berita masjid masjid raya masjid unik masjid bersejarah surau ceramah profil

Minggu, 20 Maret 2016

Al-Hidayah, Masjid Tua Berwajah Muda

Sekilas melihat parasnya, Masjid Al-Hidayah yang berada di Dusun Cimuncang, Desa Jayagiri, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat ini seperti umumnya masjid baru era sekarang. Kesan modern terasa lebih mencuat. Tak ada sedikitpun citra klasik yang membuktikan kalau masjid ini sebenarnya termasuk masjid kuno. Wajah dan penampilannya yang muda, menutupi usia sebenarnya masjid ini yang sudah melampaui uzur, hampir 2 abad.

Keseluruhan bangunan Masjid Al-Hidayah berupa tembok batu bata dengan kubah utama besar di atapnya. Material kayu dan kaca hanya untuk pintu dan jendela yang bagian atasnya berbentuk melengkung. 

Cat luar dan dalam bangunan masjid yang terletak di tepi jalan utama dusun mungil ini, didominasi warna putih dengan kombinasi hijau tua dan muda serta kubah masjid dengan warna hijau terang agar mudah terlihat dari kejauhan. 

Sementara pagar masjid yang terbuat dari rangkaian besi dicat hitam dan sentuhan warna emas dengan tiang penyangga berwarna hijau tua. Di atas masing-masing tiang pagar, terpasang lampu hias bulat berwarna putih.

Ketika mendapat informasi dari Zainal Arifin, warga lokal yang paham tentang sejarah Masjid Al-Hidayah, terus terang Siarmasjid agak terkejut. "Masjid Al-Hidayah ini didirikan tahun 1860," kata Zainal yang juga merangkap salah satu imam di masjid ini, ba’da Shalat Jumat, (18/3).

Dulu, lanjut Zainal seluruh bangunan masjid ini terbuat dari kayu, berupa rumah panggung dengan lantai dari bilah bambu atau Palupuh dalam Bahasa Sunda.

"Pada jaman penjajahan Belanda, masjid ini kerap menjadi tempat pertemuan warga, rapat-rapat rahasia seperti itulah," ujar Zainal lagi.

Lantaran termakan usia, belum lagi adanya pergantian pemimpin desa, camat, dan bupati serta faktor lainnya, masjid ini pun mengalami perubahan dengan beberapa kali renovasi.

Pada tahun 2000 masjid ini berubah total, tak ada lagi sisa bangunan aslinya. "Pembangunannya ketika itu atas biaya swadaya masyarakat," terang Zainal.

Baru pada tahun 2008, masjid ini kembali direnovasi pada saat Kabupaten Ciamis dipimpin Bupati Engkon Komara hingga tampilannya terlihat seperti sekarang ini. Prasasti peresmian pembangunannya dari porselin, terpasang di tembok bangunan bagian belakang masjid, tertanggal 31 Maret 2008.

Selain Zainal Arifin, ada 4 orang lagi di masjid ini yang bertugas sebagai imam, yakni Iskandar, Ihin, Cece Jaya Sumantri, dan Wawan Darwan.

Ihin menambahkan masjid yang berdiri di atas  tanah wakaf  mampu menampung 1000-an jama’ah, termasuk di halaman depan.

Selain sebagai tempat melakukan ibadah shalat lima waktu, Jum'atan dan lainnya, masjid ini juga kerap menjadi tempat penyelenggaraan acara-acara Islami seperti Munggahan, Muludan, Tahun Baru Islam, Shalat Idul Fitri, Hari Raya Qurban, dan Shalat Idul Adha.

"Setiap Sholat Idul Fitri kami menebarkan kotak Tabarat atau tabungan akherat. Jumlah uang yang terkumpul dari jama'ah bisa sampai 40 juta Rupiah," kata Ihin yang juga pengajar Agama Islam di Desa Jayagiri ini.

Oman Rahmansyah, mantan Kepala Dusun Cimuncang sekaligus tokoh masyarakat setempat menambahkan saat Hari Raya Qurban, hewan yang terkumpul  dari warga di Masjid Al-Hidayah mencapai 10 ekor sapi  dan puluhan kambing. 

"Biasanya saat Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha banyak warga Dusun Cimuncang dan 4 dusun lain di Desa Jayagiri ini yang pulang kampung, jadi banyak yang Shalat I’ed di masjid ini," terang Oman.

Wawan Gunawan, putra daerah asli Dusun Cimuncang, Desa Jayagiri mengatakan belakangan ini Masjid Al-Hidayah juga dipakai untuk acara Manaqib yang digelar setiap bulan bekerjasama dengan Pondok Pesantren (Ponpes) Sirnarasa pimpinan Abah Gaos yang melestarikan dan mensyiarkan ajaran Islam lewat metode Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah.

Apa itu Manaqib?  KH Bisri Mustofa dari Ponpes Nurul Huda  dalam tulisannya menjelaskan Manaqib itu bentuk jamak dari mufrod manqobah, yang di antara artinya menceritakan kebaikan amal dan akhlak perangai terpuji seseorang.

