat.

Tak ketinggalan Masjid Istiqlal yang beralamat di Jalan Taman Wijaya Kusuma, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat juga akan menggelar shalat gerhana.

Kepala Bagian Protokol Masjid Istiqlal, Abu Hurairah Abdul Salam menerangkan pelaksanaan shalat gerhana dilakukan setelah Isya. Ba’da shalat akan ada khutbah oleh Imam Masjid Istiqlal Prof. KH Nasarudin Umar atau jika berhalangan akan digantikan oleh Imam Rawatib, atau Iman yang memimpin tiap hari, Tuan Guru Ahmad Husni Ismail.

Masjid yang berarsitektur modern dengan lantai dan dinding berlapis marmer dan dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat serta terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar ini ini mampu menampung lebih dari 200.000 jamaah.

Bangunan utama masjid ini dimahkotai satu kubah besar berdiamate 45 meter yang ditopang 12 tiang besar dan menara tunggal setinggi total 96,66 meter.

Di Jawa Tengah, ada Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Pengelolanya menyiapkan plaza masjid atau di bawah payung elektrik raksasa untuk pelaksanaan Salat Gerhana Bulan.

Selepas Shalat Maghrib berjamaah diadakan pengamatan gerhana bulan yang akan dipandu oleh Ketua Tim Hisab Rukyat (THR) Menara Al-Husna Masjid Agung Jawa Tengah yang juga Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia Ahmad Izzuddin.

Setelah itu Shalat Isya berjamaah baru Shalat Gerhana Bulan. Imam besar MAJT akan menjadi imam Salat Gerhana Bulan sedangkan Prof. Dr. H. Abdul Jamil MA akan menjadi khotib.

Selepas Shalat Gerhana Bulan dilanjutkan dengan simulasi operasional teleskop dan pengamatan gerhana.

Sejumlah peralatan untuk pengamatan telah dipersiapkan untuk melakukan pengamatan Gerhana Bulan Total seperti teleskop, binokuler dan lainnya.

MAJT yang berarsitektural campuran Jawa, Islam, dan Romawi ini beratap limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya serta sebuah menara bernama Menara Asma Al-Husna yang terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter.

Masjid yang berada di Semarang ini mampu menampung 6.000 jamaah ditambah 10 jamaah di serambi-nya. Area serambinya sendiri dilengkapi 6 payung raksasa otomatis atau payung elektrik setinggi masing-masing 20 meter seperti yang ada di Masjid Nabawi.

Di Jawa Timur, pengelola Masjid Nasional Al-Akbar juga akan menggelar Shalat Gerhana Bulan. KH Abdul Hamid Abdullah sebagai imam dan KH Abdussalam Nawawi sebagai khotib.

Masjid Nasional Al Akbar yang juga biasa disebut Masjid Agung Surabaya merupakan masjid terbesar kedua di Indonesia setelah Masjid Istiqlal di Jakarta. Masjid ini bisa menampung 59.000 jamaah.

Masjid yang berada di samping Jalan Tol Surabaya-Porong ini memiliki sebuah kubah besar didampingi 4 kubah kecil berwarna biru dan sebuah menara setinggi 99 meter.

Puncak menaranya dilengkapi dengan view tower pada ketinggian 68 meter yang dapat memuat sekitar 30 orang. Jamaah bisa mencapainya dengan menggunakan lift untuk melihat pemandangan kota Surabaya.

Sejumlah masjid lainnya di Surabaya seperti Masjid Al-Fath, Masjid Al-Mufidah, Masjid Remaja, Masjid Faskho, Masjid KH Mas Mansyur Unmuh Surabaya, Masjid Asy-Syuhada, Masjid Al-Ikhlas, Masjid Gunung Sari Indah, Masjid Al-Huda Gubeng, Masjid Al-Furqom, dan Masjid Jendral Sudirman juga akan menggelar hal serupa.

Di Kalimantan Tengah, pengelola Masjid Jami Darul Wustha Kumai Hulu yang berada di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) juga akan menggelar Shalat Gerhana Bulan.

Di Lampung, teoatnya di Kota Bandarlampung, sebanyak 20 masjid dan musholah juga akan menggelar Shalat Gerhana Bulan sebagaimana diungapkan wakil ketua Dewan Dakwah Lampung Ustadz Hafi Suyanto.

