berita masjid masjid raya masjid unik masjid bersejarah surau ceramah profil

Jumat, 30 Maret 2018

Rifdah Juara II MHQ Sedunia, Dapat Hadiah Pergi Haji dari Ulama Mekkah


Rifdah Farnidah, juara II Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) Sedunia 2018  di Yordania tak kuasa menahan haru saat Sheikh Khalid Al Hamoudi memberikannya hadiah pergi haji bersama kedua orangtua dan dosen pembimbingnya. Bahkan ulama dari Mekkah itu mengangkat Rifdah sebagai anak perempuannya yang ketiga.


Hadiah-hadiah itu disampaikan langsung oleh Sheikh Khalid Al Hamoudi  di depan Gubernur Anies Baswedan dan tamu undangan lainnya dalam acara penyambutan Rifdah di Gedung Balai Kota/Kantor Gubernur DKI Jakarta, Kamis (29/3/2018) malam.


“Semalam Rifdah kami undang ikut hadir dalam acara silaturahmi ulama di Balai Kota. Ia datang bersama ibundanya, dan pembimbingnya, Hj. Mutmainnah, dosen di Institut Ilmu Al Quran,” kata Anies tentang sekelumit kisah penyambutan Rifdah semalam di Balai Kota yang ia tulis di akun Instagram (IG)-nya @aniesbaswedan, Jumat (30/3/2018).

“Di tengah acara, saya undang Rifdah maju. Di depan ia bacakan penggalan Quran, dari surah Al Hasyr ayat 18-24,” lanjut Anies.

Di ruang depan Balai Kota yang usia bangunannya dua abad, di ruang yang tak biasa jadi tempat dilantunkannya Al-Quran, puluhan ulama, habib, ustadz dan ustadzah hening, haru dan khusyuk menyimak lantunan ayat dari suara Rifdah yang bening.

“Sebagian kita yang hadir mulai terlihat mengusap butiran air dari matanya,” ujar Anies.

Sesudah Rifdah selesai lantunkan penggalan Quran itu, Sheikh Khalid Al Hamoudi, tamu kehormatan kita malam itu, seorang ulama dari Mekkah, angkat bicara.

Sheikh Khalid sampaikan kekaguman dan apresiasi kepada Rifdah.

Lalu beliau umumkan, “Perkenankan saya sampaikan hadiah kepada Rifdah. Kami akan sepenuhnya fasilitasi Rifdah bersama kedua orangtuanya, juga ibu dosen pembimbing Rifdah beserta suaminya, untuk diberangkatkan ibadah haji. Saya akan tunggu dan sambut di Mekkah, di mana Rifdah dan rombongan akan menjadi tamu Allah, dan tamu kehormatan di mata saya”.

“Puluhan hadirin sontak bertakbir dan tahmid. Ruangan bergema, hati tergerak, mata membasah,” tulis Anies.

Belum selesai, Sheikh Khalid lanjutkan: “Saya punya dua anak perempuan yang juga hafidzah dan sudah lancar tilawah Quran dalam berbagai qiroat. Kini saya punya tiga anak perempuan, Rifdah saya angkat menjadi anak perempuan saya yang ketiga."

Mendengar itu, sambung Anies, tak ada hadirin yang tak terharu mendengarnya. “Puluhan pasang mata menitikkan airnya. Takbir dan tahmid bersahutan. Bangunan kokoh Balai Kota terasa bergetar,” tulisnya lagi.

Rifdah hafidzoh asal Sumedang, Jawa Barat baru kembali dari Yordania ikuti Musabaqah Hifdzil Quran Sedunia 2018 yang berlangsung 6 hari (19-24/3) dan dia meraih juara II. Sementara juara kesatu disabet hafidzah Aljazair dan juara ketiga Iran.

“Hanya ia juara yang bukan berasal dari negara Timur Tengah,” tulisa Anies yang IG-nya diiikuti 1,1 warganet.

Rifdah usianya baru 22 tahun. “Ia masih belia dan ia bawa nama Indonesia cemerlang di panggung dunia,” puji Anies.

Unggahan Anies yang disukai 77.202 warganet saat berita ini SiarMasjid tulis, pun mendapat banyak komentar haru dari warganet.

“Subhanalloh sangat menginspirasi,” kata pemilik akun @miw_umiya.

Ucapan senada juga utarakan @hafizfirgian. “MasyaALLAH sangat luar biasa, sangat membahagiakan, sangat inspiratif”.

Pemilik akun @deirmay meminta Anies begini. “Sering2 posting berita seperti ini, pak, inspiring”.

Komentar lain selebihnya mengucapkan Masyaa Allah, Allahu Akbar, Alhamduliilah, dan Subhanallah.

Ada juga yang berdoa semoga anaknya bisa seperti yang disampaikan @edward_yudi. “Subhanallah semoga anakku kelak seperti mba rifdah pinternya...aamiin”.

Begitupun dengan @salwailmira.  “Subhanallah allahuakbar, ya robb... Jadika,n putri hamba Salwa Diana ilmira menjadi seorang hafidzoh, dan jadikan muslimah yang taat, semoga kelak menjadi negara kak rifdah farnidah aamiin...,” tulisnya.

Tak lama kemudian, seorang penyiar radio meng-upload foto Rifdah bersama Anies, orangtua, dan guru pendamping Rifdah usai selesai acara penyambutan di Balai Kota, di akun IG-nya @noviooktavianti.

Menurut Novi butuh proses yang panjang untuk menghafal Al Qur'an, dan butuh keistiqomahan.

Novi pun mengucapkan selamat atas hasil yang luar biasa untuk Rifdah Harnidah yang telah membawa nama Indonesia dipanggung dunia.