Oleh sebab itu kata-kata Manaqib hanya khusus bagi orang-orang baik mulia seperti Manaqib Umar bin Khottob, Manaqib Ali bin Abi Tholib, Manaqib Syeikh Abdul Qodir al-Jilani, Manaqib Sunan Bonang, dan lain sebagainya. 

“Tidak boleh dan tidak benar kalau ada orang berkata Manaqib Abu Jahal, Manaqib DN. Aidit, dan lain sebagainya,” terangnya dalam tulisan tersebut.

Menurut Wawan sudah 9 kali acara Manaqib diadakan di Masjid Al-Hidayah sejak Juni 2015. 

“Meskipun terdengar kabar miring tentang adanya penolakan dari segelintir warga. Namun kegiatan Islami ini tetap berjalan," kata Wawan yang tak lain dalang Wayang Ajen ini.

Bahkan 2 kegiatan Manaqib di masjid ini, lanjut Wawan didukung Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara (DBP3N), Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dengan label kegiatan Festival Wisata Budaya Religi Manaqib.

"Besok, festival wisata budaya religi tersebut dilaksanakan di Masjid  Al-Hidayah pada Sabtu (19/3). Festival ini sekaligus  bertujuan memperkenalkan branding promosi pariwisata nusantara Pesona Indonesia," jelas Wawan lagi.

Salah satu faktor lain mengapa Manaqib ini digelar di Masjid Al-Hidayah, kabarnya salah satu orangtua Abah Gaos berasal dari Desa Jayagiri ini.

Kebetulan lagi juga jarak tempuh Ponpes Sirnarasa yang berada di Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, masih Kabupaten Ciamis ke Masjid Al-Hidayah sekitar 1 jam.

Iskandar, imam lainnya menjelaskan Masjid Al-Hidayah merupakan satu-satunya masjid di Desa Jayagiri. Sementara jumlah mushola ada 5 di masing-masing dusun.

"Mumpung ada orang dari Pemerintahan Pusat dalam hal ini Kementerian Pariwisata, kami berharap halaman masjid diberi atap canopy agar jama’ah yang Shalat Jum’at terlebih Sholat Idul Fitri dan Idul Adha tidak kebasahan jika hujan turun," harap Iskandar.

Mendengar permintaan itu, Wawan yang juga berprofesi PNS di Kemenpar dengan jabatan Kasubit Promosi Wisata Sejarah dan Religi, Asdep Pengembangan Seqmen Pasar Personal, Deputi DBP3N ini mengatakan Kemenpar hanya fokus memberikan dukungan promosi seperti peliputan media, penyediaan spanduk, baliho, dan lainnya dalam setiap kegiatan yang berkaitan dengan wisata.

"Untuk pendanaan pembangunan masjid dan lainnya, tepatnya diajukan ke pimpinan pemerintah daerah setempat, dalam hal ini ke Bupati Ciamis," imbau Wawan.

Usai mendengar asal muasal Masjid Al-Hidayah, kegiatan, dan juga harapan para pengelolannya, Siarmasjid melanjutkan melihat-lihat lebih detil raut wajah masjid ini.

Di halaman depan masjid, tepatnya di bagian kiri ada salah satu tempat mengambil air wudhu yang beratap kubah juga berwarna hijau.  

Di bagian kirinya ada bedug tua yang menjadi satu-satunya bukti masjid ini adalah masjid tua. Bedug dari kulit sapi itu diletakkan di atas wadah kayu di dalam bangunan yang bentuknya serupa dengan tempat ber-wudhu, agar tidak kehujanan dan kepanasan.

Di ruang dalam masjid ada empat pilar dari batu bata berlapis porselin berwarna coklat muda  yang menyangga atap bangunan sekaligus kubah utamanya. Sederet kaligrafi tertulis di dinding dalam bagian atas berwarna kuning dengan dasar lagi-lagi warna hijau.

Dinding depan bagian dalam masjid ini juga dilapisi porselin coklat muda. Di tengahnya terdapat ruang khusus imam yang menjorok ke dalam. 

Di samping sajadah khusus imam, berdiri mimbar untuk khotib berceramah saat Shalat Jumat, Idul Fitri, dan Shalat Idul Adha. Mimbar tersebut berdesain replika masjid berikut kubahnya dari kayu yang keseluruhan bercat warna putih.

Sementara di samping kanan ruang imam, terdapat jam besar dari kayu berwarna coklat tua.  Atap kubah bagian dalam juga berwarna hijau dengan tulisan kaligrafi di tepiannya. Lampu hias klasik tergantung dari atap kubah bagian dalam, menambah manis rona wajah bagian dalam masjid ini.

Secara arsitektur, Masjid Al-Hidayah memang biasa-biasa saja. Tak ada sesuatu yang menonjol atau unik. Namun melihat umurnya, tentu masjid ini punya kelebihan tersendiri. Itulah yang membuat Siarmasjid tertarik mengupasnya.