Super-Blue-Blood-Moon
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) 2018 akan berlangsung cukup lama, mulai pukul 18.48 WIB sampai berakhir pada pukul 22.11 WIB.

Menurutnya GBT kali ini sangat spesial lantaran memiliki beragam sebutan yakni Blue Moon karena ini purnama kedua pada Januari setelah 1 Januari lalu, Super Moon karena jarak Bulan sangat dekat dengan Bumi, dan Blood Moon karena saat gerhana total, bulan tampak merah darah.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Gerbang Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakpus.
2. Pesona Masjid Istiqlal Jakarta di malam hari.
3. Masjid Istiqlal Jakarta diambil dari Stasiun Juanda.

Senin, 29 Januari 2018

Ratusan Ribu Umat Islam Semarakkan Kajian Hari Alquran di Masjid Istiqlal

Sekitar 200 ribu lebih Muslimin dan Muslimat dari berbagai daerah di Tanah Air menyemarakan Kajian Spesial Majelis Talim Pemuda  Istiqlal bertajuk  Hari Al-Quran yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (28/1/2018) mulai ba’da Ashar.


Sejak pagi, umat Islam sudah berdatangan. Ada yang membawa kendaraan pribadi, naik kereta commuter line, busway Trans Jakarta, online transportation, dan transportasi umum lainnya.

Kebanyakan yang datang secara berkelompok, baik itu se-pengajian/majelis, satu sekolah/kampus maupun satu ormas.

Tak sedikit orangtua yang membawa serta anak-anaknya. Salah satunya keluarga Ahmad (55) dari Tangerang yang membawa istri dan 3 anaknya dari kelas SD, SMP, dan SMA.

“Saya sengaja bawa anak-anak dalam setiap acara-acara bermuatan Islam untuk ikut men-syiarkan Islam,” aku Ahmad yang berprofesi sebagai pedagang kelontong di pasar.

Acara ikrar Hari Al-Quran yang disiarkan Akhyar TV ini diisi dengan peluncuran sekaligus pembagian sekitar 9.000 eksemplar buku berjudul “Muslim Zaman Now: Metode At-Taisir 30 Hari Hafal Al-Quran” dengan cover berwarna biru langit karya Ustadz Adi Hidayat Lc Ma secara gratis.

Sejumlah penghafal Al-Quran (hafidz) dari anak-anak sampai orang dewasa ikut hadir. Ada Ustadz Kabolosi (pejuang Al-Quran dari Ambon), Ustadz Bahrudin (pejuang Al-Quran dari Bekasi), dan ada hafidz dari Aceh berusia 56 tahun yang tidak melihat (buta).

“Ahli Qur’an ini bukan tidak bisa melihat tapi matanya dijaga Allah untuk tidak melihat maksiat,” ungkap Ustadz Adi Hidayat.

Selain itu ada Fajar yang lahir dengan lumpuh otak. Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa ketika lahir Fajar divonis dokter akan kesulitan segalanya. Tapi orangtuanya tidak putus asa, justru menganggap itu kemuliaan dari Allah untuk diteruskan.

“Ayahnya membacakan Al-Qur-an setiap Fajar disusui ibunya. Ketika Fajar pertama berbicara yang keluar adalah ayat-ayat suci Al-Quran. Kini dia sudah hapal 30 jus. Takbiiir...,” teriak Ustadz Adi Hidayat seraya disambut Allahu Akbar oleh ribuan umat Muslim yang memenuhi ruang shalat utama Masjid Istiqlal hingga lantai 4.

“Kita yang divonis otak sehat, seharusnya kita lebih semangat dari pada Fajar dalam menghafal al-Qur’an,” tambah Ustadz Adi Hidayat.

Selain itu ada Kamil dan Ahmad dua bocah Hafidz Indonesia 2017 serta generasi berikutnya Ibrahim dan Auf.

Baik Fajar, Kamil dan Ahmad serta Ibrahim dan Auf kemudian di-test hafalan Al-Quran-nya oleh Ustadz Adi Hidayat.

Mereka pun bukan hanya hafal nama surah dan ayat-nya pun sampai tahu halaman dan letak ayat tersebut di posisi kiri atau kanan. Begitupun ketika mereka di-test oleh tokoh dunia dan ahli Al-Quran dari Turki dan Yaman.

