berita masjid masjid raya masjid unik masjid bersejarah surau ceramah profil

Kamis, 13 Juli 2017

Meneduhkan Jiwa di Masjid Agung Al Azhar Waikabubak, Sumba Barat


Urusan berwisata bukan cuma memanjakan mata dengan pemandangan indah, menjawab segala pertanyaan tentang keunikan beragam budaya, dan atau memuaskan lidah dengan bermacam kuliner khas serba lezat.
Tapi tak ketinggalan meneduhkan jiwa menunaikan kewajiban sebagai Muslim, shalat wajib lima waktu di surau mungil ataupun di masjid besar di pelosok dusun maupun kota besar yang disambangi.
Semua itu dilakukan agar ada keseimbangan antara urusan dunia dengan bekal akhirat. Dan semestinya memang harus begitu.

Itu yang selalu SiarMasjid lakukan saat berkunjung kemanapun untuk urusan pekerjaan maupun liburan.

Begitupun saat bertandang ke Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meliput kegiatan Festival Sendalwood dan Festival Tenun Ikat Sumba 2017 yang diselenggarakan Pemrov NTT bekerjasama dengan 4 pemkab-nya dan didukung Kementerian Pariwisata (Kemenpar) baru-baru ini.

Sadar kalau masyarakat Sumba mayoritas Non Muslim, tentu jumlah surau dan masjidnya tidak akan sebanyak di pulau atau di daerah yang mayoritas Muslim.

Untungnya selama berada di Sumba, lokasi penginapan SiarMasjid bersama beberapa rekan dari Kemenpar berada tak jauh dari salah satu masjid terbesar di Kabupaten Sumba Barat, tepatnya di Waikabubak, ibukota Sumba Barat, yakni Masjid Agung Al-Azhar.

Jaraknya dari penginapan Hotel Manandang tak sampai 300 meter.

Lokasinya pun mudah dijangkau, lantaran berada di tepi jalan utama kota tersebut, yakni di Jalan Jendral A. Yani, yang merupakan kawasan perdagangan dengan sejumlah ruko di kiri-kanan dan seberangnya.

Setiap kali shalat di masjid ini, SiarMasjid dan beberapa rekan cukup berjalan kaki dari hotel, sambil menikmati jalan kota yang masih belum lengang lalu lintasnya.

Masjid Agung Al-Azhar tersebut belum sepenuhnya rampung pembangunannya. Pagarnya masih terbuat dari seng, dan tempat berwudhu-nya pun belum jadi, masih yang lama.

“Sudah 5 tahun masjid ini dirombak ulang dan belum selesai sepenuhnya,” kata seorang jamaah masjid tersebut.

Sewaktu pertama kali SiarMasjid datang ke sana untuk Shalat Ashar, air untuk ber-wudhu tidak keluar. Seorang jamaah mengajak para jamaah berwudhu di sumur milik warga di seberang masjid.

Bangunan utama masjid dengan warna dominan putih ini belum 100 persen selesai.

Bagian depannya ada undakan semen menuju serambi masjid yang terbuka dengan 6 tiang.

Interior masjid ini cukup megah dan elegan dengan beberapa tiang besar. Lantai dan dindingnya berlapis porselin berwarna krem. Begitupun dengan mihrab-nya atau tempat imam memimpin shalat berjamaah.

Ornamen kaligrafinya tidak terlalu banyak, jadi nampak bersih ruang dalamnya.

Plafon masjidnya berwarna putih, semakin membuat masjid ini bersih dan lapang.

Bagian dalam kubahnya pun belum tuntas sepenuhnya.

Lantai ruangannya cukup luas, namun belum semuanya diberi karpet sajadah, hanya di bagian depan dekat mihrab untuk dua shaf.

Di bagian mihrab ada tempat berkhutbah yang terbuat dari kayu berwarna coklat.

Keberadaan masjid ini bukan cuma penting buat umat Muslim di Waikabubak khususnya, pun wisatawan maupun pengunjung Muslim yang tengah bertandang, singgah sejenak (transit) ataupun melintasi Waikabubak untuk menunaikan kewajibannya.

Nah, kalau pembaca SiarMasjid kebetulan ke Waikabubak dan ingin shalat berjamaah di masjid ini, tak ada ruginya menyisihkan rezeki untuk beramal atau pun ber-infaq untuk pembanguan masjid ini agar pembangunannya lekas rampung.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Rabu, 07 Juni 2017

Reuni Akbar Alumni 212 Bikin Pesona Istiqlal Bakal Kian Berkilau


Pesona Masjid Istiqlal Jakarta dipastikan bakal semakin berkilau lantaran terpilih menjadi lokasi penyelenggaraan Reuni Akbar Alumni 212, yang akan berlangsung ba’da Shalat Jumat pada hari Jumat (9/6/2017).

Buktinya undangan terkait acara tersebut sudah tersebar kemana-mana, terutama lewat media sosial (medsos) yang tentunya mencantumkan Masjid Istiqlal sebagai venue acara.

Alhasil nama masjid yang berada di Sawah Besar, Jakarta Pusat ini ikut terangkat. Pesonanya sebagai masjid nasional terbesar di Asia Tenggara ini pun semakin berkilau.

Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Masjid yang berarsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer ini dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat.

Bangunan utamanya dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar.

Ruang interiornya besar dan lapang ditambah ventilasi udara yang banyak membuat suasana bagian dalamnya begitu sejuk.

Apalagi karpetnya  jenis karpet berkualitas dan terbaik dibanding masjid lain yang ada di Jakarta.

Karpetnya tebal dan empuk dengan warnah merah ranum. Kondisi seperti itu membuat jamaah tak kuasa untuk duduk, tidur-tiduran, dan  atau mengabadian kemegahan masjid berpilar-pilar besar dengan kamera beragam jenis.

Selain itu ada menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut selatan selasar masjid.

Dalam undangan atas nama Ketua Presedium Alumni 212 Ustad Ansufri Idrus Sambo dan Sekretaris Presedium Alumni 212 Ustad Hasri Harahap ini mengajak ummat Islam terutama para alumni Aksi Bela Islam (ABI) 212 tanggal 2 Desember 2016 lalu untuk mengikuti reuni akbar ini.

Assalamu'alaikum bapak & ibu, wahai kaum Muslimin & Muslimat, wahai para Alumni 212, wahai anak-anak bangsa yang cinta ulama & NKRI! Mari kita bersatu menyuarakan keadilan, mari kita tunjukkan solidaritas kita kepada ulama-ulama dan aktivis yang dizholimi oleh rezim penguasa saat ini,” begitu isi undangan tersebut.

“Mari kita berjihad dan bersatu menyuarakan keadilan dan mendesak rezim Jokowi untuk segera menghentikan kezaliman, fitnah & kriminalisasi kepada para ulama, aktivis-aktivis pro keadilan & Ormas Islam HTI. Khususnya fitnah & rekayasa hukum kepada Habib Rizieq, harus segera dihentikan! Mari bergabung dalam Reuni Akbar 212  & Konsolidasi Ummat,” lanjut undangan tersebut.

Reuni Akbar Alumni 212 rencananya akan diisi dengan 3 acara utama yakni pertama, Tabligh Akbar tokoh-tokoh alumni 212. Kedua, zikir dan doa untuk keselamatan para ulama (khususnya Habien Rizieq), aktivis-aktivis dan Ormas Islam (HTI) yang terzhalimi, serta zikir & doa untuk keselamatan NKRI.

Acara ketiga, pernyataan sikap bersama umat Islam dan Alumni 212 atas kezaliman yg dilakukan rezim penguasan saat ini terhadap para ulama khususnya Habib Rizieq, para aktivis, dan Ormas Islam (HTI).

Reuni akbar atau disebut juga Aksi Bela Ulama (ABU) 96 (9 Juni) ini bertempat di Masjid Istiqlal Jakarta, pukul 13.00 sampai dengan selesai.

“Diharapkan Sholat Jum'at berjamaah di Istiqlal dan membawa air mineral dan makanan ringan untuk persiapan berbuka puasa,” tulis undangan tersebut.