“Kuasa Allah SWT mengangkat derajat seseorang dengan Al Qur'an seakan dunia yang menghampirinya. Allah yang berkuasa atas kehendakNYA. Salut banget dengan kesabaran dan itqan-nnya. Kita aja Juz 30 belum tentu Hafal,” tulis Novi dengan tak lupa memberi taggar #rifdahfarnidah

Sebelumnya meraih juara II di ajang MHQ 2018 tingkat internasional di Yordania, Rifdah sudah mengantongi bekal juara 1 MTQ tingkat Nasional JQHNU golongan 5 juz di Kalimantan Barat tahun 2012, juara 1 MTQ Nasional golongan 10 juz di Nusa Tenggara Barat tahun 2016, dan juara 1 MTQ Nasional golongan 30 juz di Kalimantan Barat tahun 2017.

Kata salah seorang dosen pembimbing Rifdah yakni Mutmainnah yang mengajar di Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta, Rifdah itu seorang hafidzah yang mutqin, maksudnya hafidzah yang benar-benar hafal Al-Quran 30 juz dengan lancar tanpa melihat mushaf Al-Quran.

Allahu Akbar, bangga dan salut.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Foto: @aniesbaswedan, @novioktavianti_annisa, @okisetianadewi & @rifdah_farnidah

Captions:

1.Rifdah Farnidah (berhijab pink) tak kuasa menahan haru mendapat hadiah dari ulama Mekkah dalam acara penyambutan atas prestasi dunianya di Gedung Balai Kota/Kantor Gubernur DKI Jakarta.

2.Rifdah berfoto bersama orangtua,  Gubernur Anies Baswedan, dan dosen pembimbingnya di  Gedung Balai Kota.

3.Rifdah saat wisuda S.Ag, 26 Agustus 2017

4.Rifdah ketika mengikuti lomba Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) Sedunia di Yordania Maret 2018, dimana ia menyabet Juara II.

5.Rifdah sewaktu berkunjung ke Candi Borobudur di Magelang, Jateng, 3 September 2016.

Minggu, 18 Maret 2018

Ceramah Yusuf Estes di MASK Diminati Anak Muda Jaman Now


Ceramah da’i internasional asal Texas, Amerika Serikat di Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (18/3/2018), dihadiri ribuan jama’ah. Menariknya yang datang didominasi kaula muda, anak jaman now, dan bukan cuma umat Islam saja tapi juga sejumlah Non-Muslim.

Pantauan Siarmasjid (salah satu anggota d’Blogger Indonesia selain TravelPlus, Ronabudaya, Kokirimba, dan lainnya), jama'ah mulai berdatangan ke MASK sejak pagi dan mulai ramai jelang Shalat Zuhur, sekitar pukul 11.30 WIB.

Jama'ah yang datang bukan hanya dari Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Tangerang dan Bekasi) pun ada yang datang dari luar Jabodetabek bahkan dari Sumatera.

Selain dari tahu informasi jadwal Safari Dakwah Yusuf Estes di MASK ini dari blog dan  media online, umumnya jama'ah yang datang tahu kegiatan ini dari media sosial terutama Instagram.
"Saya tau dari blog TravelPlus Indonesia dan juga Instagram-nya @steven.indra.wibowo pendiri Mualaf Center Indonesia," aku Haris (19) dari Tangerang.

Hal yang sama juga diutarakan Fahmi (25) dari Jakarta Selatan dan juga Rizal (30) dari Padang, Sumatera Barat.

“Saya sengaja datang dari jauh karena penasaran ingin tahu gaya ceramah ustad bule Yusuf Estes itu,” aku Rizal.
Pada awalnya jama'ah memasuki ruang utama MASK yang sengaja dibagi menjadi dua bagian.
Sisi kiri untuk jama'ah perempuan dan sisi kanan termasuk bagian depan, beberapa shaf di belakang mimbar khusus untuk jama'ah pria.

Sejumlah jamaah sengaja datang lebih awal untuk dapat tenpat di shaf-shaf terdepan agar dapat melihat dan mengabadikan Yusuf Estes dari dekat.

Jelang azan Zuhur seluruh ruang utama MASK penuh, termasuk di bagian ruang pendukung di belakang yang juga dibagi dua bagian terpisah untuk jamaah perempuan dan laki-laki.

Selepas Shalat Zuhur berjamaah, salah satu panitia dari Sahabat Dakwah Internasional (SDI) yang mengundang/memfasilitasi Yusuf Estes ber- Safari Dakwah di Indonesia mengumumkan bahwa Yusuf Estes tidak bisa mengisi ceramah di ruang utama tersebut lantaran tidak mampu naik tangga karena kakinya sakit.

“Yusuf Estes akan berceramah di aula bawah. Beliau sudah menunggu di sana. Jadi jamaah yang ada di sini bisa turun menuju ruang aula. Jika tidak mau bisa tetap di sini atau di belakang menyaksikan ceramah beliau dari layar tv besar,” terang salah satu panitia itu.

Jama'ah pun termasuk Siarmasjid berbondong-bondong turun ke ruang aula secara tertib. Sisanya tetap di ruang utama dan bagian belakang.

Di ruang Aula MASK, Yusuf Estes sudah hadir. Dia duduk di sofa berwarna hitam didampingi sejumlah panitia dari SDI dan MASK.

Yusuf Estes tampil sederhana mengenakan baju gamis berwarna abu-abu ditambah jas berwarna hitam.

Rambutnya sudah memutih begitupun dengan brewoknya yang lebat dan panjang.

Saat berceramah sambil berdiri, da’i yang dulunya seorang musisi dan pendeta ini kerap ber-Salam Satu Jari, Salam Tauhid, "LAILAHAILLAH" (Tiada Tuhan selain Allah) sebagaimana sering dia lakukan saat tampil di berbagai kesempatan.