Pada kesempatan itu, sebanyak 20 penghapal Al-Quran selain mendapat hadiah naik haji gratis dari duta besar Saudi Arabia, mereka pun mendapat uang saku sebesar 5.000 USD.

Acara yang juga dihadiri presenter TV kondang Arie Untung dan istrinya Fenita, sejumlah duta besar, para ahli Al-Quran, dan Ustad Kasif Heer pemandu acara “La Tahzan” di MNC Muslim, serta si ayah kembar yang memiliki dua anak kembar yang juga penghafal Al-Qur’an ini berlangsung ba’da Asyar dilanjutkan dengan Shalat Maghrib berjamaah sampai Shalat Isya berjamaah berjalan lancar dan tertib.

Pantauan SiarMasjid yang datang dan meliput acara ini terlihat banyak anak muda, terlebih para orangtua yang tersentuh melihat para penghafal Al-Quran.

Berkat acara ini, terlebih melihat para hafidz anak-anak, mereka mengaku malu sekaligus terpacu untuk terus mempelajari dan menghafal ayat-ayat suci Al-Quran. Alhamdulillah…

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Seorang pemuda mengikuti acara Hari Al-Quran dari lantai 2 Masjid Istiqlal Jakarta.
2. Acara Hari Alquran 28 Januari 2018 di Masjid Istiqlal.
3. Megahnya Masjid Istiqlal dengan ratusan ribu umat Islamdi acara Hari Al-Quran.
4. 200 ribu lebih Muslimin dan Muslimat memenuhi Masjid Istiqlal sampai lantai 4 dan halaman luar dalam acara Hari Alquran.
5. Acara Hari Al-Quran sekaligus peluncurandan pembagian buku: "Muslim Zaman Now: Metode At-Taisir 30 Hari Hafal Al-Quran” karta Ustadz Adi Hidayat Lc Ma.

Senin, 04 Desember 2017

Gagal Bertemu Ustad Felix Siauw di Reuni 212, Akhirnya Bersua di Masjid Al Hidayah


“Yaa Allah berkahilah Negeri ini, jauhilah dari Asing dan Aseng. Aseng yang mana? Aseng yang menggerogoti perekonomian Negeri ini, bukan Aseng yang ada di depan kalian. Saya ini Aseng tapi saya tidak jahat atau menggerogoti perekonomian Negeri ini”.
Begitu rentetan kalimat singkat tapi tegas yang dilontarkan ustad kelahiran Palembang, keturunan Tionghoa-Indonesia, Ustad Felix Siauw (UFS) saat tampil di hadapan jutaan ummat Islam di panggung utama Reuni 212 di lapangan Tugu Monumen Nasional (Monas), Medan Merdeka, Jakarta, Sabtu (2/12/2017) yang berhasil saya rekam dari kejauhan.

Hari itu saya gagal memotret ustad berlabel Mbois (mbotak sipit) karena memang aslinya bermata sipit berusia 33 tahun itu, apalagi menemui dan mewawancarainya.

Saya tidak bisa mendekati panggung utama lantaran lapangan di depan panggung sudah melaut manusia.

Saking jauhnya, sedikitpun saya tidak bisa melihat ustad bernama lengkap Felix Yanwar Siauw itu.

Setelah ustad yang pernah menjadi penceramah di acara TV Nasional bertajuk “Inspirasi Iman” yang dipandu Oki Setiana Dewi dan Jarwo Kwat di TVRI ini selesai memberi sambutan, saya mendapat informasi dari seorang peserta Reuni 212 yang mundur ke belakang untuk membeli makanan.

Kata orang itu, UFS tadi tampil berdiri sambil memegang microphone dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya sambil mengacungkan salam satu jari, salam Tauhid, Lailahaillallah.

“Dia (UFS-red) mengenakan baju batik lengan pendek berwarna orange dan celana bahan berwarna hitam serta bertopi bundar berwarna abu-abu. Dia pun menyerukan takbir, lalu jamaah kompak berteriak Allahu Akbar,” kata orang itu.

UFS adalah salah satu alasan mengapa saya begitu bersemangat menghadiri Reuni 212 ini.

Bukan sekadar ingin berjumpa dengan penulis sejumlah buku antara lain “Beyond the Inspiration”, “Udah Putisin Aja”, “Yuk Berhijab”, dan “Khilafah Remake” ini, pun karena ada beberapa hal yang saya ingin tanyakan. 
Terutama soal penolakan ceramah pengajiannya di beberapa tempat. Selama tahun 2017, UFS sudah mendapat sekurangnya 6 kali penolakan.

Saya pun ingin tahu bagaimana dia mengatasinya hingga tetap tegar dan terus berdakwah.

Namun Allah SWT berkehendak lain. Saya belum diijinkan bertemu dengan ustad yang pernah berkuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini di special moment itu.

Sebenarnya, saya ingin menunggu sampai kerumunan massa perlahan menyusut, lalu menghampiri panggung utama untuk menemui ustad mualaf yang masuk Islam pada 28 Maret 2013 itu.

Tapi siang itu saya ada urusan lain, yakni menghadiri resepsi pernikahan pengantin 212, Robi dan Ima di Cilebut, Jawa Barat.

Meskipun hari itu saya berhasil mewawancarai beberapa pedagang dan peserta Reuni 212 serta mengabadikan beberapa objek menarik terkait suasana acara tersebut, kemudian kesampaian pula menghadiri pesta perkawinan sang pengantin 212 itu, namun tetap saja ada yang kurang. Ya, itu tadi gagal bertemu UFS.

Saat berada di dalam kereta commuter line, dalam perjalanan pulang dari Cilebut menuju Tanah Abang, saya membuka Instagram (IG).

Seketika saya mendapat informasi dari akun IG @mediamuslimin tentang acara Kajian Islam bertajuk ‘Antara Wahyu & Nafsu’ dengan penceramah utama UFS.

Acara tersebut akan berlangsung di Masjid Al Hidayah, Jalan Punai Raya, Sektor 2, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan pada Ahad, 3 Desember 2017 pukul 08.30-11.30 WIB.

Dalam hati berucap, mungkin ini jawaban doa saya. Allah tidak mengizinkan saya bertemu UFS saat Reuni 212, mungkin besok, Minggu di Kajian Islam tersebut.

Esoknya, Minggu pagi saya meluncur ke Masjid Al Hidayah dengan ojek online. Jaraknya cukup jauh, sekitar 10 Km tapi ongkosnya cuma Rp 12 ribu.

Saya pun memberi tambahan buat tukang ojek-nya sebagai tanda terimakasih karena sudah berhasil mengantarkan saya ke masjid tersebut.
Sewaktu tiba di masjid, terlihat sejumlah jamaah pria berada di bagian depan dan sayap kanan, sementara jamaah perempuan beserta anak-anak di bagian belakang.

Sayangnya, ustad yang pernah bergabung menjadi aktivis gerakan Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) itu sudah selesai menyampaikan kajiannya. Untungnya sesi tanya-jawab belum berlangsung.

Akhirnya sesi diskusi dimulai. Moderator memanggil UFS untuk tampil kembali. Dia duduk di kursi dan di depannya meja kayu berwarna coklat.

Spontan dalam hati saya berucap syukur. Alhamdulillah akhirnya bisa melihat langsung orang yang saya cari-cari.

Maklum selama ini saya hanya melihat UFS di akun IG-nya @felixsiauw sekaligus membaca sejumlah tulisannya yang cerdas dan tegas. Sekalipun saya belum pernah bertemu, mewawancari, dan memotretnya.

Hari itu, ayah 4 putri itu mengenakan baju batik lengan pendek berwarna biru telur asin dengan kombinasi kuning, hijau, putih dan coklat, bercelana panjang hitam serta bertopi bulat abu-abu. Nampak bersahaja.

UFS langsung menjawab beberapa pertanyaan para jamaah. Ada yang bertanya soal dakwah (baca: Ustad Felix Siauw: Berdakwah Lillahi Ta’ala Bukan Kerena Penguasa), acara Reuni 212 kemarin, dan lainnya.

Tepat pukul 11.00 WIB, UFS menyelesaikan jawabannya sekaligus menutup kajian. Setelah itu dia melayani para jamaah yang hendak meminta tanda tangan, bersalaman, dan berfoto bersama.

Saya pun langsung masuk ke dalam masjid, lalu mengabadikan semua moment itu. Kesempatan itu pun saya pergunakan untuk berfoto bersama dengannya kemudian mewawancarai secara singkat seputar kiat dalam berdakwah dan menghadapi pihak-pihak yang menentang. Semua diindahkan UFS dengan ramah.

