berita masjid masjid raya masjid unik masjid bersejarah surau ceramah profil

Selasa, 19 Juli 2011

Masjid Agung Kendari Berkubah Kaligrafi Asm’aul Husna


Masjid Agung Al Kautsar Kendari jadi salah satu kebanggaan masyarakat Sulawesi Tenggara (Sultra), khususnya warga Kota Kendari. Maklum, selain menjadi masjid termegah di bumi anoa ini, pun sebagai pusat kegiatan dakwah dan budaya Islam Sultra. Apa keistimewaannya?

Masjid Agung Al Kautsar berdiri di alun-alun Kota Kendari, di atas bukit  dengan luas lahan 2,5 hektar. Arsitekturnya bergaya rumah tradisional Sultra dengan sentuhan modern. Yang menarik di samping masjid  ini terdapat Menara Persatuan Kendari yang  dibangun khusus untuk penyelengaraan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-21 tahun 2006. Menara ini menjadi salah satu landmark kota bermoto bertakwa ini.

Lokasi Masjid Agung Al Kautsar dulunya bekas sebuah masjid kecil bernma Masjid Korem atau juga dikenal dengan nama Masjid Tentara yang berdiri tahun 1962. Selanjutnya pada 1976, dibuat pondasi dasar Masjid Agung Al Kautsar era pemerintahan Gubernur H Alala.

Yang menarik, kubah masjid agung ini berhias kaligrafi 99 Asma’ul Husna, berupa lukisan-lukisan indah huruf Arab yang bertuliskan sederet nama-nama agung Allah SWT. Kaligrafinya berwarna-warni indah dan meneduhkan hati. Di setiap dindingnya  juga terlukis lafadz zikir, mengagungkan Allah SWT.

Nah, selepas berwisata di Museum Provinsi Sultra atau di Teluk Kendari yang menjadi lokasi Festival Teluk Kendari (Festek) setiap tahun, tak ada ruginya luangkan waktu singgah dan shalat di masjid yang berada di Jalan Abdullah Silondae, Kota Kendari ini.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Minggu, 17 Juli 2011

Sentuhan Kontemporer Masjid Sahid Nurul Iman


Kendati termasuk masjid berukuran kecil, Masjid Sahid Nurul Iman punya pesona sendiri. Arsitikturnya bergaya kontemporer dengan desain modern minimalis. Alhasil banyak yang mengaguminya. Tak heran kalau Diva Pop Indonesia Krisdayanti jatuh hati dan melangsungkan pernikahan dengan Raul di masjid ini,  Maret 2011 lalu.

Arsitektur masjid yang berada di Jalan Jend Sudirman Kav. 86, tepatnya di belakang Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta ini beda dengan kebanyakan masjid lain. Ada keistemewaan tersendiri meski ukurannya tidak besar.

Bangunan masjid berlantai dua ini didominasi kaca sebagai dindingnya sehingga memberi kesan lapang dan terang pencahayaannya. Banyak ruang terbuka di setiap sisinya sehingga sirkulasi udaranya lebih sempurna.

Di lantai dasar pada bagian depan (kiblat) terdapat kolam yang dilengkapi dengan air mancur. Yang menarik posisi mimbarnya terbuka dan menjorok ke kolam tersebut. Lantainya membentuk letter U. Kubahnya berada di bagian tengah dengan ornamen kaligrafi berwarna-warni.

Sementara lantai dua yang dicapai dengan tangga di sisi belakang selain menjadi tempat solat juga sebagai perpustakaan.


Setiap hari masjid ini ramai jamaahnya, terutama tamu dan karyawan Hotel Grand Sahid Jaya dan perkantoran di sekitarnya. Tadaruss Al-Qur’an berjamaah setiap Rabu, ba’da zuhur menjadi salah satu aktivitas di masjid yang diresmikan 14 Maret 2010 lalu ini.

Nah, kalau Anda kebetulan sedang melintasi jalan utama di Jakarta ini dan sudah tiba waktu masuk solat, singgah saja ke masjid yang letaknya di samping Hotel Davinci. Anda pasti menemukan sentuhan lain dari arsitektur kontemporer modernnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Senin, 11 Juli 2011

Enam Payung Otomatis Masjid Agung Jawa Tengah


Arsitektur Masjid Agung Jawa Tengah  (MAJT) mengadopsi  gaya masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi  yakni berupa 6 payung raksasa yang dapat terbuka dan tertutup secara otomatis.  Masjid yang teretak di Jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Semarang  bagian Timur ini, kian ramai dikunjungi wisatawan untuk berjamaah usai mengunjungi obyek-obyek wisata religi di Jawa Tengah dan sekitarnya.