Selain ber-Salam Tauhid ketika berceramah yang ia sampaikan dalam Bahasa Inggris, Yusuf Estes juga kerap meneriakkan Takbir, ALLAHU AKBAR (Allah Maha Besar) dengan suara lantang.

Di ujung ceramah, Yusuf Estes memandu empat orang Indonesia Non-Muslim (2 wanita dan 2 pria) satu per satu mengucapkan kalimat syahadat "Ashadu an La Ilaha Illa Allah wa Ashadu anna Muhamadar Rasulullah" yang artinya “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah Rasul utusan Allah”, sebagai tanda keempat orang itu resmi menjadi Muslim.
Sebelum mengisi Ceramah Ba’da Zuhur di Mask, Yusuf Estse terlebih dulu ber-Ceramah Ba'da Subuh di Masjid Darussalam Kota Wisata, Bogor.

Besok Senin (19/3) sampai Rabu (21/3), Yusuf Estes akan melanjutkan tur dakwahnya dengan berceramah di Surabaya sebanyak satu kali tampil, Balikpapan (2 kali), dan terakhir tampil sekali lagi di Jakarta. (Info detil tempat dan waktunya bisa dilihat di: www.travelplusindonesia.blogspot.co.id)

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Syeikh Yusuf Estes, da'i internasional asal Texas, Amerika Serikat berceramah di Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), Jakarta, Minggu (18/3/2018).
2. Jama'ah yang hadir didominasi anak muda jaman now.
3. Gerbang utama MASK.
4. Yusuf Estes tampil sederhana.
5. Yusuf Estes berceramah dalam Bahasa Inggris.
6. Yusuf Estes menjelaskan tentang Islam kepada empat orang non-Muslim yang ingin menjadi muallaf lalu memandu mereka membaca kalimat Syahadat
7. Selebaran info ceramah Yusuf Estes di MASK.


Rabu, 31 Januari 2018

Gerhana Bulan Total Momen untuk Kembali ke Jalan Allah SWT

Fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) tahun ini merupakan salah satu dari sekian tanda kebesaran dan kekuasaan sang Maha Pencipta, Allah Subhanahu wa Taala (SWT). Hendaknya disadari dan dijadikan momen untuk kembali ke jalan Allah SWT.

“Jangan justru dibuat guyonan melalui media sosial (medsos) yang sekarang ini banyak terjadi dilakukan umat Islam,” begitu salah satu isi ceramah sekaligus imbauan dari Ustadz Ahmad Sofi selaku khotib Shalat Sunah Gerhana Bulan atau Khusuf berjamaah di Masjid Jami Al-Falah, Kampung Baru, Sukabumi Selatan, Kebun Jeruk, Jakarta Barat, Rabu (31/1/2018) malam.

Mungkin yang dimaksud Ustadz Ahmad Sofi yang mengenakan baju koko Pakistan, peci, dan sorban serba putih ini, kini banyak bermunculan meme (baca: mim, bukan me-me) gerhana bulan berupa foto maupun kata-kata dan lainnya yang bernada guyonan/melucu/mengejek di medsos.

Menurutnya Allah SWT menunjukkan tanda-tanda kekuasaannya bukan hanya lewat gerhana namun juga segala macam bentuk tanda-tanda kekuasan Allah SWT yang menjadi kenyataan agar membuat manusia takut.

Malam ini, lanjut Ustadz Ahmad Sofi benar terjadi gerhana bulan, maka sunah muakad hukumnya bagi umat Islam untuk melaksanakan Shalat Sunah Gerhana Bulan, walaupun Rosulullah SAW tidak pernah melaksanakan Shalat Gerhana Bulan secara berjamaah.

“Tapi saat terjadi gerhana matahari, Rosulullah melaksanakan Shalat Sunah Gerhana Matahari berjamaah,” terang Ustadz Ahmad Sofi sebagaimana dikutip dari Imam Malik dalam kitab Syarof Shohih Bukhari.

Shalat Khusuf itu adalah salah satu amalan saat terjadi gerhana sebagaimana sabda Nabi Shallahu ‘Alahi Wasallam sebagaimana HR. Bukhari No. 1044:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di anatara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana itu tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakan shalat, dan bersedekahlah”.

Pantauan SiarMasjid, pelaksanaan Shalat Khusuf di masjid yang bersebelahan dengan gedung Sekolah Dasar Islam (SDI) Al-Falah ini berjalan lancar dan khidmat.

Semula salah seorang anggota pengurus masjid ini mengumumkan shalat sunah tersebut akan dilaksanakan ba’da (setelah) Shalat Maghrib berjamaah. Namun akhirnya dilaksanakan setelah Shalat Isya berjamaah.

Keputusan itu diambil setelah beberapa pengurus masjid memantau langit seusai Maghrib namun belum juga nampak gerhana bulan. Namun menjelang Isya, akhirnya baru terlihat gerhana bulan itu.

Sebelum menunaikan Shalat Isya, Ketua Pengurus Masjid Jami Al-Falah KH. Kahmasy Shiddiq sekaligus salah satu imam senior di masjid ini memberikan pencerahan seputar tata cara Shalat Khusuf.

“Niatnya Usholli Sunatan Khusuf Rak'ataini Ma’muman Lillahi Ta’ala. Niat itu salah satu rukun shalat,” jelas KH. Kahmasy Shiddiq.

Setelah itu, baru dilaksanakan Shalat Isya dan Shalat Khusuf berjamaah yang diimami oleh Ustadz Ahmad Haromain yang bersuara empuk.

Penampilan Masjid Jami Al-Falah sebagai tempat penyelenggaraan Shalat Khusuf tidak mengalami perubahan berarti. Hanya jumlah jamaahnya saja yang bertambah berkali-kali lipat.