Dulu semasa Ustad Zainuddin MZ (almarhum) berjaya dengan gaya ceramahnya yang khas hingga mendapat julukan da’i sejuta ummat, saya pun ‘mengejar’-nya ke beberapa tempat.

Begitupun saat awal mula Aa Gym berhasil memikat jutaan jamaah lewat ceramahnya yang sejuk dengan metode manajemen kalbu, saya pun ‘memburu’nya sampai ke Bandung.

Kini giliran UFS yang saya ‘incar’ (mewawancarai dan memotretnya), Alhamdulillah berhasil.

UFS boleh dibilang termasuk ustad jaman now lantaran sangat melek media sosial (medsos) antara lain Facebook, IG, dan Youtube, lalu memanfaatkannya sebagai salah satu wadahnya berdakwah.

Sebagai pendakwah, UFS punya daya tarik dan nilai jual tinggi.

Pertama jelas karena dia Aseng sebagaimana dia ungkapkan tanpa sungkan. Mungkin kalau UFS bukan keturunan Tionghoa, bisa jadi lain lagi ceritanya.

Kedua, lantaran beberapa kali ceramah pengajiannya dibatalkan lalu terekspos luas di media massa dan medsos hingga justru menjulangkan namanya.

Ketiga (ini yang terpenting), meskipun karakter atau gaya berceramahnya belum sekuat dua pendahulunya (Zainuddin MZ dan Aa Gym), namun harus diakui UFS berhasil membetot perhatian jamaah mulai dari anak-anak, terutama kaula muda, termasuk bapak-bapak dan ibu-ibu kekinian berkat tulisan-tulisan dan juga isi ceramahnya yang terang dan berisi.

Karena itu, ustad muda yang tengah naik daun ini laris diundang mengisi kajian Islam, ceramah di acara hari-hari besar Islam, dan pengajian di berbagai tempat di Indonesia.

Buktinya salah satu anak muda pengurus Masjid Al-Hidayah, Ardhi mengaku sudah lama panitia mengundang UFS untuk bisa mengisi kajian Islam di Masjid Al Hidayah ini, namun baru kali ini bisa dipenuhi.
“Sepertinya jadwal ceramah Ustad Felix padet banget,” ujarnya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Ustad Felix Siauw (UFS) di Kajian Islam yang diselenggarakan pengurus Masjid Al Hidayah, Bintaro, Sektor 2, Tangsel.

2. Gagal menemui UFS di Reuni 212 akhirnya berjupa di Kajian Islam Masjid Al Hidayah

3. Inilah UFS yang tengah naik daun meskipun sempat mengalami penolakan-penolakan saat berdakwah.

4. Jamaah ibu-ibu kekinian mengabadikan UFS dengan kamera HP.
5.  UFS melayani jamaah yang hendak meminta tanda tangan dan bersalaman usai berceramah.
6. Ekspresi UFS saat menjawab pertanyaan jamaah.
7. Berfoto bersamam pengurus Masjid Al Hidayah, Bintaro Jaya, Sektor 2, Tangsel.
8. UFS berfoto bersama para penggemarnya.