‘Ayoo mari viralkan! Ayoo mari berjihad! Ayooo mari datang berbondong-bondog, ayoo mari ajak keluarga dan kawan-kawan, ayoo ikutan Reuni Akbar Alumni 212 dan Konsolidasi Ummat. Ayoo mari selamatkan ulama,  agama, dan bangsa. Allahu Akbar, Allahu Akbar,” seru   undangan tersebut.

Sebelumnya gaung dan pesona Masjid Istiqlal ini juga terangkat dan berkilau karena beragam kegiatan, antara lain karena pernah menjadi venue  hajatan sujud syukur atas kemenangan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Anies-Sandi) di hitung cepat sejumlah lembaga survei dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua, Rabu (19/4/2017).

Sujud syukur tersebut merupakan agenda kelima atau puncak dari kegiatan Tamasya Al Maidah.

Lalu ketika menjadi tempat pendeklarasian Komunitas Cinta Masjid Indonesia (KCMI) yang bertujuan menghidupkan kembali gairah kegiatan bermanfaat di dalam masjid, Sabtu (29/4).

Kemudian saat menjadi lokasi kumpul Aksi Simpatik 55 yang digelar Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI), mulai dari Shalat Jumat di Masjid Istqlal Jakarta dilanjutkan long march ke Mahkamah Agung (MA), Jumat (5/5/207).

Jauh sebelumnya, nama masjid yang pembangunannya diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno dengan arsiteknya Frederich Silaban ini juga terangkat bahkan mendunia lantaran kedatangan tamu tak biasa Presiden AS, Barrack Hussein Obama dan istrinya Michelle, Rabu pagi (10/11/2010), bertepatan dengan Hari Pahlawan.

Kehadiran orang nomor satu di negara adi daya saat itu jelas menjadi perhatian dunia dan turut melambungkan nama masjid megah ini.

Dari sisi wisata religi, halal maupun sejarah, tentu saja semua kegiatan itu membawa berkah tersendiri karena masjid yang mampu menampung 200 ribu jamaah ini akhirnya kembali mendapat publikasi gratis luar biasa, baik dari media masa maupun media sosial.

Tak sulit menjangkau masjid yang berada di bekas Taman Wilhelmina, di timur laut lapangan Medan Merdeka yang ditengahnya berdiri Monumen Nasional (Monas) dan di seberang Gereja Katerdal Jakarta ini.

Letak Masjid Istiqlal (arti harfiah: Masjid Merdeka) ini pun sangat strategis.

Jamaah yang tidak membawa kendaraan pribadi, bisa naik bus Transjakarta turun di Halte Juanda  masuk lewat pintu gerbang Ass-Salam ataudi Halte Istiqlal masuk lewat pintu gerbang Ar-Razaq.

Bus umum lainnya lewat pintu Ar-Razaq adalah Kopaja 20 jurusan Lebak Bulus-Senen dan Metromini 17. Kalau naik kereta api Commuter Line dari Bogor, Tangerang, dan Bekasi turun di Stasiun Juanda.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Captions:
1. Pesona Masjid Istiqlal Jakarta sebagai masjid nasional terbesar di Asia Tenggara.
2. Kemegahan interior kubah Masjid Istiqlal.
3. Suasana shalat berjamaah di dalam Masjid Istiqlal.
4. Naik kereta, bus Transjakarta, dll ke Masjid Istiqlal.

Kamis, 01 Juni 2017

Suka Jelajah Masjid Unik? Jangan Lupa Sambangi Masjid Seribu Tiang Jambi


Anda gemar berwisata religi mengunjungi masjid-masjid unik saat Ramadhan? Kalau iya, sambangi Masjid Agung Al-Falah Kota Jambi. Pasalnya arsitektur masjid satu ini punya keunikan tersendiri, terutama keberadaan jumlah tiang penyangganya hingga membuatnya dijuluki Masjid Seribu Tiang.

Masjid yang beralamat di Jalan Sultan Thaha Syaifuddin Nomor 60, Legok, Kota Jambi ini berdiri di atas lahan seluas 2,7 hektare.

Luas bangunannya mencapai 6.400 meter persegi dan mampu menampung sekitar 10 ribu jamaah.