Suasananya nyaris seperti hari-hari pertama Shalat Tarawih di Bulan Suci Ramadhan. Penuh, semarak, dan banyak anak-anak.

Biasanya kalau Shalat Maghrib berjamaah di masjid ini, jamaah paling banyak setengah ruang utama saja. Tapi kali ini ruangan shalat utamanya yang lantainya ditutupi permadani hijau dan berkapasitas 300 jamaah terdiri atas 15 shaf dimana per shaf-nya bisa memuat 20 orang, penuh.

Bahkan jamaah laki-lakinya mulai anak-anak, remaja, orang dewasa sampai para orang tua sampai memenuhi ruang bagian belakang dan juga ruang sayap sebelah kanan, tepat di belakang sebuah bedug besar.

Sementara ruang di sayap sebelah kiri dipenuhi jamaah perempuan terutama para ibu. Jadi total jumlahnya kira-kira seribuan jamaah. Sedangkan di lantai satu kosong.

Lampu gantung kristal utama berukuran paling besar dan menggantung tepat dari atap kubah yang biasanya dimatikan, kali ini sengaja dinyalakan sehingga ruangan utama masjid yang seluruh dinding dan lantainya dilapisi marmer ini terlihat lebih berkilau dan semakin elegan.

Apalagi ditambah dengan sebuah mimbar berserta kursi yang semuanya terbuat dari kayu berwarna coklat.

Mimbar itu, tempat khotib menyampaikan ceramah terkait fenomena GBT dari kaca mata ajaran Islam. Khotib itu berdiri sambil memegang tongkat juga dari kayu berwarna coklat.

Selepas khotib menyampaikan ceramahnya, acara ditutup dengan bersalam-salaman, sebagaimana biasa dilakukan oleh jamaah setiap kali usai shalat lima waktu di masjid ini.

Sejumlah siswa Al-Falah kemudian menodong Ustadz Ahmad Sofi untuk dimintai tanda-tangan. Dan ustadz berperawakan tinggi kurus yang juga mantan pelajar/jebolan Al-Falah itu pun melayaninya dengan sabar.

SiarMasjid pun menemui Ustadz Ahmad Sofi untuk meminta bahan ceramahnya tadi.

Dia pun memberikan 3 lembar kertas tulis itu. “Ini bahannya tapi tulisan tangan saya jelek, pasti susah dibacanya,” ujarnya.

Sementara di luar masjid, tepatnya di langit, gerhana bulan yang semula berwarna putih, kini sudah berubah kemerahan atau disebut bloodmoon.

MasyaAllah…, kagum…, itu semua terjadi atas kehendak-Nya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Suasana ketika khotib Ustad Ahmad Sofi menyampaikan ceramah Shalat Gerhana Bulan (Khusuf) di ruang shalat utama Masjid Jami Al-Falah, Kampung Baru, Kebon Jeruk, Jakbar, Rabu (31/1/2018)
alam.
2. Jamaah pria memenuhi ruang shalat utama, belakang dan ruang sayap kanan.
3. Gerhana bulan akhir muncul jelang Isya.
4. Suasana Shalat Khusuf di ruang utama Masjid Jami Al-Falah.
5. Ustadz Ahmad Sofi ditodong tandatangan oleh sejumlah siswa Al-Falah
6. Tiga lembar kertas berisi materi ceramah Ustadz Ahmad Sofi yang ditulis tangan.

Selasa, 30 Januari 2018

Masjid-Masjid Ternama Ini Gelar Sholat Gerhana Bulan

Sejumlah pengelola masjid ternama di Tanah Air menggelar Shalat Sunah Gerhana Bulan atau Khusuf pada Rabu, 31 Januari 2018 malam, ba’da Shalat Isya berjamaah.

Di Jakarta misalnya ada Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) yang berlokasi di Jalan Taman Sunda Kelapa Nomor 16, Menteng, Jakarta Pusat.

Kepala Bidang Dakwah dan Peribadatan MASK, KH Nur Alam Bakhtir menjelaskan pelaksanaan Shalat Gerhana Bulan akan diisi tausyiah yang temanya terkait tanda-tanda kebesaran Allah.

MASK yang menempati area 9.920 m² ini tak memiliki kubah, bedug, bintang-bulan, dan sederet simbol yang biasa terdapat dalam sebuah masjid.

Menaranya pun terbilang unik karena bentuknya menyeruoai perahu, sebagai simbol Pelabuhan Sunda Kelapa tempat saudagar muslim berdagang dan menyebarkan syariat Islam pada masa lalu.

MASK mampu menampung 4.424 jamaah. Ini ditunjang dengan Ruang Ibadah Utama MASK, Aula Sakinah, dan Serambi Jayakarta.

Selain itu ada Masjid Cut Meutia, masih di kawasan Menteng, tepatnya di Jalan Cut Meutia, Nomor 1, Jakarta Pusat.

Pengelola Masjid Cut Meutia, Erwin menerangkan setiap ada fenomena seperti gerhana bulan maupun matahari, shalat sunat selalu diadakan di masjid ini.

Masjid yang pelatarannya kerap digunakan untuk acara Ramadhan Jazz Festival setiap Bulan Suci Ramadhan ini merupakan salah satu peninggalan sejarah dari zaman penjajahan kolonial Belanda.

Keunikan masjid ini, mihrab-nya diletakkan di samping kiri dari saf salat (tidak di tengah seperti lazimnya). Posisi saff-nya juga agak miring karena bangunan masjid tidak tepat mengarah kiblat.

Tak ketinggalan Masjid Istiqlal yang beralamat di Jalan Taman Wijaya Kusuma, Pasar Baru, Sawah Besar, Jakarta Pusat juga akan menggelar shalat gerhana.