Ustad Felix Siauw: Berdakwah Ikhlas Lillahi Ta’ala, Bukan Karena Penguasa

Mendapat penolakan berdakwah beberapa kali, tak membuat Ustad Felix Siauw (UFS) melemah apalagi menyerah. Justru dia semakin kuat dan mantap untuk terus menyuarakan amar ma’ruf nahi mun’kar di Negeri ini.
“Berdakwah itu bagi saya kewajiban. Karena itu harus saya lakukan dalam keadaan apapun. Entah itu dalam keadaan baik maupun buruk, dalam keadaan mudah maupun susah,” ujarnya kepada SiarMasjid usai menjadi pembicara dalam Kajian Islam di Masjid Al Hidayah, Jalan Punai Raya, Sektor 2, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Minggu (3/12/2017).
Menurut UFS pertama yang harus dilakukan dalam berdakwah adalah ikhlas.
“Jalankan saja dakwah dengan ikhlas pasti balasannya akan berlipat-lipat. Setiap ujian dalam berdakwah, pasti Allah kasih reward,” terangnya.
Selain ikhlas, lanjut UFS yang harus dipikirkan apakah dakwahnya sudah sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul; apakah sudah maksimal dalam menyampaikan kebaikannya/kebenarannya; apakah sudah dengan cara yang paling lembut atau belum; apakah sudah dengan cara yang paling baik, dan apakah sudah dengan cara yang paling maksimal atau belum.
“Kalau sudah semua, selesai sudah urusannya. Mengenai kemudian ada reaksi orang yang berbeda/bertentangan, itu urusan dia kepada Allah SWT,” tambahnya.
Selanjutnya, berdakwahlah karena Lillahi Ta’ala, bukan karena manusia termasuk penguasa.
“Berdakwah karena manusia itu bikin capek. Jadi berdakwalah karena Allah saja maka Insya Allah akan mendapatan ketenangan dan kebahagiaan yang langsung datang dari Allah SWT,” tambahnya.
Jika ada penolakan-penolakan, itu tidak serta merta berarti dakwahnya salah. “Pastikan dekat dengan ulama. Kalau ulama bilang jalan, Insya Allah jalan,” ungkapnya.
Kata UFS, tak usah mengasihani dirinya yang mengalami pengusiran  dimana-mana.

“Masya Allah, saya justru mendapat karunia yang sangat besar. Saya banyak mendapatkan kebaikan-kebaikan dari Allah,” ungkapnya.
UFS pun menambahkan bahwa orang yang mati di jalan Allah itu sejatinya dia hidup di sisi Allah, mendapat rezeki dari Allah.
“Jadi haram takut kepada manusia, takutlah pada Allah semata,” pungkasnya.
Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Kamis, 13 Juli 2017

Meneduhkan Jiwa di Masjid Agung Al Azhar Waikabubak, Sumba Barat


Urusan berwisata bukan cuma memanjakan mata dengan pemandangan indah, menjawab segala pertanyaan tentang keunikan beragam budaya, dan atau memuaskan lidah dengan bermacam kuliner khas serba lezat.
Tapi tak ketinggalan meneduhkan jiwa menunaikan kewajiban sebagai Muslim, shalat wajib lima waktu di surau mungil ataupun di masjid besar di pelosok dusun maupun kota besar yang disambangi.
Semua itu dilakukan agar ada keseimbangan antara urusan dunia dengan bekal akhirat. Dan semestinya memang harus begitu.

Itu yang selalu SiarMasjid lakukan saat berkunjung kemanapun untuk urusan pekerjaan maupun liburan.

Begitupun saat bertandang ke Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meliput kegiatan Festival Sendalwood dan Festival Tenun Ikat Sumba 2017 yang diselenggarakan Pemrov NTT bekerjasama dengan 4 pemkab-nya dan didukung Kementerian Pariwisata (Kemenpar) baru-baru ini.

Sadar kalau masyarakat Sumba mayoritas Non Muslim, tentu jumlah surau dan masjidnya tidak akan sebanyak di pulau atau di daerah yang mayoritas Muslim.

Untungnya selama berada di Sumba, lokasi penginapan SiarMasjid bersama beberapa rekan dari Kemenpar berada tak jauh dari salah satu masjid terbesar di Kabupaten Sumba Barat, tepatnya di Waikabubak, ibukota Sumba Barat, yakni Masjid Agung Al-Azhar.

Jaraknya dari penginapan Hotel Manandang tak sampai 300 meter.

Lokasinya pun mudah dijangkau, lantaran berada di tepi jalan utama kota tersebut, yakni di Jalan Jendral A. Yani, yang merupakan kawasan perdagangan dengan sejumlah ruko di kiri-kanan dan seberangnya.

Setiap kali shalat di masjid ini, SiarMasjid dan beberapa rekan cukup berjalan kaki dari hotel, sambil menikmati jalan kota yang masih belum lengang lalu lintasnya.

Masjid Agung Al-Azhar tersebut belum sepenuhnya rampung pembangunannya. Pagarnya masih terbuat dari seng, dan tempat berwudhu-nya pun belum jadi, masih yang lama.

“Sudah 5 tahun masjid ini dirombak ulang dan belum selesai sepenuhnya,” kata seorang jamaah masjid tersebut.

Sewaktu pertama kali SiarMasjid datang ke sana untuk Shalat Ashar, air untuk ber-wudhu tidak keluar. Seorang jamaah mengajak para jamaah berwudhu di sumur milik warga di seberang masjid.