Tanah lokasi masjid, dulunya merupakan pusat kerajaan Melayu Jambi. Namun pada tahun 1885 dikuasai penjajah Belanda dan dijadikan pusat pemerintahan dan benteng Belanda.

Hal tersebut sejalan dengan penjelasan sejarawan Jambi, Junaidi T Nur, bahwa Mesjid Agung Al falah ini memang berdiri di lahan bekas Istana Tanah Pilih dari Sultan Thaha Syaifudin.

Nama Sultan Thaha Syaifuddin sendiri kemudian disematkan menjadi nama resmi bandar udara Jambi, yakni Bandar Udara Sultan Thaha.

Masjid yang didirikan tahun 1971 ini tercatat baru sekali dirombak, yakni pada 2008, tanpa mengubah bentuk aslinya.

Dijuluki Seribu Tiang lantaran masjid ini memiliki banyak tiang di setiap sisi bangunan.

Tiang-tiang tersebut berfungsi sebagai penahan gempa, sehingga masjid ini disebut-sebut anti gempa.

Sebenarnya jumlah tiangnya tak sampai 1.000. Ada yang bilang jumlahnya cuma 232 tiang, ada pula yang mengatakan 256 tiang, dan ada pula yang mengklaim hanya 280 tiang. Namun karena banyaknya tiang yang menjulang tinggi dan berjejer dengan rapi membuat masjid ini lebih dikenal warga dengan Masjid Seribu Tiang.

Dari ratusan jumlah tiangnya, terdapat 40 tiang berbentuk silender yang terbuat dari bahan tembaga. Posisi ke-40 tiang itu berada di bagian tengah sekaligus juga menjadi penyangga kubah masjid.

Muhammad Zubir, salah satu pengurus masjid Seribu Tiang lewat video yang diunggah di laman Youtube mengatakan pembuat tiang di bagian tengah masjid yang terbuat dari bahan tembaga itu adalah orang dari Jawa, tepatnya Jepara.

Pada bagian tiang ini terdapat ornamen ukiran Jepara yang lebih detail bermotif flora.

Ratusan tiang lainnya berukuran lebih langsing berwarna putih dengan jarak satu sama lainnya  cukup rapat. Tiang-tiang ramping itu membentuk tiga sulur ke atas, sebagai penyanggah sekeliling atap masjid sebelah luar.

Interior khas lainnya, ada pada bagian mihrabnya. Berupa hamparan vertikal berbentuk ukiran yang terbuat dari bahan material kayu dengan warna merah kekuningan.

Dibagian atas dinding mihrabnya terdapat lengkungan kuningan. Di atas lempengan tersebut tersaji tulisan kaligrafi berbahasa Arab.

Sementara bagian dalam kubah dihias dengan ornamen garis-garis simetris mirip dengan garis garis lintang dan garis bujur bola bumi.

Ring besar di bawah kubah di hias dengan lukisan kaligrafi Al-Qur’an berwarna kuning emas.

Kaligrafi itu dibuat mengitari seluruh bagian sisi terbawah kubah. Hiasan inilah yang memberikan kesan sangat kental adanya adopsi masjid tradisional di Jawa.

Sebuah lampu gantung berukuran sangat besar berbahan tembaga menggelantung di tengah kubahnya. Lampu gantung bertipe chandelier tersebut memiliki tentakel seperti gurita.

Keistimewaan lainnya, masjid ini berkonsep terbuka layaknya bangunan pendopo di Jawa, tanpa pintu, jendela maupun tembok penyekat.

Al-Falah dalam Bahasa Arab bila di-Indonesiakan bermakna 'Kemenangan', menang maksudnya mempunyai kebebasan tanpa kungkungan. Filosofi itulah yang mungki menjadi dasar dibangunnya masjid ini dengan konsep terbuka, supaya umat Muslim dari manapun bebas masuk dan melaksanakan ibadah di masjid ini.

Selain itu, bangunan utama masjid ini dikelilingi kolam berisi bermacam ikan.

Lokasi masjid kebanggaan warga Jambi itu terbilang strategis.