Kepala Bagian Protokol Masjid Istiqlal, Abu Hurairah Abdul Salam menerangkan pelaksanaan shalat gerhana dilakukan setelah Isya. Ba’da shalat akan ada khutbah oleh Imam Masjid Istiqlal Prof. KH Nasarudin Umar atau jika berhalangan akan digantikan oleh Imam Rawatib, atau Iman yang memimpin tiap hari, Tuan Guru Ahmad Husni Ismail.

Masjid yang berarsitektur modern dengan lantai dan dinding berlapis marmer dan dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat serta terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar ini ini mampu menampung lebih dari 200.000 jamaah.

Bangunan utama masjid ini dimahkotai satu kubah besar berdiamate 45 meter yang ditopang 12 tiang besar dan menara tunggal setinggi total 96,66 meter.

Di Jawa Tengah, ada Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Pengelolanya menyiapkan plaza masjid atau di bawah payung elektrik raksasa untuk pelaksanaan Salat Gerhana Bulan.

Selepas Shalat Maghrib berjamaah diadakan pengamatan gerhana bulan yang akan dipandu oleh Ketua Tim Hisab Rukyat (THR) Menara Al-Husna Masjid Agung Jawa Tengah yang juga Ketua Umum Asosiasi Dosen Falak Indonesia Ahmad Izzuddin.

Setelah itu Shalat Isya berjamaah baru Shalat Gerhana Bulan. Imam besar MAJT akan menjadi imam Salat Gerhana Bulan sedangkan Prof. Dr. H. Abdul Jamil MA akan menjadi khotib.

Selepas Shalat Gerhana Bulan dilanjutkan dengan simulasi operasional teleskop dan pengamatan gerhana.

Sejumlah peralatan untuk pengamatan telah dipersiapkan untuk melakukan pengamatan Gerhana Bulan Total seperti teleskop, binokuler dan lainnya.

MAJT yang berarsitektural campuran Jawa, Islam, dan Romawi ini beratap limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya serta sebuah menara bernama Menara Asma Al-Husna yang terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter.

Masjid yang berada di Semarang ini mampu menampung 6.000 jamaah ditambah 10 jamaah di serambi-nya. Area serambinya sendiri dilengkapi 6 payung raksasa otomatis atau payung elektrik setinggi masing-masing 20 meter seperti yang ada di Masjid Nabawi.

Di Jawa Timur, pengelola Masjid Nasional Al-Akbar juga akan menggelar Shalat Gerhana Bulan. KH Abdul Hamid Abdullah sebagai imam dan KH Abdussalam Nawawi sebagai khotib.

Masjid Nasional Al Akbar yang juga biasa disebut Masjid Agung Surabaya merupakan masjid terbesar kedua di Indonesia setelah Masjid Istiqlal di Jakarta. Masjid ini bisa menampung 59.000 jamaah.

Masjid yang berada di samping Jalan Tol Surabaya-Porong ini memiliki sebuah kubah besar didampingi 4 kubah kecil berwarna biru dan sebuah menara setinggi 99 meter.

Puncak menaranya dilengkapi dengan view tower pada ketinggian 68 meter yang dapat memuat sekitar 30 orang. Jamaah bisa mencapainya dengan menggunakan lift untuk melihat pemandangan kota Surabaya.

Sejumlah masjid lainnya di Surabaya seperti Masjid Al-Fath, Masjid Al-Mufidah, Masjid Remaja, Masjid Faskho, Masjid KH Mas Mansyur Unmuh Surabaya, Masjid Asy-Syuhada, Masjid Al-Ikhlas, Masjid Gunung Sari Indah, Masjid Al-Huda Gubeng, Masjid Al-Furqom, dan Masjid Jendral Sudirman juga akan menggelar hal serupa.

Di Kalimantan Tengah, pengelola Masjid Jami Darul Wustha Kumai Hulu yang berada di Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) juga akan menggelar Shalat Gerhana Bulan.

Di Lampung, teoatnya di Kota Bandarlampung, sebanyak 20 masjid dan musholah juga akan menggelar Shalat Gerhana Bulan sebagaimana diungapkan wakil ketua Dewan Dakwah Lampung Ustadz Hafi Suyanto.

Super-Blue-Blood-Moon
Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) 2018 akan berlangsung cukup lama, mulai pukul 18.48 WIB sampai berakhir pada pukul 22.11 WIB.

Menurutnya GBT kali ini sangat spesial lantaran memiliki beragam sebutan yakni Blue Moon karena ini purnama kedua pada Januari setelah 1 Januari lalu, Super Moon karena jarak Bulan sangat dekat dengan Bumi, dan Blood Moon karena saat gerhana total, bulan tampak merah darah.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Gerbang Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng, Jakpus.
2. Pesona Masjid Istiqlal Jakarta di malam hari.
3. Masjid Istiqlal Jakarta diambil dari Stasiun Juanda.

Senin, 29 Januari 2018

Ratusan Ribu Umat Islam Semarakkan Kajian Hari Alquran di Masjid Istiqlal

Sekitar 200 ribu lebih Muslimin dan Muslimat dari berbagai daerah di Tanah Air menyemarakan Kajian Spesial Majelis Talim Pemuda  Istiqlal bertajuk  Hari Al-Quran yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (28/1/2018) mulai ba’da Ashar.


Sejak pagi, umat Islam sudah berdatangan. Ada yang membawa kendaraan pribadi, naik kereta commuter line, busway Trans Jakarta, online transportation, dan transportasi umum lainnya.

Kebanyakan yang datang secara berkelompok, baik itu se-pengajian/majelis, satu sekolah/kampus maupun satu ormas.