Keistimewaan lain masjid di lahan seluas 10 hektar ini adanya Menara Asmaul Husna atau Al Husna Tower setinggi  99 meter.

Masjid yang dibangun pada 2001 sampai  2006 ini, peresmiannya dilakukan Presiden SBY pada 2006 dengan penandatanganan prasasti  batu alam dari lereng Gunung Merapi  yang diletakkan di  pelataran depan masjid. 

Arsitektur masjid ini memadukan gaya Jawa, Arab, dan Yunani. Arsitektur Jawa nampak di bagian dasar tiang masjid dengan motif batik seperti kawung, tumpal, parang-parangan, dan untu walang. Arsitektur Arab berupa hias kaligrafi di  dinding masjid dan  tentu saja  6 payung hidrolik raksasa di pelataran masjid yang dapat memayungi 10 ribu jamaah.

Di lantai dasar tower ini terdapat Studio Radio Dais atau Dakwah Islam. Sedangkan di lantai 2 dan 3 sebagai Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah. Di lantai 18 dimanfaatkan untuk Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat. Sementara di lantai 19 merupakan menara pandang yang dilengkapi 5 teropong untuk melihat panorama Kota Semarang dan suasana Pelabuhan Tanjung Mas.

Di masjid ini  tersimpan Al qur`an raksasa tulisan tangan H. Hayatuddin, penulis kaligrafi dari Universitas Sains dan Ilmu Al-qur`an, Wonosobo. Di bagian lain ada replika beduk raksasa buatan para santri Pesantren Alfalah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas.

Masjid  berkapasitas total sekitar 15 ribu jamaah ini  juga dilengkapi dengan penginapan 23 kamar berbagai kelas, toko souvenir dan buah-buahan, convention hall,  perpustakaan, ruang kantor, pemandu wisata, lapangan parkir yang luas, air mancur, dan arena bermain anak antara lain naik kereta kelinci mengelilingi komplek masjid.

Untuk memasuki kawasan masjid ini, pengunjung tidak dipungut biaya. Tapi kalau ingin masuk Al Husna Tower dikenakan tarif Rp 3.000 per orang berlaku pukul 8 pagi  sampai pukul  5 sore. Kalau malam hari tarifnya  Rp 4.000 per orang.  Untuk melihat pemandangan bisa sewa teropong  Rp 500 per menit.
Nah, kalau Anda sedang berwisata, berbisnis atau keperluan lain di Semarang, luangkan waktu untuk solat wajib dan sunah di MAJT, pasti Anda akan mengagumi arsitektur dan kemegahannya selain tentunya   kedamaian beribadah jama'ah di rumah Allah SWT.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Rabu, 10 November 2010

25 Menit Masjid Istiqlal Jadi Sorotan Dunia


Nama Masjid Istiqlal Jakarta mendunia lantaran kedatangan tamu tak biasa. Ya, Rabu pagi (10/11/2010), Presiden AS, Barrack Hussein Obama dan istrinya Michelle datang ke masjid terbesar di Asia Tenggara ini bertepatan dengan Hari Pahlawan. Kehadiran orang nomor satu di negara adi daya itu jelas menjadi perhatian dunia dan turut melambungkan nama masjid megah ini. Lalu makna apa saja yang didapat dari kunjungan sang presiden yang semasa kecilnya di Menteng suka makan bakso, sate, dan nasi goreng ini?

Obama dan Michelle tiba di Masjid Istiqlal, Jakarta pukul 08.25 WIB. Keduanya disambut Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Sewaktu masuk, dia (Obama) langsung mengucapkan Assalamualaikum. Kemudian  Ali menjawabnya Waalaikum salam dan selamat datang di Tanah Air Anda yang kedua.

Ketika hendak memasuki bagian dalam masjid, Obama melepas sepatunya, begitupun ibu negara AS Michelle yang sejak semula sudah mengenakan kerudung. Kedua orangtua dari Sasha dan Malia ini kemudian berjalan memasuki beberapa bagian dalam masjid. Setiap sudut atau bagian tertentu, keduanya mendapat penjelasan dari Ali secara detil. Mereka seolah sedang melakukan tur religi, sedang Ali sebagai pemandu wisatanya.

Kepada keduanya, Ali menjelaskan bahwa Masjid Istiqlal merupakan sebuah simbol kemerdekaan Islam di Indonesia yang melarang umat manusia untuk menindas satu sama lainnya.