Bangunan utama masjid dengan warna dominan putih ini belum 100 persen selesai.

Bagian depannya ada undakan semen menuju serambi masjid yang terbuka dengan 6 tiang.

Interior masjid ini cukup megah dan elegan dengan beberapa tiang besar. Lantai dan dindingnya berlapis porselin berwarna krem. Begitupun dengan mihrab-nya atau tempat imam memimpin shalat berjamaah.

Ornamen kaligrafinya tidak terlalu banyak, jadi nampak bersih ruang dalamnya.

Plafon masjidnya berwarna putih, semakin membuat masjid ini bersih dan lapang.

Bagian dalam kubahnya pun belum tuntas sepenuhnya.

Lantai ruangannya cukup luas, namun belum semuanya diberi karpet sajadah, hanya di bagian depan dekat mihrab untuk dua shaf.

Di bagian mihrab ada tempat berkhutbah yang terbuat dari kayu berwarna coklat.

Keberadaan masjid ini bukan cuma penting buat umat Muslim di Waikabubak khususnya, pun wisatawan maupun pengunjung Muslim yang tengah bertandang, singgah sejenak (transit) ataupun melintasi Waikabubak untuk menunaikan kewajibannya.

Nah, kalau pembaca SiarMasjid kebetulan ke Waikabubak dan ingin shalat berjamaah di masjid ini, tak ada ruginya menyisihkan rezeki untuk beramal atau pun ber-infaq untuk pembanguan masjid ini agar pembangunannya lekas rampung.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Rabu, 07 Juni 2017

Reuni Akbar Alumni 212 Bikin Pesona Istiqlal Bakal Kian Berkilau


Pesona Masjid Istiqlal Jakarta dipastikan bakal semakin berkilau lantaran terpilih menjadi lokasi penyelenggaraan Reuni Akbar Alumni 212, yang akan berlangsung ba’da Shalat Jumat pada hari Jumat (9/6/2017).

Buktinya undangan terkait acara tersebut sudah tersebar kemana-mana, terutama lewat media sosial (medsos) yang tentunya mencantumkan Masjid Istiqlal sebagai venue acara.

Alhasil nama masjid yang berada di Sawah Besar, Jakarta Pusat ini ikut terangkat. Pesonanya sebagai masjid nasional terbesar di Asia Tenggara ini pun semakin berkilau.

Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Masjid yang berarsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer ini dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat.

Bangunan utamanya dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar.

Ruang interiornya besar dan lapang ditambah ventilasi udara yang banyak membuat suasana bagian dalamnya begitu sejuk.

Apalagi karpetnya  jenis karpet berkualitas dan terbaik dibanding masjid lain yang ada di Jakarta.

Karpetnya tebal dan empuk dengan warnah merah ranum. Kondisi seperti itu membuat jamaah tak kuasa untuk duduk, tidur-tiduran, dan  atau mengabadian kemegahan masjid berpilar-pilar besar dengan kamera beragam jenis.

Selain itu ada menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut selatan selasar masjid.

Dalam undangan atas nama Ketua Presedium Alumni 212 Ustad Ansufri Idrus Sambo dan Sekretaris Presedium Alumni 212 Ustad Hasri Harahap ini mengajak ummat Islam terutama para alumni Aksi Bela Islam (ABI) 212 tanggal 2 Desember 2016 lalu untuk mengikuti reuni akbar ini.

Assalamu'alaikum bapak & ibu, wahai kaum Muslimin & Muslimat, wahai para Alumni 212, wahai anak-anak bangsa yang cinta ulama & NKRI! Mari kita bersatu menyuarakan keadilan, mari kita tunjukkan solidaritas kita kepada ulama-ulama dan aktivis yang dizholimi oleh rezim penguasa saat ini,” begitu isi undangan tersebut.

“Mari kita berjihad dan bersatu menyuarakan keadilan dan mendesak rezim Jokowi untuk segera menghentikan kezaliman, fitnah & kriminalisasi kepada para ulama, aktivis-aktivis pro keadilan & Ormas Islam HTI. Khususnya fitnah & rekayasa hukum kepada Habib Rizieq, harus segera dihentikan! Mari bergabung dalam Reuni Akbar 212  & Konsolidasi Ummat,” lanjut undangan tersebut.