Tak jauh dari komplek masjid juga terdapat sejumlah tempat bersejarah, mulai dari pasar tradisional terbesar di Jambi yakni Pasar Angso Duo, menara air bekas peninggalan Belanda, dan Museum Perjuangan.

Jaraknya pun cukup dekat dari Bandara Sultan Thaha Jambi yakni sekitar 25 menit berkendara.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Senin, 29 Mei 2017

Ini yang Bikin Masjid Raya Sumatera Barat Potensial Menjaring Wisatawan

Bukan masjid tua apalagi bersejarah. Tapi karena arsitekturnya memadukan konsep modern dan tradisional membuat Masjid Raya Sumatera Barat ini potensial menjaring wisatawan. Buktinya sejumlah wisatawan yang berwisata di Ranah Minang, tak lupa menyambanginya.

Mungkin bagi orang Minang, arsitektur masjid terbesar di Sumatera Barat (Sumbar) ini sesuatu yang biasa. Namun bagi wisatawan dari luar Sumbar tentu gaya bangunan masjid yang berada  Kecamatan Padang Utara, Kota Padang ini punya daya tarik tersendiri.

Konstruksi masjid ini terdiri atas tiga lantai. Ruang utama yang dipergunakan sebagai ruang shalat merupakan ruang lepas yang terletak di lantai dua, terhubung dengan teras terbuka yang melandai ke jalan.

Lantai dua ditopang oleh 631 tiang pancang dengan pondasi poer berdiameter 1,7 meter pada kedalaman 7,7 meter. Sedangkan lantai tiga berupa mezanin berbentuk leter U dengan luas 1.832 meter persegi.

Kekhasan utamanya, bangunan utama masjid ini berbentuk persegi yang melancip di keempat penjurunya. Bentuk itu mewakili atap ber-gonjong pada rumah adat Minangkabau, yakni Rumah Gadang.

Arsiteknya bernama Rizal Muslimin. Dia pemenang sayembara desain yang diikuti oleh 323 arsitek dari berbagai negara pada 2007.
Rancangannya dinilai bersahabat dengan geografis Sumbar yang memang termasuk rawan gempa.

Kabarnya Masjid ini dirancang mampu menahan gempa hingga 10 SR sekaligus bisa dijadikan shelter lokasi evakuasi bila terjadi tsunami, terutama di lantai 2 dan 3.

Selain itu rancangannya juga dilengkapi pelataran, taman, menara, ruang serbaguna, fasilitas komersial, dan bangunan pendukung untuk kegiatan pendidikan.

Masjid yang groundbreaking atau peletakan batu pertamanya pada 21 Desember 2007 oleh Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi ini menempati area seluas 40.343 meter persegi.

Lokasi tepatnya di perempatan antara Jalan Khatib Sulaiman dan Jalan Ahmad Dahlan. Boleh dibilang sangat strategis, lantaran termasuk berada di jantung Kota Padang.

Masjid dengan pajang dan lebar bangunan 65 meter x 65 meter dan tinggi  bangunan  mencapai 47 meter ini memiliki bangunan utama terdiri dari tiga lantai yang mampu menampung sekitar 20.000 jamaah.

Lantai dasarnya dapat menampung 15.000 jamaah, lantai kedua dan ketiga sekitar 5.000 jamaah. Di lantai pertama juga terdapat ruang salat, toilet, wudhu, dan areal parkir.

Shalat Jumat perdana menandai pembukaan Masjid Raya Sumatera Barat untuk shalat rutin pada 7 Februari 2014. Ketika itu masjid dibuka untuk umum dengan frekuensi terbatas, karena belum rampungnya fasilitas listrik dan air bersih.

Sewaktu SiarMasjid menyambangi masjid yang berjuluk Mahligai Minang belum lama ini, boleh dibilang hampir rampung 100%.

Ketika itu sejumlah jamaah dari luar Kota Padang terlihat berfoto berlatar masjid indah ini. Begitupun dengan pengunjung dari luar Sumbar yang tengah berwisata di Kota Padang, terlihat asik mengabadikan arsitektur khas masjid ini.