Ketika memasuki bagian dalam, Obama terpesona dengan  Kubah Masjid. “Dia menyukainya seraya menunjuk kubah perak berdiameter 45 meter dan bertuliskan kaligrafi ayat Kursi itu,” terang Ali.

Dia sempat bertanya arti tulisan kaligrafi "Laa ilaaha illallah" yang ada di dalam masjid. Dan saya menjawabnya itu artinya 'tiada tuhan selain Allah," jelasnya lagi.


 Dari bagian dalam, bawah kubah besar yang dikelilingi 12 tiang masjid, ali mengantar keduanya menuju pelataran Selatan lantai utama untuk melihat bedug dan menara Istiqlal.

Ali menerangkan kepada keduanya  bahwa bedug itu  alat pukul  tradisional Indonesia yang sudah dipakai sebelum Islam masuk ke negeri ini. Setelah Islam masuk, bedug  digunakan untuk mengajak orang menunaikan ibadah sholat dengan cara dipukul dengan tongkat pemekul dari kayu.

Saat menunjukkan menara Istiqlal, Ali pun menjelaskan kalau menara setinggi 66,66 meter itu perlambang jumlah ayat suci dalam Alquran. “Sedang  besi menara setinggi 30 meter personifikasi dari jumlah juz dalam Alquran,” terangnya.

Tentu tur keliling singkat Obama dan Michelle di Masjid Istiqlal berbeda dengan orang biasa, bahkan dengan presudin Austria sekalipun yang datang kemudian. Keduanya  dalam awasan super ketat "Secret Service" yang mengikuti mereka dari belakang. Para tamu dan wartawan hanya diijinkan cukup sampai lantai dasar masjid.

Makna Kunjungan
Kunjungan Obama dan Michelle ke Masjid Istiqlal jelas memberi banyak makna tersendiri bagi Indonesia. Ketersediaan keduanya melepas sepatu, dan Michelle mengenakan jas lengan panjang hujau muda dan celana panjang pipa warna senada serta menutup kepalanya dengan kerudung bermotif dengan dasar warna putih, itupun membuktikan mereka menghormati peraturan yang berlaku bagi setiap tamu yang datang ke tempat ibadah umat Islam.

Tapi anehnya, ada pihak menilai makna kedatangan keduanya justru hanya untuk mengambil hati umat islam Indoneisa termasuk dunia.  Benarkah? Menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin, tudingan itu muncul bukan tanpa sebab. Obama, sambung Din, setahun lalu saat berpidato di Mesir berjanji akan memperbaiki hubungan baik antara AS dengan dunia Islam namun kenyataannya belum diwujudkan.

Di balik benar atau tidaknya tudingan itu, yang pasti, kunjungan Obama dan Michelle ke Masjid Istiqlal meski tak sampai setengah jam, pun menjadi simbol hubungan manis antarpenganutagama dan secara tidak langsung membawa pesan positif buat umat Islam.

Bukankah dalam kesempatan itu, Obama juga berjanji akan membantu sebuah perkumpulan muslim di Amerika, Indonesian Muslim Association in America (IMAAM). Akankah ditepati? Walahu'alam bi shahab, hanya Allah yang Maha Tahu.

Kini, selepas kepulangan Obama, Michelle, dan pasukan keamanannya yang serasa paling hebat di dunia, aktivitas Masjid Istiqlal kembali berjalan seperti semula. Masjid ini terus memberi banyak manfaat buat bangsa Indonesia, dan terasa semakin memesona.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Kamis, 04 November 2010

Si Hijau Muda Simbol Pembauran Damai di Pulau Rote


Kalau Anda berwisata ke Pulau Rote, jangan hanya menyaksikan sunset dari atas Bukit Termanu, berjemur di hamparam pasir putih di Nembrala yang berjuluk Kuta-nya Pulau Rote, atau berselancar di Bo’a saja. Tak ada salahnya Anda mampir ke Desa Papela untuk melihat dari dekat  komunitas Islam pembauran antaretnis, sekaligus  sholat fardhu di masjid yang hampir keseluruhannya bercat hijau muda terang, yakni Masjid Jami Papela. 

Masjid ini didirikan oleh komunitas yang tinggal di pesisir pantai ini yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Jawa, Madura, Bugis, dan Bajo dari Kendari, Sulawesi Tenggara yang cukup mendominasi dan tentu saja warga asli. Populasi penduduk di Papela saat ini sekitar 1.000 jiwa.

Orang bugis berada di tempat ini sejak tahun 1980an. Haji Haseno diklaim sebagai orang Bugis pertama yang tiba di Papela. Selanjutnya komunitas Bugis berbaur dengan masyarakat setempat hingga terjadi perkawinanan antaretnis. Sementara orang Bajo di Papela  tetap mempertahankan kebiasaan mereka  membangun tempat tinggal di pinggiran pantai.

Selain Masjid Jami, di Papela juga terdapat Masjid Ghoir dan sebuah TK Islam yang baru dirintis. Dulu pernah dibangun sebuah madrasah namun terbengkelai. Di belakang Masjid Jami berdiri Mercusuar yang kerap dijadikan sebagai pemandu nelayan yang melaut pada malam hari, termasuk para pelaut yang melintasi perairan Papela. 

Tips Perjalaan

Masjid Jami Papela berada di Papela yang berjarak 50 Km arah Timur Ba'A, ibu kota Kabupaten Rote Ndao, Pulau Rote. Dari Kupang ke Rote di Kecamatan Pantai Baru dengan angkutan laut dan feri, setiap hari .Naik feri 'Express Bahari' Rp 105.000 AC waktunya 2-3 jam. Rute lain ditempuh dengan perahu motor, dari Pelabuhan rakyat (Pelra), seperti di Papela-Kecamatan Rote Timur, Oelaba-Kecamatan Rote Barat Laut, Batutua-Kecamatan  Rote Barat Daya, dan Ndao-Kecamatan Pulau Ndao. Kemudian dilanjutkan dengan kendaraan roda empat ke Papela. Sewa mobil Rp 600.000, jarak Kota Ba'a ke Papela sekitar 4-5 Km. Biasanya mobil angkot yang disewa. 

Luas Pulau Rote hanya 1.214,3 Kilometer persegi dengan populasi sekitar 102.000 jiwa. Ada 6 kecamatan, di dalamya yakni Kecamatan Rote Barat Daya (17 desa), Rote Barat Laut (15 desa dan 1 kelurahan), Lobalain (11 desa dan 3 kelurahan), Rote Tengah (11 desa dan 1 kelurahan), Pantai Baru (10 desa dan 1 kelurahan), dan Kecamatan Rote Timur (9 desa dan 1 kelurahan). Selain Masjid Jami Papela, masih ada beberapa masjid lain di sejumlah kecamatannya.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Sumber & Foto:  Tuti Widiastuti

Kamis, 28 Oktober 2010

Kisah Masjid-Masjid Perkasa dari Bencana


Banyak masjid yang terkenal karena memiliki keindahan arsitekturnya, kesejarahannya atau keunikannya. Tapi ada juga yang namanya tersiar luas justru karena keperkasaannya dari amukan bencana gempa, tsunami, dan air bah. Masjid apa saja?

Berdasarkan pantuan siarmasjid di sejumlah lokasi terjadinya bencana gempa yang kemudian disusul tsunami maupun air bah, ada tiga masjid perkasa yang masih berdiri utuh sampai saat ini.

Pilihan pertama adalah Masjid Baiturrahim di pinggir Pantai Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Masjid ini merupakan satu-satunya bangunan yang tetap berdiri kokoh meski diterjang gelombang dasyat tsunami beberapa tahun silam. Padahal bangunan rumah dan lain di sekitarnya rata dengan tanah.

Berkat keperkasaan masjid yang berdiri tahun 1342 Hijriah ini, kini banyak wisatawan yang berdatangan untuk sekadar mengetahui kisah keperkasaannya atau keajaibannya itu. Ada juga yang sengaja datang untuk melihat dan memotret arsitekturnya maupun melakukan ibadah shalat dan lainnya.

Di depan gapura masjid ini, ada plang persegi empat berwarna putih dengan tulisan hitam berbahasa Indonesia, Arab, dan Inggris yang berbunyi “Perhatian: Anda memasuki kawasan wajib mengenakan busana muslim/muslimah”.

Yang juga menarik perhatian, di depan sebelah kiri masjid ini ada plang bercat biru bertuliskan Zona Bahaya Tsunami lengkap dengan gambar orang sedang berlari ke bukit menghindari riak tsunami. Di bawah gambarnya, ada tulisan putih dalam bahasa Aceh dan Indonesia yang berbunyi meunyoe geumpa rayeuk plung laju ke teumpat yang manyang, bek to laot yang artinya “jika terjadi gempa segera menjauhi pantai/lari ke tempat yang tinggi”.