Nah, Kalau Anda berkunjung ke Desa Jayagiri, Kabupaten Ciamis untuk bertandang ke rumah saudara atau kenalan, berwisata ziarah, mendaki Gunung Sawal ataupun belanja aneka ikan tawar, jangan lupa luangkan waktu untuk menunaikan shalat wajib dan sunah di Masjid Al-Hidayah, agar kunjungan Anda lebih bermakna.

Salam Satu Jari, Salam Tauhid, Salam Siarmasjid, LAILAHAILLALLAH…

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com)


Senin, 18 Januari 2016

100 Mualaf Pedalaman Papua Dikhitan IMS

Di awal tahun 2016 ini, sebanyak 100  orang Papua pedalaman yang sudah masuk Islam atau mualaf dikhitan (disunat). Keseratus mualaf  itu terdiri atas 20 mualaf dewasa dan 80 mualaf usia anak-anak dan remaja.

Khitanan yang digelar Islamic Medical Service (IMS) bekerjasama dengan Badan Pengelola Zakat, Infaq, Sedekah Bank Mandiri (BPZIS Mandiri) ini berlangsung di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatullah Sorong, Papua selama 2 hari, Sabtu dan Ahad (16-17/1/2016). Selain sunatan massal, kegiatan sosial ini juga memberikan penyuluhan kesehatan dan pengobatan.

Ketua Tim IMS Dokter Syaifuddin Hamid mengatakan kendati bukan liburan sekolah, namun antusias peserta dan orangtua untuk mengkhitankan anak-anaknya cukup tinggi. “Padahal tempat tinggal sebagian besar peserta jaraknya lumayan jauh,” kata Syaifuddin.

Sebelum khitanan, tim medis IMS tidak lupa memberi arahan kepada seluruh peserta tentang manfaat khitan serta perawatan kesehatan pascakhitan agar tidak terjadi infeksi. 

Saat prosesi khitan berlangsung, sesekali terdengar suara tangis terutama anak-anak karena takut dan menahan sakit. Usai disunat secara cuma-cuma, setiap peserta mendapatkan bingkisan  berupa alat shalat dan uang saku.

Thomas (40), seorang mualaf penerima manfaat khitan massal bersyukur dengan kegiatan sosial ini. "Alhamdulillah ada saudara kami dari jauh, meskipun belum pernah berjumpa dengan kami tapi peduli dengan kesehatan kami di sini," aku Thomas dengan nada senang.

IMS  merupakan lembaga kesehatan Nasional milik Ormas Islam Hidayatullah. Setelah menggelar khitanan massal gratis di Papua, dalam waktu dekat juga akan melakukan  hal serupa di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar).

Humas IMS Imron Faizin dalam keterangannya menjelaskan IMS saat ini memang tengah fokus pada program khitanan massal mualaf. “Banyak para mualaf dhuafa yang tersebar di Indonesia yang belum dikhitan. Setelah masuk Islam, tentu khitan adalah hal yang wajib dilakukan. Sementara belum banyak lembaga sosial yang menggarap program khitan untuk para mualaf ini,” ungkap Imron.


Tahun lalu, tepatnya pada 28 Juni 2015, IMS melakukan sunatan massal di Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, Sumbar, tepatnya di Klinik IMS Mentawai yang berlokasi di komplek Islamic Center Syekh Shaleh ar-Rajh.

Pesertanya sebanyak  158 orang yang terdiri  dari 100 orang mualaf dewasa dan 58 orang anak-anak. Ketika itu peserta khitanan massal paling muda berusia lima tahun sedangkan yang tertua 65 tahun.

Setelah dikhitan, para peserta mendapatkan bingkisan berupa peralatan shalat dan uang saku. Data IMS menyebut sejak tahun 2014 telah mengkhitan para mualaf dan dhuafa Mentawai sekitar 500 orang.

Berdasarkan catatan siarmasjid, khitanan massal para mualaf di Papua sudah berlangsung cukup lama. Sebelumnya pada tahun 2010 Al Faatih Kaaffah Nusantara (AFKN)), sebuah lembaga sosial dan dakwah yang peduli terhadap kegiatan dakwah di daerah pedalaman, terutama di Bumi Nuu Waar (sebutan lain dari Papua) telah menyelenggarakan khitanan massal bagi 7.500 umat muslim dan pengobatan dengan cara pengobatan ala Nabi atau Tibbunnabawi.

Masjid Patimburak
Sejarah mencatat, Islam masuk pertama kali ke Papua di bagian baratnya, tepatnya di Kabupaten Fak Fak. Islam masuk ke tanah Cendrawasih ini sekitar tahun 1520-an lewat daerah pesisir yang dibawa oleh para pedang Islam di bawah pengaruh  Kesultanan Tidore.

Bukti sejarahnya, di kabupaten seluas 38.474 Km2 terdapat Masjid Patimburak yang masih berdiri kokoh dan digunakan untuk beribadah.

Sebenarnya nama masjid yang dibangun pada tahun 1870 oleh imam pribumi bernama Abuhari Kilian ini bernama Masjid Al-Yassin. Namun belakangan lebih dikenal sebagai Masjid  Patimburak sesuai loaksinya yang berada di Patimburak, pesisir Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat.
Keistimewaan masjid berukuran tak lebih dari 100 meter ini arsitekturnya cukup unik, perpaduan antara sentuhan Nusantara dan Eropa. Di dalamnya, ada empat tiang penyangga, seperti tiang soko guru pada bangunan masjid di Pulau Jawa yang didirikan para wali.  Dari luar, bentuk bangunannya seperti bangunan gereja. Kubahnya juga mirip kubah gereja di Eropa. 
Untuk menuju masjid ini dari Fakfak ke Kokas yang berjarak sekitar 50 Km dapat ditempuh sekitar 2 jam dengan angkutan umum luar kota dari Terminal Kota Fakfak. Kondisi  jalan yang dilalui berkelok-kelok namun berpemandangan indah dengan udara sejuk khas pegunungan yang bikin segar. Tiba di Teluk Kokas, perjalanan dilanjutkan dengan perahu sewaan longboat selama 1 jam melewati rangkaian pulau karang.

Naskah: Adji Kurniawan (kembaratropis@yahoo.com) & IMS
Foto: dok. IMS & Kemenag

Selasa, 07 April 2015

Jabar Bakal Miliki 99 Miniatur Masjid di Dunia

Provinsi Jawa Barat (Jabar) dalam waktu dekat akan memiliki objek wisata Islami baru berskala internasional sekaligus sebagai pusat interaksi umat Islam di dunia. Di  obyek wisata religi yang diberi nama  Taman Miniatur Masjid Dunia ini akan dibangun 99 miniatur masjid yang ada di dunia.

Ide untuk membangun kawasan miniatur 99 masjid di dunia dalam satu kawasan tersebut, datang dari penggagas sekaligus Ketua Yayasan Amanah Kita, Hartono Li Min.

Pria mualaf  ini menjelaskan Taman Miniatur Masjid Dunia tersebut rencananya akan dibangun di kawasan seluas 215 hektar, tanah miliknya. Lokasinya berada di Cariu, Desa Cibadak, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor, Jabar.

Menurutnya di lokasi tersebut akan dibangun bukan hanya puluhan masjid, pun berbagai fasilitas lainnya seperti univeritas unggulan Islam, perpustakaan Islam, museum, tempat rekreasi berikut lokasi kuliner dan souvenir khas dari negara dimana miniatur masjid tersebut berasal.

“Disamping 99 masjid, di kawasan itu nantinya juga akan dibangun satu masjid besar yang ditempatkan di tengah kawasan. Masjid tersebut ditargetkan dapat menampung hingga 200 ribu jamaah,” terang Hartono usai menemui Gubernur Jabar Ahmad Heryawan di Gedung Pakuan, Jalan Otto Iskandardinata 1, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.

Mengenai pendanaan, Hartono memperkirakan pembangunan destinasi wisata Islami itu bisa mencapai lebih dari Rp 6 triliun.Anggaran pembangunannya nanti juga ada dari investor asing dari negara-negara Timur Tengah antara lain Qatar, Yordania, dan Saudi Arabia. Saya tanahnya sedangkan perijinan dari pemerintah,” ungkapnya.

Hartano menambahkan saat ini sudah masuk ke persiapan awal. Kalau tidak ada rintangan target pembangunan selesai dalam waktu 4 tahun.

Adapun tujuan pembangunan kawasan yang disebut Taman Miniatur Masjid Dunia ini, lanjut Hartono adalah untuk melestarikan budaya Islam yang ada di dunia. Menurutnya hal ini pantas dilakukan karena Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar.

Dalam kesempatan itu, Hartono meminta Gubernur Jabar Ahmad Heryawan yang akrab disapa Kang Aher untuk berkenan masuk kedalam jajaran Pembina Yayasan Amanah Kita.

Kang Aher sempat memuji gagasan Hartono ini sebagai sebuah ide yang unik dan mengagumkan. Menurutnya, kawasan religi gagasan Hartono dapat menjadi wisata pemandangan masjid yang tidak hanya akan menyegarkan pikiran, namun juga meningkatkan ketakwaan bagi pengunjungnya.

“Idenya istimewa sekali. Dalam bayangan saya ke tempat pariwisata biasanya kita fresh. Tapi disana (Taman Miniatur Masjid Dunia), kita tidak hanya fresh tapi takwa sekaligus. Sebab ketika Dzuhur tiba, adzan berkumandang di semua masjid yang ada disitu. Dan kemudian diimbau ke semua pengunjung supaya sholat bersama-sama dalam satu jamaah. Itu yang kemudian unik,” papar Kang Aher.

Jika pembangunan Taman Miniatur Masjid Dunia ini terwujud, berarti akan menambah destinasi wisata religi Islami di Indonesia. Sebelumnya Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan pemerintah akan menjadikan tiga provinsi sebagai destinasi wisata Islami yakni Aceh, selanjutnya Sumbar dan NTB.

Tahap pertama pemerintah sudah meluncurkan Banda Aceh sebagai World Islamic Tourism di Jakarta akhir Maret lalu.

Menurut Arief pasar muslim dunia saat ini mencapai 1,5 miliar. Kalau 20 persennya saja masuk ke Indonesia sudah berapa triliun per tahun devisa dari wisatawan khusus wisata muslim saja. “Untuk meraup pasar tersebut, salah satu caranya dengan membuat destinasi wisata Islami,” ungkap Arief. 


Naskah & foto: adji kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Senin, 06 Oktober 2014

Gaya Al Azhar Memorial Garden Membahagiakan Masyarakat

Al Azhar Memorial Garden (AMG) kembali membuktikan komitmennya untuk senantiasa dekat, melayani, dan membahagiakan masyarakat. Pemakaman Islam super modern yang dibangun pada tahun 2011 di wilayah Teluk Jambe, Karawang, Jawa Barat ini memberikan beragam pelayanan bagi masyarakat sekitar.

Disamping melakukan banyak kegiatan sosial seperti penyaluran  bantuan, sosial, penyaluran zakat fitrah, pelaksanaan renovasi masjid, Al-Azhar Memorial Garden juga telah memperbaiki jalan yang rusak parah diseputar wilayah Jalan Raya Peruri, lokasi dimana pemakaman ini berada, serta membuka lapangan kerja dengan prioritas masyarakat disekitar area pemakaman.

Pada Hari Raya Idul Adha tahun ini,  Al-Azhar Memorial Garden melengkapi kebahagian masyarakat sekitarnya dengan memotong hewan qurban yang hasilnya dibagikan untuk masyarakat sekitar area pemakaman dan juga bagi para dhuafa yang pelaksanaannya dikelola bersama Masjid Nurul Falah, Teluk Jambe .

Direktur Utama Al-Azhar Memorial Garden, Nugroho Adiwiwoho menyampaikan komitmennya bahwa Al Azhar Memorial Garden juga merasa sangat terbantu oleh dukungan masyarakat sekitar. “Hal ini  membuat kami  semakin yakin bahwa konsep melayani dari Al Azhar Memorial Garden adalah juga berarti melayani aktivitas ibadah masyarakat setempat dengan sebaik baiknya,” ujar Nugroho saat melakukan serah terima hewan kurban berupa satu ekor sapi kepada pengurus Masjid Nurul Falah.

Menurut Nugroho selalu bermanfaat dan memberi inspirasi bagi masyarakat sekitar area Al Azhar Memorial Garden merupakan bukti salah satu komitmen Al Azhar Memorial Garden  dalam melayani ummat secara luas.  “Berbagai bentuk pelayanan yang lebih luas bagi masyarakat sekitar saat ini sedang kami rancang agar  manfaatnya dapat berkesinambungan,” terangnya.

Pemakaman Berbasis Syariah
Al Azhar Memorial Garden  merupakan kawasan pemakaman berbasis Syariah pertama di Indonesia. Kawasan seluas 2 hektar ini dilengkapi beragam fasilitas dan layanan berkalitas antara lain taman pemakaman eksklusif, masjid, padang rumput asri buat outdoor activity, parkir yang luas dan walkaway track serta lounge and playground.

Pemakaman Islam papan atas yang berakses utama langsung jalan tol Jakarta Cikampek Rest Area KM 52 ini menawarkan pelayanan berkelas antara lain keamanan dan kenyamanan, service 7 X 24 jam dalam seminggu, layanan di rumah duka mulai dari memandikan, mengkafani, mensholatkan sampai dengan keberangkatan menuju lokasi, layanan mobil jenazah, dan upacara pemakaman yang khidmat sesuai dengan syariah.

Pemakaman ekslusif ini terdiri atas beberapa tipe. Ada tipe single, double, family, super double, super family,dan tipe royal zone.

Tipe single  berukuran 1,5 m X 3 m dengan luas tanah 4,5m persegi untuk 1 jenazah. Sedangkan tipe royal zone berukuran 14,8 m X 14,7 m dengan luas tanah 217,56 m persegi untuk 10 jenazah.  

Naskah: adji kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: dok. AGM

Captions:
1.     Penyerahan hewan qurban 2014 dari AMG.
2.   Pemakaman Ekslusif khas AMG.

Jumat, 27 Juli 2012

Ke-Magic-kan Masjid Al Alam Marunda Diburu Peziarah


Menyebut Marunda  di ujung Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, banyak orang lantas merujuk ke Rumah Si Pitung, rumah bekas Robin Hood-nya Betawi tempo doeloe. Masih ada satu lagi bangunan yang juga dikait-kaitkan dengan sang jawara bergolok dan bersarung ini, yakni Masjid Al Alam Marunda yang juga disebut Masjid Si Pitung. Apa hubungan antara Si Pitung dengan masjid yang berdasarkan beberapa catatan sejarah dibangun Fatahillah pada tahun 1527 ini?

Tokoh Betawi, Alwi Shahab pernah mengatakan bahwa Masjid Al Alam Marunda didirikan oleh Fatahilah atau Sunan Gunung Jati dan pasukannya padaabad ke-18 tepatnya tahun 1527 M, setelah mereka berhasil mengusir Portugis di Sunda Kelapa-Jakarta dulu.  Masyarakat Marunda, terangnya ada yang berkeyakinan bahwa Fatahillah membangun Masjid Al-Alam hanya dalam sehari.

Menurut Alwi lagi, dulu banyak tentara tentara Demak yang bersembunyi dari kejaran Belanda di masjid ini. Si Pitung dan jawara dari tanah Betawi lainnya seperti Si Ronda, Si Jampang, dan Si Mirah pun bersembunyi di masjida dan mereka semua lolos dari kejaran.

Berkat sejarah yang menyebutkan kalau masjid ini dibangun oleh salah seorang Walisongo dan memiliki ke-magic-kan, tak heran banyak peziarah yang berasal dari berbagai daerah datang ke masjid ini. Kehadiran para peziarah ini jelas mendatangkan keuntungan bagi masyarakat sekitar masjid dengan membuka warung kelontong dan warung makan.

Meski berukuran kecil seperti mushola yakni berukuran sekitar 64 meter persegi. Namun arsitektur masjid yang juga disebut Masjid Aulya Marunda ini cukup menarik, paduan antara gaya Islam-Jawa Pesisir, Arab dan Eropa. Gaya Jawa Nampak dari  atapnya yang berbentuk joglo bertingkat dua. Atapnya berbentuk joglo yang diditopang 4 pilar bulat buntek.

Gaya Arab terlihat dari lengkungan di mihrab yang mengambil pola ukiran kaligrafi. Mihrabnya seukuran badan yang menjorok ke dalam tembok,  letaknya di sebelah kiri mimbar. 

Sedangkan gaya Eropa dari bentuk empat tiang bulat yang menopang atap masjid. Arsitekturnya sepintas seperti bangunan Masjid Demak. 

Masjid ini juga unik, kendati luas bangunan 10 x 10 meter namun berplafon setinggi 2 meter dari lantai dalam.
Di bagian kiri Masjid, dulunya merupakan kolam yang digunakan untuk mencuci kaki sebelum masuk masjid, seperti kolam yang ada di Masjid Agung Banten Lama. Bedanya, kolam di Masjid Agung Banten Lama terletak di bagian depan halaman masjid.

Sayangnya  kolam  di Masjid Al Alam itu  sudah tertutup ubin berwarna merah dan sebuah sumur yang juga sudah ditutup. Uniknya lagi kendati tempat wudhu barunya berjarak sekitar 100 meter dari bibir pantai  namun airnya tetap tawar.

Masjid ini mengalami beberapa renovasi. Namun masih ada beberapa bagiannyayang masih asli. Di antaranya tembok di ruang utama masjid yang tebalnya sekitar 27 cm dan hiasan jendela yang terdapat di ruang buat imam. 

Sedangkan benda kuno yang masih tersimpan sampai saat ini adalah sebuah tongkat berukir melingkar seperti ular yang hanya dikeluarkan setiap hari Jum’at untuk khutbah.  Konon, tongkat tersebut datangnya misterius, tiba-tiba datang ke masjid ini lewat air.

Sewaktu penulis mengunjungi masjid yang berada di tepi Pantai Marunda ini, ada puluhan pengunjung yang datang. Mereka selain menunaikan kewajiban Shalat Ashar juga berdoa minta sesuatu yang diharapkan. “Saya sengaja ke sini berharap enteng jodoh,” kata Rani yang datang dari Tangerang.

Tadi sebelum ke sini, Rani sempat mampir ke rumah pitung. “Sayang,  rumah Si Pitung-nya sepi dan rada kurang terawat,” katanya. 

Berdasarkan catatan sejarah, sejak tahun 1975, Masjid Al-Alam Marunda dan Rumah Si Pitung, dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya. Dan sejah 2009 Pemkot Jakarta Utara memasukan dua bangunan bersejarah itu dalam 12 tempat tujuan wisata di bilangan Utara Jakarta.

Naskah & foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Kamis, 26 Juli 2012

Ke Curug Malela, Singgahlah ke Mesjid Jami Assibyan

Mungil tapi bersih.

Kalau menyebut Curug Malela mungkin para pegiat alam bebas, tourism blogger, dan petualang di Bandung dan Jabodetabek tak begitu asing, lantaran informasinya sudah mulai banyak di internet. Tapi kalau menyebut Mesjid Jami Assibyan mungkin segelincir saja yang tahu. Maklum, informasinya amat minim. Lalu apa hubungannya antara curug yang berjuluk Niagara Mini-nya Indonesia dengan mesjid itu?

Kalau ditilik secara geografis, jelas kedua obyek yang sangat  berbeda ini, yang satu obyek wisata alam yang belakangan kian diminati turis lokal dan mancanegara  karena keindahannya, dan satunya lagi tempat peribadatan muslim ini jelas ada hubungan.

Mesjid Jami Assibyan berada di Kampung Simpang, tepatnya di RT01/RW03, Desa Bunijaya, Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.  Sekitar 100 meter  dari pertigaan antara ke Cianjur, Bandung, dan arah ke Curug Malela. Posisinya agak ke dalam, lewat gang kecil yang di kiri kanannya rumah penduduk.

Sedangkan Curug Malela berada di Kampung Maglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, masih di Jawa Barat.

Pertigaan Kampun Simpang di mana terletak tak jauh dari Mesjid itulah tempat pemberhentian pengunjung yang hendak melanjutkan perjalanan ke Curug Malela setelah menempuh waktu perjalanan sekitar 3 jam dari Terminal Lewi Panjang, Kota Bandung dengan bis ¾.

Biasanya pengunjung menunaikan kewajibannya Shalat Zuhur  di Mesjid Assibyan  sesampainya di pertigaan simpang sebelum ataupun sesudah menikmati pesona Curug Malela. Lokasi Curug Malela dari pertigaan tersebut masih sekitar 2 jam lagi dengan ojek sepeda motor dan dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Seperti yang dilakukan beberapa serdadu (anggota) Kembara Tropis (KT)_ sebuah komunitas pegiat alam bebas  yang berbasis di Jakarta, sepulang bermalam di Curug Malela. 
Plang persimpangan.

Selepas makan siang di sebuah rumah makan di depan raya pertigaan simpang tersebut, serdadu  Marno, Ratna, Iwoe, Ana termasuk saya menunaikan Shalat Zuhur di Mesjid Jami Assibyan. Sementara 2 serdadu KT lainnya Lestari dan Tuti menunggu di depan warung makan tersebut karena sedang berhalangan.

Usai mendapat informasi letak mesjid dari pemilik rumah makan tersebut, kami pun bergegas. Setelah menyeberang jalan, kemudian masuk gang, barulah nampak atap dan bagian belakang  mesjid ini.

Dari namannya saya pikir mesjid ini berukuran besar dan megah sebagaimana masjid jami umumnya. Ternyata ukurannya tidak begitu besar, lebih menyerupai mushola.

Interiornya juga amat sederhana. Tidak ada lampu besar apalagi kristal sebagaimana masjid besar. Arsisitekur masjid bergenting tanah liat ini berjenjang pada atapnya. Di bagian puncak atapnya ditempatkan kubah kecil dari bahan seng. Di antara jenjangnya ditempatkan speker atau alat pengeras suara azan.

Di halaman belakang masjid ini dekat depan persimpangan gang, tertancap plang nama mesjid ini. Yang justru cukup menarik, persis depan mesjid ini kira-kira sekitar 15 meter, mengalir Sungai Cicadas yang berair bening saat musim kemarau. Sumber air untuk kolam dan wudhu jamaah mesjid ini diambil dari sungai tersebut dengan cara dialirkan dengan  pipa plastik.

Saat kami tiba di mesjid itu, sepi. Tidak ada satupun jamaah apalagi pengurus mesjid. Mungkin waktu shalat zuhur berjamaah sudah selesai.  Tak lama kemudian ada dua orangtua yang mampir dan zuhuran di masjid tersebut. Keduanya nampak bukan orang asli Kampung Simpang ini.

Usai zuhuran, saya berniat beramal. Tapi kotak amal yang saya cari, tidak ada satupun. Entah mungkin tidak disediakan atau disimpan oleh pengurusnya untuk mengantisipasi pencurian.
4 Serdadu KT berpose.

Sebelum kembali ke rumah makan semula, kami sempat mengabadikan mesjid mungil ini. Tak lupa foto bersama di bawah plang-nya.

Kendati kecil dan tak megah, keberadaan mesjid ini amat membantu pengunjung yang hendak melaksanakan kewajibannya. Dan satu lagi, sekalipun ukurannya kecil, kebersihan masjid ini cukup terjaga. Di halamannya tak ada sampah yang berserakan.

Nah, jika Anda kebetulan berwisata ke Curug malela dan melewati pertigaan Kampung Simpang ini, tak ada salahnya mampir ke Mesjid  Jami Assibyan untuk shalat dan menikmati sejuknya air wudhu yng diambil dari Sungai Cicadas yng mengalir di depan mesjid tersebut.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Senin, 23 Juli 2012

Ngabuburit di Sekitar Masjid Lebih Ajib



Lokasi ngabuburit sambil berburu kuliner untuk berbuka puasa di Jakarta memang banyak pilihan. Ada mall, taman, pasar dan lainnya. Dari semua itu yang paling ajib tentu saja  tempat di sekitar masjid. Jadi usai santap takjil, bisa terus Shalat Magrib berjamaah di masjid, baru kembali ke lokasi untuk berbuka puasa dengan lebih santai.

Di Jakarta menjamur lokasi sentra kaki lima untuk berbuka puasa, namun yang dekat dengan masjid ataupun musholla hanya ada beberapa tempat. Di Jakarta Selatan, misalnya ada di kawasan Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru.

Lokasi makannya di belakang Masjid Agung Al Azhar yang di luar bulan puasa dikenal sebagai tempat nongkrong anak muda. Dari sekian pedagang kaki lima yang ada di sisi kantor Departemen Pekerjaan Umum ini, Roti Bakar Edi Blok M yang paling tersohor.

Usai membatalkan puasa dengan takjil dan shalat maghrib di Masjid Al Azhar, tinggal jalan kaki, tak sampai 3 menit sudah sampai di deretan warung tenda Roti Bakar Edi dan lainnya. Setelah berbuka, lanjutkan saja shalat Isya dan taraweh di masjid bercat putih yang berdekatan dengan Universotas Al-Azhar ini.

Pilihan lain berbuka di kawasan Bulungan samping Blok M Plaza. Di Sana ada deretan pedagang gule tikungan atau gultik dan ayam bakar Gathari yang tersohor. Kalau mau shalat magrib tinggal ke Mushola Gelanggang Olahraga Bulungan, sekitar 50 meter.

Di Jakarta Pusat lebih banyak pilihan. Sebut saja pedagang kaki lima di dekat Masjid Sunda Kelapa, Menteng. Pada bulan puasa, orang mulai berdatangan pukul 16.00 untuk duduk di dalam masjid, di taman di luar warung makan sambil menunggu magrib. Setelah azan magrib pengunjung biasanya menikmati air kelapa kemudian shalat magrib dan dilanjutkan berbuka di pedagang kaki lima setempat.


Beragam makanan dan minuman yang dijajakan pedakang kaki lima di samping masjid ini. Ada gudeg Jogja, sate dan soto Padang, mendoan Purwokerto, serabi Bandung, bakwan Malang dan bubur ayam. Sedangkan minumannnya antara lain es kelapa, sup buah, es buah, aneka jus buah, es teler, kolak, es krim, es camcau, es cendol, dan dawet ayu.

Masih di Menteng, tepatnya di seberang Masjid Al Hakim, Jalan HOS Cokroaminoto, ada tempat makan yang tertata rapi dan tiap malam ramai dikunjungi penggila kuliner. Ada skitar 20 gerobak penjual makanan di tempat ini lengkap dengan meja dan bangku serta payung tenda. Makan yang dijual sangat variatif antara lain dim sum, sate padang, bubur, nasi goring gila, dan siomay serta aneka jus.

Pilihan lainnya di Masjid Cut Mutia, Menteng yang suasananya teduh dengan kerindangan pohon-pohon besar di halaman masjid. Pengunjung bias berbuka di pedagang kaki di tepi masjid atau di Stasiun Gondangdia yang terletak hanya beberapa puluh meter dari masjid yang berkubah unik berarsitektur Belanda yang dibangun Belanda pada abad 19 ini.

Jenis makanan dan minuman yang dijual di masjid yang sempat jadi landmark-nya Menteng ini cukup beragam. Ada mie jawa, nasi goreng, sate padang, ketoprak, nasi padang, warteg, sop, tongseng, sate kambing, dan es kelapa.

Lokasi lainnya di pedagang kaki lima di sekitar Jalan Agus Salim atau kawasan Sarinah, di sana ada Masjid Al Hikmah Sarinah, belakang Jakarta Teater. Di sini banyak pedagang kaki lima seperti sate, soto ceker ayam bu gendut, rumah makan Ampera, dan lainnya.

Masih di Jakarta Pusat, tepatnya di kawasan Kemayoran, Ada lokasi yang biasa menjadi tempat ngabuburit sekaligus berbuka dekat Masjid Akbar Kota Bandar Baru Kemayoran. Di samping masjid dan sepanjang trotoarnya, sederet warung makannya ramai didatangi orang untuk berbuka puasa.


Masjid Istiqlal juga menjadi lokasi ngabuburit warga jakarta dan luar jakarta. Di sebelah barat masjid ini ada penjual makanan dan minuman anatra lain nasi pecel dan nasi rames. Sementara di Jalan Veteran di seberang masjid ini ada Ice Cream Robusta, pempek merdeka, dan sejumlah café & resto.

Pun di dekat Stasiun Juanda masih di seberang masjid terbesar di Indonesia ini, ada sejumlah pedagang makanan dana minuman seperti es kelapa, mie ayam, warteg, nasi padang, dan lainnya.

Di Jakarta Utara, lokasi ngabuburit dengat masjid yang paling ramai ada di depan Masjid Islamic Center. Di trotoar depan gapura atau pintu gerbang masjid yang beridiri di eks lokalisasi Kramat Tunggak, Tanjung Priok  ini ada sejumlah pedakang kaki lima yang menjual aneka makanan dan minmuan seperti soto ayam, bubur nasi, sate padang, es kelapa dan lainnya.

Geliat para penjual kuliner khas Nusantara di sekitar masjid-masjid di Jakarta ini biasanya dimulai sekitar pukul 15.00 WIB. Puncak keramaian warga yang datang menikmati sajiannya hingga usai shalat tarawih.

Naskah &  Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)