“Nah semestinya kalau bikin masjid baru ya seperti ini, biar modern tapi tetap menonjolkan arsitektur tradisionalnya. Alhasil diminati wisatawan dari luar Sumbar,” kata Nurdin pengunjung asal Jakarta yang sengaja singgah ke masjid tersebut usai melihat even budaya Tabuik di Kota Pariaman, Sumbar.

Disamping menyelenggarakan Shalat Fardhu 5 waktu dan Shalat Jumat, pengurus masjid ini pun kerap menyelenggarakan Dakwah Islam atau Tabliq Akbar dan kegiatan Hari Besar Islam.

Aktivitas Ramadhan 1438 H tahun ini di Masjid Raya Sumbar mulai terasa sejak Ustadz Adi Hidayat hadir di masjid ini untuk memberikan kajian dengan Judul "Tahrib Ramadhan"pada 16 Mei 2017 lalu.

Tabligh Akbar  yang  juga dihadiri oleh Sekretaris Daerah Sumbar, Ali Asmar ini dikunjungi ribuan jamaah, termasuk dari luar Kota Padang bahkan dari luar Sumbar.

Ini membuktikan Masjid Raya Sumbar yang menjadi salah satu ikon wisata religi di Kota Padang ini amat potensial menjaring wisatawan.
Apalagi kalau setiap even yang diselenggarakan di masjid ini dipromosikan dengan gencar jauh-jauh hari lewat berbagai media, termasuk media sosial (twitter, facebook, dan instagram). Tentu akan menarik lebih banyak lagi jamaah dari luar Sumbar untuk datang ke masjid megah dan indah ini.
Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: radian ghani & kemenag.go.id 

Sabtu, 27 Mei 2017

Menikmati Arsitektur Jawa dan Eropa Khas Masjid Cipaganti Saat Ramadhan

Jumlah masjid di Kota Bandung ada dua ribuan lebih. Dua diantaranya tercatat sebagai masjid bersejarah, yakni Masjis Cipaganti dan Masjid Mungsolkanas.

Sekretaris Dewan Masjid Indonesia Kota Bandung, H. Efendi Rahmat, M. Ag menjelaskan jumlah masjid di Kota Bandung, Jawa Barat tercatat sebanyak 2.793.

“Itu yang terhitung, dan masih banyak yang belum terdata. Jumlah itu terdiri atas 2.086 masjid jami, 1 masjid agung yakni Masjid Agung Al-Ukhuwah, 1 masjid raya (Masjid Raya Jawa Barat), 30 masjid besar (masjid kecamatan), dan 2 masjid bersejarah yakni Masjid Besar Cipaganti dan Masjid Mungsolkanas),” terangnya.

Berdasarkan info tersebut, jelang Ramadhan, SiarMasjid meluangkan waktu menikmati salah satu dari dua masjid bersejarah yang ada di Kota Kembang itu, yakni Masjid Cipaganti yang berada di Jalan Cipaganti Nomor 85, sekarang bernama Jalan RAA Wiranatakusumah.

Usai meng-explore Cihampelas Sky disela-sela meliput kegiatan Internasional Tourism & Hospitality Grand Recruitment (ITHGR) 2017 yang digelar Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung, SiarMasjid langsung bergegas menuju Masjid Cipaganti melewati jalan raya dimana terdapat kantor dan pangkalan mobil travel Cipaganti.

Di sisi kiri jalan tersebut banyak terdapat pedagang makanan seperti bakso, batagor, siomay, warung nasi, aneka jus dan lainnya, sementara di seberangnya menjadi lokasi parkir sepeda motor.

Tak sampai 200 meter, tibalah di Masjid Cipaganti.

Dari kejauhan masjid ini tak seperti masjid pada umumya. Lantaran tidak memiliki kubah.

Masjid yang di bangun diatas tanah seluas 2.025 meter ini semula luas bangunannya 19 x 15 meter, kemudian diperluas ke bagian sayap kanan dan kiri masjid masing-masing berukuran 17 x 15 meter pada tahun 1965 hingga akhirnya ini mampu menampung 1.500 orang. Satu saf bisa diisi 100 orang.

Masjid ini dinyatakan bersejarah, karena dulunya berjasa dalam pergerakan kemerdekaan bahkan presiden pertama RI, Soekarno kerap berkunjung.

Kini Masjid Cipaganti bukan sebatas tempat  beribadah, pun menjadi tempat pengajian dan pendidikan  agama buat anak-anak dan remaja, antar lain sekolah taman kanak-kanak Al Qur’an(TKA) di sebelah kanan.

Selain bangunan utamanya juga ada tambahan bangunan baru, di sebelah kiri seperti kantor DKM, kantin, dan biro perjalanan ibadah haji/umroh.

Warga Belanda bernama Prof. Kemal CP Wolf Schoemaker yang menjadi mualaf tahun 1930 yang membangun Masjid Cipaganti pada tahun 1933 sebagai wujud cintanya terhadap Islam.

Pembangunan Masjid Cipaganti memakan waktu setahun dan diresmikan 27 Januari 1934.

Wolf adalah seorang arsitek Belanda yang menjadi Profesor di ITB Bandung. Karya arsitekturnya di Bandung cukup banyak, antara lain Gereja Katerdal, Hotel Preanger, Villa Isola (kampus UPI), laboratorium Boscha, dan Penjara Banceuy.

Masjid Cipaganti  ini menjadi masjid pertama di Bandung Utara yang pada masa itu menjadi kawasan permukiman elite bangsa Eropa (een Western Enclave) dan segelintir bangsawan pribumi.

Arsitektur Eropa dan Jawa begitu menonjol di masjid yang menjadi cikal bakal penyebaran dan pusat studi Islam di Bandung Utara itu.

Arsitektur Jawa-nya terlihat di  atap sirap berbentuk tajuk tumpang dua dan empat saka guru di dalam masjid berornamen bunga bersulur serta ukiran kaligrafi berlafaz hamdalah.

Unsur Eropa-nya dari lokasi masjid yang terletak antara Jalan Cipaganti dan Jalan Sastra. Posisi ini sering disebut "tusuk sate".

Konstruksi atap bangunannya memakai teknik bangunan kolonial yang nampak jelas dari penggunaan kuda-kuda segitiga pada interior atap tajug-nya.

Atapnya menggunakan sirap, tiang-tiangnya terbuat dari kayu jati yang kokoh dan terpahat ukiran floral dan kaligrafi.

Penggunaan relung-relung jenis tapak kuda (horseshoe arches) nampak pada pintu utama masuk dan menuju mihrab tempat seorang imam memimpin shalat.

Elemen yang paling menarik di ruangan utama dalam masjid ini adalah lampu kuningan antik. Lampu dengan penggantung berasal dari logam tersebut merupakan peninggalan asli sejak zaman kolonial.

Nama Wolf Shoemaker sebagai arsitek masjid ini dapat dilihat di area depan masjid, sedangkan di bagian atasnya tertulis peletak batu pertama yaitu Asta Kandjeng Bupati Bandung, Raden Tumenggung Hasan Soemadipradja didampingi Patih Bandung, Raden Rc. Wirijadinata pada tanggal 11 Syawal 1351 Hijriyah atau tanggal 7 Februari 1933.

Meskipun Masjid Cipaganti tidak berkubah namun gaung suara adzan bisa terdengar hingga Jalan Cihampelas.

Ini berkat kepiawaian Wolf dengan mendesain suatu ruangan menara tersembunyi yang terletak di langit-langitnya. Untuk mencapai ruangan menara itu harus melewati tangga terlebih dulu.

Letaknya yang strategis di pinggir jalan raya, dekat dengan kawasan Cihampelas Sky, Mall Cihampelas,  sejumlah rumah makan, dan jajanan serta pedagang aneka kerajinan dan suvenir khas Bandung, membuat masjid ini selalu ramai setiap hari, terlebih saat Shalat Jum’at.

Menurut salah seorang pengurus Masjid Cipaganti, khusus di bulan Ramadhan, masjid ini pun ramai jama’ah-nya, untuk shalat lima waktu, buka bersama, dan juga Shalat Taraweh.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)