Masjid perkasa kedua Masjid  Jabalur Rahmah di Situ Gintung, Cireundu, Tangerang Selatan, Banten. Masjid yang diresmikan oleh seorang berdarah Aceh H. Teuku Abdullah Laksama, 26 Mei 2007 ini masih berdiri kokoh meskipun deretan rumah di sekitarnya hanyut tersapu derasnya luapan air akibat tanggul Situ Gintung Jebol tahun lalu.

Pascajebolnya tanggul, masjid ini menjadi tontonan warga yang datang berduyun-duyun menyaksikan keperkasaannya. Meski bangunannya tidak begitu besar, namun selama penanggulangan bencana, masjid ini digunakan untuk menampung bahan bantuan dari para dermawan, berupa pakaian, obat-obatan, dan mie intsan.

Masjid ketiga pilihan siarmasjid adalah Masjid Shiraatul Jannah di Kabupaten Garut, tepatnya di Kampung/Desa Tarikolot, Kecamatan Cikelet.

Masjid yang dibangun oleh Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP) pada Juli 1995 lalu itu mampu bertahan dari guncangan gempa yang melanda daerah itu beberapa waktu lalu. Padahal bangunan di sekitarnya seperti rumah penduduk dan kantor desa ada yang hancur dan retak-retak.

Selama penanggulangan pascagempa, masjid yang terawat bersih ini  menjadi  lokasi pengungsian. Di halaman masjid didirikan beberapa tenda untuk tempat teduh sementara sejumah pengungsi ketika itu.

Ketiga masjid itu perkasa itu kini masih berdiri setelah direnovasi. Mudah-mudahan cerita keperkasaan ketiga masjid di atas membuat kita semakin yakin akan kebesaran dan kekuasaanNya. Mungkin dengan berkunjung  dan shalat fardhu di salah satu masjid tersebut atau bahkan ketiganya, akan kian mempertebal keimanan kita.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (siarmasjid@gmail.com)

Sabtu, 16 Oktober 2010

Memuji Si-Putih Masjid Agung Al Azhar


Bangunannya tidak seluas masjid raya lain di Jakarta, tapi Masjid AL Azhar punya keeksotisan tersendiri dari arsitekturnya maupun warna cat dindingnya yang didominasi putih. Masjid ini pun menjadi saksi sejarah perkembangan Kota Jakarta.

Masjid Al Azhar mulai beridiri di atas  seluas 43.755 meter2 pada tanggal 19 November 1953 oleh  Yayasan Pendidikan Islam (YPI) yang beranggotakan 14 tokoh Masumi atas anjuran Mr Syamsudin, Menteri Soial RI saat itu.

Pembangunannya selesai tahun 1958 dan diresmikan dengan nama Masjid Agung Kebayoran. Pada era sekitar 1960-an, rektor Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, Prof. Dr. Mahmud Shaltut memberikan ceramah terbuka di masjid ini. Dia sangat terkesan dengan kemegahan masjid ini ketika itu. Dia pun menyarankan untuk memberi nama mesjid ini menjadi Masjid Agung Al Azhar. Sejak itu nama masjid ini menjadi Masjid Agung Al Azhar.

Masjid ini kemudian dikukuhkan oleh Pemda DKI Jakarta sebagai salah satu dari 18 situs tapak sejarah perkembangan kota Jakarta.  Dan per tanggal 19 Agustus 1993 statusnya naik menjadi cagar budaya nasional.

Setiap hari, jamaah masjid ini tak pernah sepi. Selain pelajar, mahasiswa, juga para pekerja kantoran di sekitar kawasan tersebut yang kerap menggunakan masjid ini untuk shalat fardhu. Tak sedikit pengunjung yang datang untuk mengabadikan keindahan arsitekturnya yang bergaya Turki. Ada juga yang bilang bangunannya mirip Taj Mahal India.

Tips Perjalanan
Masjid Agung Al Azhar berada di kompleks sekolah Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.  Dalam komplek masjid ini juga ada sebuah Universitas Al Azhar Indonesia.  Lokasinya sangat strategis. Persis di belakang halte bus Transjakarta busaway, koridor I rute Blok M - Kota. 

Di jalan raya belakang masjid, berseberangan dengan gedung Kementerian Pekerjaan Umum banyak terdapat pedagang aneka kuliner yang sudah familiar dikalangan pecinta kuliner di Jakarta, antara lain Roti Bakar Edi.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (siarmasjid@gmail.com)