berita masjid masjid raya masjid unik masjid bersejarah surau ceramah profil

Senin, 04 Desember 2017

Gagal Bertemu Ustad Felix Siauw di Reuni 212, Akhirnya Bersua di Masjid Al Hidayah


“Yaa Allah berkahilah Negeri ini, jauhilah dari Asing dan Aseng. Aseng yang mana? Aseng yang menggerogoti perekonomian Negeri ini, bukan Aseng yang ada di depan kalian. Saya ini Aseng tapi saya tidak jahat atau menggerogoti perekonomian Negeri ini”.
Begitu rentetan kalimat singkat tapi tegas yang dilontarkan ustad kelahiran Palembang, keturunan Tionghoa-Indonesia, Ustad Felix Siauw (UFS) saat tampil di hadapan jutaan ummat Islam di panggung utama Reuni 212 di lapangan Tugu Monumen Nasional (Monas), Medan Merdeka, Jakarta, Sabtu (2/12/2017) yang berhasil saya rekam dari kejauhan.

Hari itu saya gagal memotret ustad berlabel Mbois (mbotak sipit) karena memang aslinya bermata sipit berusia 33 tahun itu, apalagi menemui dan mewawancarainya.

Saya tidak bisa mendekati panggung utama lantaran lapangan di depan panggung sudah melaut manusia.

Saking jauhnya, sedikitpun saya tidak bisa melihat ustad bernama lengkap Felix Yanwar Siauw itu.

Setelah ustad yang pernah menjadi penceramah di acara TV Nasional bertajuk “Inspirasi Iman” yang dipandu Oki Setiana Dewi dan Jarwo Kwat di TVRI ini selesai memberi sambutan, saya mendapat informasi dari seorang peserta Reuni 212 yang mundur ke belakang untuk membeli makanan.

Kata orang itu, UFS tadi tampil berdiri sambil memegang microphone dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya sambil mengacungkan salam satu jari, salam Tauhid, Lailahaillallah.

“Dia (UFS-red) mengenakan baju batik lengan pendek berwarna orange dan celana bahan berwarna hitam serta bertopi bundar berwarna abu-abu. Dia pun menyerukan takbir, lalu jamaah kompak berteriak Allahu Akbar,” kata orang itu.

UFS adalah salah satu alasan mengapa saya begitu bersemangat menghadiri Reuni 212 ini.

Bukan sekadar ingin berjumpa dengan penulis sejumlah buku antara lain “Beyond the Inspiration”, “Udah Putisin Aja”, “Yuk Berhijab”, dan “Khilafah Remake” ini, pun karena ada beberapa hal yang saya ingin tanyakan. 
Terutama soal penolakan ceramah pengajiannya di beberapa tempat. Selama tahun 2017, UFS sudah mendapat sekurangnya 6 kali penolakan.

Saya pun ingin tahu bagaimana dia mengatasinya hingga tetap tegar dan terus berdakwah.

Namun Allah SWT berkehendak lain. Saya belum diijinkan bertemu dengan ustad yang pernah berkuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini di special moment itu.

Sebenarnya, saya ingin menunggu sampai kerumunan massa perlahan menyusut, lalu menghampiri panggung utama untuk menemui ustad mualaf yang masuk Islam pada 28 Maret 2013 itu.

Tapi siang itu saya ada urusan lain, yakni menghadiri resepsi pernikahan pengantin 212, Robi dan Ima di Cilebut, Jawa Barat.

Meskipun hari itu saya berhasil mewawancarai beberapa pedagang dan peserta Reuni 212 serta mengabadikan beberapa objek menarik terkait suasana acara tersebut, kemudian kesampaian pula menghadiri pesta perkawinan sang pengantin 212 itu, namun tetap saja ada yang kurang. Ya, itu tadi gagal bertemu UFS.

Saat berada di dalam kereta commuter line, dalam perjalanan pulang dari Cilebut menuju Tanah Abang, saya membuka Instagram (IG).

Seketika saya mendapat informasi dari akun IG @mediamuslimin tentang acara Kajian Islam bertajuk ‘Antara Wahyu & Nafsu’ dengan penceramah utama UFS.

Acara tersebut akan berlangsung di Masjid Al Hidayah, Jalan Punai Raya, Sektor 2, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan pada Ahad, 3 Desember 2017 pukul 08.30-11.30 WIB.

Dalam hati berucap, mungkin ini jawaban doa saya. Allah tidak mengizinkan saya bertemu UFS saat Reuni 212, mungkin besok, Minggu di Kajian Islam tersebut.

Esoknya, Minggu pagi saya meluncur ke Masjid Al Hidayah dengan ojek online. Jaraknya cukup jauh, sekitar 10 Km tapi ongkosnya cuma Rp 12 ribu.

Saya pun memberi tambahan buat tukang ojek-nya sebagai tanda terimakasih karena sudah berhasil mengantarkan saya ke masjid tersebut.
Sewaktu tiba di masjid, terlihat sejumlah jamaah pria berada di bagian depan dan sayap kanan, sementara jamaah perempuan beserta anak-anak di bagian belakang.