Reuni Akbar Alumni 212 rencananya akan diisi dengan 3 acara utama yakni pertama, Tabligh Akbar tokoh-tokoh alumni 212. Kedua, zikir dan doa untuk keselamatan para ulama (khususnya Habien Rizieq), aktivis-aktivis dan Ormas Islam (HTI) yang terzhalimi, serta zikir & doa untuk keselamatan NKRI.

Acara ketiga, pernyataan sikap bersama umat Islam dan Alumni 212 atas kezaliman yg dilakukan rezim penguasan saat ini terhadap para ulama khususnya Habib Rizieq, para aktivis, dan Ormas Islam (HTI).

Reuni akbar atau disebut juga Aksi Bela Ulama (ABU) 96 (9 Juni) ini bertempat di Masjid Istiqlal Jakarta, pukul 13.00 sampai dengan selesai.

“Diharapkan Sholat Jum'at berjamaah di Istiqlal dan membawa air mineral dan makanan ringan untuk persiapan berbuka puasa,” tulis undangan tersebut.

‘Ayoo mari viralkan! Ayoo mari berjihad! Ayooo mari datang berbondong-bondog, ayoo mari ajak keluarga dan kawan-kawan, ayoo ikutan Reuni Akbar Alumni 212 dan Konsolidasi Ummat. Ayoo mari selamatkan ulama,  agama, dan bangsa. Allahu Akbar, Allahu Akbar,” seru   undangan tersebut.

Sebelumnya gaung dan pesona Masjid Istiqlal ini juga terangkat dan berkilau karena beragam kegiatan, antara lain karena pernah menjadi venue  hajatan sujud syukur atas kemenangan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Anies-Sandi) di hitung cepat sejumlah lembaga survei dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, Rabu (19/4/2017).

Sujud syukur tersebut merupakan agenda kelima atau puncak dari kegiatan Tamasya Al Maidah.

Lalu ketika menjadi tempat pendeklarasian Komunitas Cinta Masjid Indonesia (KCMI) yang bertujuan menghidupkan kembali gairah kegiatan bermanfaat di dalam masjid, Sabtu (29/4).

Kemudian saat menjadi lokasi kumpul Aksi Simpatik 55 yang digelar Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI), mulai dari Shalat Jumat di Masjid Istqlal Jakarta dilanjutkan long march ke Mahkamah Agung (MA), Jumat (5/5/207).

Jauh sebelumnya, nama masjid yang pembangunannya diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno dengan arsiteknya Frederich Silaban ini juga terangkat bahkan mendunia lantaran kedatangan tamu tak biasa Presiden AS, Barrack Hussein Obama dan istrinya Michelle, Rabu pagi (10/11/2010), bertepatan dengan Hari Pahlawan.

Kehadiran orang nomor satu di negara adi daya saat itu jelas menjadi perhatian dunia dan turut melambungkan nama masjid megah ini.

Dari sisi wisata religi, halal maupun sejarah, tentu saja semua kegiatan itu membawa berkah tersendiri karena masjid yang mampu menampung 200 ribu jamaah ini akhirnya kembali mendapat publikasi gratis luar biasa, baik dari media masa maupun media sosial.

Tak sulit menjangkau masjid yang berada di bekas Taman Wilhelmina, di timur laut lapangan Medan Merdeka yang ditengahnya berdiri Monumen Nasional (Monas) dan di seberang Gereja Katerdal Jakarta ini.

Letak Masjid Istiqlal (arti harfiah: Masjid Merdeka) ini pun sangat strategis.

Jamaah yang tidak membawa kendaraan pribadi, bisa naik bus Transjakarta turun di Halte Juanda  masuk lewat pintu gerbang Ass-Salam ataudi Halte Istiqlal masuk lewat pintu gerbang Ar-Razaq.

Bus umum lainnya lewat pintu Ar-Razaq adalah Kopaja 20 jurusan Lebak Bulus-Senen dan Metromini 17. Kalau naik kereta api Commuter Line dari Bogor, Tangerang, dan Bekasi turun di Stasiun Juanda.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Captions:
1. Pesona Masjid Istiqlal Jakarta sebagai masjid nasional terbesar di Asia Tenggara.
2. Kemegahan interior kubah Masjid Istiqlal.
3. Suasana shalat berjamaah di dalam Masjid Istiqlal.
4. Naik kereta, bus Transjakarta, dll ke Masjid Istiqlal.