Tak sedikit orangtua yang membawa serta anak-anaknya. Salah satunya keluarga Ahmad (55) dari Tangerang yang membawa istri dan 3 anaknya dari kelas SD, SMP, dan SMA.

“Saya sengaja bawa anak-anak dalam setiap acara-acara bermuatan Islam untuk ikut men-syiarkan Islam,” aku Ahmad yang berprofesi sebagai pedagang kelontong di pasar.

Acara ikrar Hari Al-Quran yang disiarkan Akhyar TV ini diisi dengan peluncuran sekaligus pembagian sekitar 9.000 eksemplar buku berjudul “Muslim Zaman Now: Metode At-Taisir 30 Hari Hafal Al-Quran” dengan cover berwarna biru langit karya Ustadz Adi Hidayat Lc Ma secara gratis.

Sejumlah penghafal Al-Quran (hafidz) dari anak-anak sampai orang dewasa ikut hadir. Ada Ustadz Kabolosi (pejuang Al-Quran dari Ambon), Ustadz Bahrudin (pejuang Al-Quran dari Bekasi), dan ada hafidz dari Aceh berusia 56 tahun yang tidak melihat (buta).

“Ahli Qur’an ini bukan tidak bisa melihat tapi matanya dijaga Allah untuk tidak melihat maksiat,” ungkap Ustadz Adi Hidayat.

Selain itu ada Fajar yang lahir dengan lumpuh otak. Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa ketika lahir Fajar divonis dokter akan kesulitan segalanya. Tapi orangtuanya tidak putus asa, justru menganggap itu kemuliaan dari Allah untuk diteruskan.

“Ayahnya membacakan Al-Qur-an setiap Fajar disusui ibunya. Ketika Fajar pertama berbicara yang keluar adalah ayat-ayat suci Al-Quran. Kini dia sudah hapal 30 jus. Takbiiir...,” teriak Ustadz Adi Hidayat seraya disambut Allahu Akbar oleh ribuan umat Muslim yang memenuhi ruang shalat utama Masjid Istiqlal hingga lantai 4.

“Kita yang divonis otak sehat, seharusnya kita lebih semangat dari pada Fajar dalam menghafal al-Qur’an,” tambah Ustadz Adi Hidayat.

Selain itu ada Kamil dan Ahmad dua bocah Hafidz Indonesia 2017 serta generasi berikutnya Ibrahim dan Auf.

Baik Fajar, Kamil dan Ahmad serta Ibrahim dan Auf kemudian di-test hafalan Al-Quran-nya oleh Ustadz Adi Hidayat.

Mereka pun bukan hanya hafal nama surah dan ayat-nya pun sampai tahu halaman dan letak ayat tersebut di posisi kiri atau kanan. Begitupun ketika mereka di-test oleh tokoh dunia dan ahli Al-Quran dari Turki dan Yaman.

Pada kesempatan itu, sebanyak 20 penghapal Al-Quran selain mendapat hadiah naik haji gratis dari duta besar Saudi Arabia, mereka pun mendapat uang saku sebesar 5.000 USD.

Acara yang juga dihadiri presenter TV kondang Arie Untung dan istrinya Fenita, sejumlah duta besar, para ahli Al-Quran, dan Ustad Kasif Heer pemandu acara “La Tahzan” di MNC Muslim, serta si ayah kembar yang memiliki dua anak kembar yang juga penghafal Al-Qur’an ini berlangsung ba’da Asyar dilanjutkan dengan Shalat Maghrib berjamaah sampai Shalat Isya berjamaah berjalan lancar dan tertib.

Pantauan SiarMasjid yang datang dan meliput acara ini terlihat banyak anak muda, terlebih para orangtua yang tersentuh melihat para penghafal Al-Quran.

Berkat acara ini, terlebih melihat para hafidz anak-anak, mereka mengaku malu sekaligus terpacu untuk terus mempelajari dan menghafal ayat-ayat suci Al-Quran. Alhamdulillah…

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Seorang pemuda mengikuti acara Hari Al-Quran dari lantai 2 Masjid Istiqlal Jakarta.
2. Acara Hari Alquran 28 Januari 2018 di Masjid Istiqlal.
3. Megahnya Masjid Istiqlal dengan ratusan ribu umat Islamdi acara Hari Al-Quran.
4. 200 ribu lebih Muslimin dan Muslimat memenuhi Masjid Istiqlal sampai lantai 4 dan halaman luar dalam acara Hari Alquran.
5. Acara Hari Al-Quran sekaligus peluncurandan pembagian buku: "Muslim Zaman Now: Metode At-Taisir 30 Hari Hafal Al-Quran” karta Ustadz Adi Hidayat Lc Ma.

Senin, 04 Desember 2017

Gagal Bertemu Ustad Felix Siauw di Reuni 212, Akhirnya Bersua di Masjid Al Hidayah


“Yaa Allah berkahilah Negeri ini, jauhilah dari Asing dan Aseng. Aseng yang mana? Aseng yang menggerogoti perekonomian Negeri ini, bukan Aseng yang ada di depan kalian. Saya ini Aseng tapi saya tidak jahat atau menggerogoti perekonomian Negeri ini”.
Begitu rentetan kalimat singkat tapi tegas yang dilontarkan ustad kelahiran Palembang, keturunan Tionghoa-Indonesia, Ustad Felix Siauw (UFS) saat tampil di hadapan jutaan ummat Islam di panggung utama Reuni 212 di lapangan Tugu Monumen Nasional (Monas), Medan Merdeka, Jakarta, Sabtu (2/12/2017) yang berhasil saya rekam dari kejauhan.

Hari itu saya gagal memotret ustad berlabel Mbois (mbotak sipit) karena memang aslinya bermata sipit berusia 33 tahun itu, apalagi menemui dan mewawancarainya.

Saya tidak bisa mendekati panggung utama lantaran lapangan di depan panggung sudah melaut manusia.

Saking jauhnya, sedikitpun saya tidak bisa melihat ustad bernama lengkap Felix Yanwar Siauw itu.

Setelah ustad yang pernah menjadi penceramah di acara TV Nasional bertajuk “Inspirasi Iman” yang dipandu Oki Setiana Dewi dan Jarwo Kwat di TVRI ini selesai memberi sambutan, saya mendapat informasi dari seorang peserta Reuni 212 yang mundur ke belakang untuk membeli makanan.

Kata orang itu, UFS tadi tampil berdiri sambil memegang microphone dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya sambil mengacungkan salam satu jari, salam Tauhid, Lailahaillallah.

“Dia (UFS-red) mengenakan baju batik lengan pendek berwarna orange dan celana bahan berwarna hitam serta bertopi bundar berwarna abu-abu. Dia pun menyerukan takbir, lalu jamaah kompak berteriak Allahu Akbar,” kata orang itu.

UFS adalah salah satu alasan mengapa saya begitu bersemangat menghadiri Reuni 212 ini.

Bukan sekadar ingin berjumpa dengan penulis sejumlah buku antara lain “Beyond the Inspiration”, “Udah Putisin Aja”, “Yuk Berhijab”, dan “Khilafah Remake” ini, pun karena ada beberapa hal yang saya ingin tanyakan. 
Terutama soal penolakan ceramah pengajiannya di beberapa tempat. Selama tahun 2017, UFS sudah mendapat sekurangnya 6 kali penolakan.

Saya pun ingin tahu bagaimana dia mengatasinya hingga tetap tegar dan terus berdakwah.

Namun Allah SWT berkehendak lain. Saya belum diijinkan bertemu dengan ustad yang pernah berkuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) ini di special moment itu.

Sebenarnya, saya ingin menunggu sampai kerumunan massa perlahan menyusut, lalu menghampiri panggung utama untuk menemui ustad mualaf yang masuk Islam pada 28 Maret 2013 itu.

Tapi siang itu saya ada urusan lain, yakni menghadiri resepsi pernikahan pengantin 212, Robi dan Ima di Cilebut, Jawa Barat.

Meskipun hari itu saya berhasil mewawancarai beberapa pedagang dan peserta Reuni 212 serta mengabadikan beberapa objek menarik terkait suasana acara tersebut, kemudian kesampaian pula menghadiri pesta perkawinan sang pengantin 212 itu, namun tetap saja ada yang kurang. Ya, itu tadi gagal bertemu UFS.

Saat berada di dalam kereta commuter line, dalam perjalanan pulang dari Cilebut menuju Tanah Abang, saya membuka Instagram (IG).

Seketika saya mendapat informasi dari akun IG @mediamuslimin tentang acara Kajian Islam bertajuk ‘Antara Wahyu & Nafsu’ dengan penceramah utama UFS.

Acara tersebut akan berlangsung di Masjid Al Hidayah, Jalan Punai Raya, Sektor 2, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan pada Ahad, 3 Desember 2017 pukul 08.30-11.30 WIB.

Dalam hati berucap, mungkin ini jawaban doa saya. Allah tidak mengizinkan saya bertemu UFS saat Reuni 212, mungkin besok, Minggu di Kajian Islam tersebut.

Esoknya, Minggu pagi saya meluncur ke Masjid Al Hidayah dengan ojek online. Jaraknya cukup jauh, sekitar 10 Km tapi ongkosnya cuma Rp 12 ribu.

Saya pun memberi tambahan buat tukang ojek-nya sebagai tanda terimakasih karena sudah berhasil mengantarkan saya ke masjid tersebut.
Sewaktu tiba di masjid, terlihat sejumlah jamaah pria berada di bagian depan dan sayap kanan, sementara jamaah perempuan beserta anak-anak di bagian belakang.

Sayangnya, ustad yang pernah bergabung menjadi aktivis gerakan Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) itu sudah selesai menyampaikan kajiannya. Untungnya sesi tanya-jawab belum berlangsung.

Akhirnya sesi diskusi dimulai. Moderator memanggil UFS untuk tampil kembali. Dia duduk di kursi dan di depannya meja kayu berwarna coklat.

Spontan dalam hati saya berucap syukur. Alhamdulillah akhirnya bisa melihat langsung orang yang saya cari-cari.

Maklum selama ini saya hanya melihat UFS di akun IG-nya @felixsiauw sekaligus membaca sejumlah tulisannya yang cerdas dan tegas. Sekalipun saya belum pernah bertemu, mewawancari, dan memotretnya.

Hari itu, ayah 4 putri itu mengenakan baju batik lengan pendek berwarna biru telur asin dengan kombinasi kuning, hijau, putih dan coklat, bercelana panjang hitam serta bertopi bulat abu-abu. Nampak bersahaja.

UFS langsung menjawab beberapa pertanyaan para jamaah. Ada yang bertanya soal dakwah (baca: Ustad Felix Siauw: Berdakwah Lillahi Ta’ala Bukan Kerena Penguasa), acara Reuni 212 kemarin, dan lainnya.

Tepat pukul 11.00 WIB, UFS menyelesaikan jawabannya sekaligus menutup kajian. Setelah itu dia melayani para jamaah yang hendak meminta tanda tangan, bersalaman, dan berfoto bersama.

Saya pun langsung masuk ke dalam masjid, lalu mengabadikan semua moment itu. Kesempatan itu pun saya pergunakan untuk berfoto bersama dengannya kemudian mewawancarai secara singkat seputar kiat dalam berdakwah dan menghadapi pihak-pihak yang menentang. Semua diindahkan UFS dengan ramah.

Dulu semasa Ustad Zainuddin MZ (almarhum) berjaya dengan gaya ceramahnya yang khas hingga mendapat julukan da’i sejuta ummat, saya pun ‘mengejar’-nya ke beberapa tempat.

Begitupun saat awal mula Aa Gym berhasil memikat jutaan jamaah lewat ceramahnya yang sejuk dengan metode manajemen kalbu, saya pun ‘memburu’nya sampai ke Bandung.

Kini giliran UFS yang saya ‘incar’ (mewawancarai dan memotretnya), Alhamdulillah berhasil.

UFS boleh dibilang termasuk ustad jaman now lantaran sangat melek media sosial (medsos) antara lain Facebook, IG, dan Youtube, lalu memanfaatkannya sebagai salah satu wadahnya berdakwah.

Sebagai pendakwah, UFS punya daya tarik dan nilai jual tinggi.

Pertama jelas karena dia Aseng sebagaimana dia ungkapkan tanpa sungkan. Mungkin kalau UFS bukan keturunan Tionghoa, bisa jadi lain lagi ceritanya.

Kedua, lantaran beberapa kali ceramah pengajiannya dibatalkan lalu terekspos luas di media massa dan medsos hingga justru menjulangkan namanya.

Ketiga (ini yang terpenting), meskipun karakter atau gaya berceramahnya belum sekuat dua pendahulunya (Zainuddin MZ dan Aa Gym), namun harus diakui UFS berhasil membetot perhatian jamaah mulai dari anak-anak, terutama kaula muda, termasuk bapak-bapak dan ibu-ibu kekinian berkat tulisan-tulisan dan juga isi ceramahnya yang terang dan berisi.

Karena itu, ustad muda yang tengah naik daun ini laris diundang mengisi kajian Islam, ceramah di acara hari-hari besar Islam, dan pengajian di berbagai tempat di Indonesia.

Buktinya salah satu anak muda pengurus Masjid Al-Hidayah, Ardhi mengaku sudah lama panitia mengundang UFS untuk bisa mengisi kajian Islam di Masjid Al Hidayah ini, namun baru kali ini bisa dipenuhi.
“Sepertinya jadwal ceramah Ustad Felix padet banget,” ujarnya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Ustad Felix Siauw (UFS) di Kajian Islam yang diselenggarakan pengurus Masjid Al Hidayah, Bintaro, Sektor 2, Tangsel.

2. Gagal menemui UFS di Reuni 212 akhirnya berjupa di Kajian Islam Masjid Al Hidayah

3. Inilah UFS yang tengah naik daun meskipun sempat mengalami penolakan-penolakan saat berdakwah.

4. Jamaah ibu-ibu kekinian mengabadikan UFS dengan kamera HP.
5.  UFS melayani jamaah yang hendak meminta tanda tangan dan bersalaman usai berceramah.
6. Ekspresi UFS saat menjawab pertanyaan jamaah.
7. Berfoto bersamam pengurus Masjid Al Hidayah, Bintaro Jaya, Sektor 2, Tangsel.
8. UFS berfoto bersama para penggemarnya.

Ustad Felix Siauw: Berdakwah Ikhlas Lillahi Ta’ala, Bukan Karena Penguasa

Mendapat penolakan berdakwah beberapa kali, tak membuat Ustad Felix Siauw (UFS) melemah apalagi menyerah. Justru dia semakin kuat dan mantap untuk terus menyuarakan amar ma’ruf nahi mun’kar di Negeri ini.
“Berdakwah itu bagi saya kewajiban. Karena itu harus saya lakukan dalam keadaan apapun. Entah itu dalam keadaan baik maupun buruk, dalam keadaan mudah maupun susah,” ujarnya kepada SiarMasjid usai menjadi pembicara dalam Kajian Islam di Masjid Al Hidayah, Jalan Punai Raya, Sektor 2, Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Minggu (3/12/2017).
Menurut UFS pertama yang harus dilakukan dalam berdakwah adalah ikhlas.
“Jalankan saja dakwah dengan ikhlas pasti balasannya akan berlipat-lipat. Setiap ujian dalam berdakwah, pasti Allah kasih reward,” terangnya.
Selain ikhlas, lanjut UFS yang harus dipikirkan apakah dakwahnya sudah sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul; apakah sudah maksimal dalam menyampaikan kebaikannya/kebenarannya; apakah sudah dengan cara yang paling lembut atau belum; apakah sudah dengan cara yang paling baik, dan apakah sudah dengan cara yang paling maksimal atau belum.
“Kalau sudah semua, selesai sudah urusannya. Mengenai kemudian ada reaksi orang yang berbeda/bertentangan, itu urusan dia kepada Allah SWT,” tambahnya.
Selanjutnya, berdakwahlah karena Lillahi Ta’ala, bukan karena manusia termasuk penguasa.
“Berdakwah karena manusia itu bikin capek. Jadi berdakwalah karena Allah saja maka Insya Allah akan mendapatan ketenangan dan kebahagiaan yang langsung datang dari Allah SWT,” tambahnya.
Jika ada penolakan-penolakan, itu tidak serta merta berarti dakwahnya salah. “Pastikan dekat dengan ulama. Kalau ulama bilang jalan, Insya Allah jalan,” ungkapnya.
Kata UFS, tak usah mengasihani dirinya yang mengalami pengusiran  dimana-mana.

“Masya Allah, saya justru mendapat karunia yang sangat besar. Saya banyak mendapatkan kebaikan-kebaikan dari Allah,” ungkapnya.
UFS pun menambahkan bahwa orang yang mati di jalan Allah itu sejatinya dia hidup di sisi Allah, mendapat rezeki dari Allah.
“Jadi haram takut kepada manusia, takutlah pada Allah semata,” pungkasnya.
Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)