Sayangnya, ustad yang pernah bergabung menjadi aktivis gerakan Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) itu sudah selesai menyampaikan kajiannya. Untungnya sesi tanya-jawab belum berlangsung.

Akhirnya sesi diskusi dimulai. Moderator memanggil UFS untuk tampil kembali. Dia duduk di kursi dan di depannya meja kayu berwarna coklat.

Spontan dalam hati saya berucap syukur. Alhamdulillah akhirnya bisa melihat langsung orang yang saya cari-cari.

Maklum selama ini saya hanya melihat UFS di akun IG-nya @felixsiauw sekaligus membaca sejumlah tulisannya yang cerdas dan tegas. Sekalipun saya belum pernah bertemu, mewawancari, dan memotretnya.

Hari itu, ayah 4 putri itu mengenakan baju batik lengan pendek berwarna biru telur asin dengan kombinasi kuning, hijau, putih dan coklat, bercelana panjang hitam serta bertopi bulat abu-abu. Nampak bersahaja.

UFS langsung menjawab beberapa pertanyaan para jamaah. Ada yang bertanya soal dakwah (baca: Ustad Felix Siauw: Berdakwah Lillahi Ta’ala Bukan Kerena Penguasa), acara Reuni 212 kemarin, dan lainnya.

Tepat pukul 11.00 WIB, UFS menyelesaikan jawabannya sekaligus menutup kajian. Setelah itu dia melayani para jamaah yang hendak meminta tanda tangan, bersalaman, dan berfoto bersama.

Saya pun langsung masuk ke dalam masjid, lalu mengabadikan semua moment itu. Kesempatan itu pun saya pergunakan untuk berfoto bersama dengannya kemudian mewawancarai secara singkat seputar kiat dalam berdakwah dan menghadapi pihak-pihak yang menentang. Semua diindahkan UFS dengan ramah.

Dulu semasa Ustad Zainuddin MZ (almarhum) berjaya dengan gaya ceramahnya yang khas hingga mendapat julukan da’i sejuta ummat, saya pun ‘mengejar’-nya ke beberapa tempat.

Begitupun saat awal mula Aa Gym berhasil memikat jutaan jamaah lewat ceramahnya yang sejuk dengan metode manajemen kalbu, saya pun ‘memburu’nya sampai ke Bandung.

Kini giliran UFS yang saya ‘incar’ (mewawancarai dan memotretnya), Alhamdulillah berhasil.

UFS boleh dibilang termasuk ustad jaman now lantaran sangat melek media sosial (medsos) antara lain Facebook, IG, dan Youtube, lalu memanfaatkannya sebagai salah satu wadahnya berdakwah.

Sebagai pendakwah, UFS punya daya tarik dan nilai jual tinggi.

Pertama jelas karena dia Aseng sebagaimana dia ungkapkan tanpa sungkan. Mungkin kalau UFS bukan keturunan Tionghoa, bisa jadi lain lagi ceritanya.

Kedua, lantaran beberapa kali ceramah pengajiannya dibatalkan lalu terekspos luas di media massa dan medsos hingga justru menjulangkan namanya.

Ketiga (ini yang terpenting), meskipun karakter atau gaya berceramahnya belum sekuat dua pendahulunya (Zainuddin MZ dan Aa Gym), namun harus diakui UFS berhasil membetot perhatian jamaah mulai dari anak-anak, terutama kaula muda, termasuk bapak-bapak dan ibu-ibu kekinian berkat tulisan-tulisan dan juga isi ceramahnya yang terang dan berisi.

Karena itu, ustad muda yang tengah naik daun ini laris diundang mengisi kajian Islam, ceramah di acara hari-hari besar Islam, dan pengajian di berbagai tempat di Indonesia.

Buktinya salah satu anak muda pengurus Masjid Al-Hidayah, Ardhi mengaku sudah lama panitia mengundang UFS untuk bisa mengisi kajian Islam di Masjid Al Hidayah ini, namun baru kali ini bisa dipenuhi.
“Sepertinya jadwal ceramah Ustad Felix padet banget,” ujarnya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Ustad Felix Siauw (UFS) di Kajian Islam yang diselenggarakan pengurus Masjid Al Hidayah, Bintaro, Sektor 2, Tangsel.

2. Gagal menemui UFS di Reuni 212 akhirnya berjupa di Kajian Islam Masjid Al Hidayah

3. Inilah UFS yang tengah naik daun meskipun sempat mengalami penolakan-penolakan saat berdakwah.

4. Jamaah ibu-ibu kekinian mengabadikan UFS dengan kamera HP.
5.  UFS melayani jamaah yang hendak meminta tanda tangan dan bersalaman usai berceramah.
6. Ekspresi UFS saat menjawab pertanyaan jamaah.
7. Berfoto bersamam pengurus Masjid Al Hidayah, Bintaro Jaya, Sektor 2, Tangsel.
8. UFS berfoto bersama para penggemarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar